"Wah, akhirnya mereka menikah juga."
San menyunggingkan senyuman tipisnya ketika Wooyoung dalam dekapannya berceletuk rendah. San sedang sibuk memainkan surai hitam lembut Wooyoung disaat pemuda itu begitu terpaku pada tontonan drama. Percayalah, sudah dua jam lebih dirinya duduk di depan layar, San bahkan tidak mengerti apa inti dari ceritanya. San lebih fokus pada tubuh mungil Wooyoung yang bersandar di dadanya dengan nyaman sembari memangku se mangkuk popcorn, mengunyahnya tanpa henti.
Wooyoung memang seorang pencinta drama tingkat akut, sedangkan San hanya sedang mencoba menjadi kekasih yang baik dengan menemani pemuda itu melakukan hobby-nya.
Sebelumnya San bahkan tidak pernah tertarik untuk menonton film atau drama, itu sangat membosankan—begitu baginya. Tapi semenjak mengenal seorang Jung Wooyoung, San jadi menantikan moment-moment seperti ini setiap ia pulang kerja. Anehnya pula, perlahan San sendiri mulai menikmati kegiatan membosankan ini, seperti sekarang contohnya. Hanya diam berdua, bersama Wooyoung, saling berpelukan sembari memberikan komentar tentang alur cerita tanpa perlu memikirkan hal lain apapun diluar sana.
"Ending-nya tidak seperti yang aku harapkan," gumam Wooyoung, terkesan sedikit kecewa.
"Kenapa ? Menurutku ini ending yang realitis."
Pemuda itu mengeluarkan decakan sebal karena San tidak sependapat dengannya. "Itu karena kau tidak mengikuti ceritanya dari awal. Menurutmu menikah dengan seseorang yang sudah berusaha menghancurkan kehidupanmu itu sesuatu yang realistis ?" Ia menunjuk si pemeran utama pria dengan jari telunjuknya kesal. "Apa kau tahu kalau pria ini sangat menyebalkan ? Dia selalu berusaha balas dendam dan menghancurkan hidup seorang wanita sebatang kara yang tidak bersalah dari episode awal ? Penulis script-nya sangat payah, bagaimana bisa mereka berpikir memberikan kisah romantis untuk mereka berdua ? Harusnya pemeran utama wanitanya menikah dengan second lead pria yang dari episode awal selalu menolongnya. Tsk, dasar gadis malang."
"Sayang, ini hanya drama."
"Tetap saja. Aku tidak setuju mereka menikah."
San tertawa gemas, ia terlalu tidak habis pikir dengan Wooyoung yang berlebihan. Membawa sebuah drama ke dalam realita sangat tidak masuk di akal San. Terlebih, San baru tahu kalau seorang pemuda yang ia kenal dingin dulu sangat cengeng kalau membahas soal drama. Percayalah San pernah melihat Wooyoung menghabiskan satu kotak tisu hanya karena salah satu adegan pemakaman di film yang mereka tonton. Ia juga sering melihat air mata Wooyoung menetes diam-diam hanya karena scene sedih dalam drama yang bahkan menurut San tidak ada apa-apanya.
"Ngomong-ngomong, San-ah ?" Pemuda itu kembali memanggilnya dengan nada manja.
San menundukkan sedikit pandangannya untuk mengagumi wajah Wooyoung lebih dekat sebelum menyahut pelan sebagai jawaban. "Hmm ?"
"Apa kau pernah berpikir untuk menikah ?"
"Tiba-tiba ?"
San terkejut. Sejauh mereka bersama, tidak biasanya Wooyoung bertanya hal-hal seperti ini.
Soal menikah, San tidak pernah memikirkan itu dulu. Tapi jujur, akhir-akhir ini bayangan akan kehidupan pernikahan sempat terbesit dipikiran San. Hanya sepintas, ketika San sedang sendiri dan merenung di kantor. San benci mengatakan ini, tapi drama yang sering ia tonton bersama Wooyoung sedikit banyaknya mempengaruhi caranya berpikir tentang sebuah pernikahan.
Kadang San merasa ada yang kurang dalam hubungannya dengan Wooyoung. Sesuatu yang mengganjal ketika harus dikaitkan dengan cerita dalam drama. Keduanya saling mencintai, dan juga tinggal dalam satu atap, tidur dikasur yang sama, tapi tetap saja, San hanya seorang kekasih dimata Wooyoung. Ini mungkin terdengar egois, tapi sungguh, ada beberapa waktu dimana San ingin memiliki Wooyoung sepenuhnya. San ingin suatu hubungan yang lebih dari sekedar 'kekasih'.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)