"Ayah ?"
Langkah San terhenti didepan pintu. Eskpresinya begitu terkejut, tidak mengekspetasikan kehadiran lelaki tua itu di depan pintu apartemennya setelah pertengkaran dingin mereka beberapa hari lalu.
"Ah, apa kami menganggu waktumu ? Apa kau mau keluar sekarang ? Kenapa kau terlihat buru-buru ?"
Wanita paruh 50 di samping sang Ayah bersuara, keduanya nampak rapi dan elegan dengan setelan mahal yang selalu mereka kenakan kemana-mana. Bahkan di umur yang tidak lagi muda, wanita itu masih memakai sepatu hak tinggi dikedua kakinya. Panggil saja dia Ahn Myunghee atau sekarang di kenal dengan Nyonya Choi alias Ibu sambung San.
"Tidak mempersilahkan Ayah dan Ibumu masuk ?"
San yang melamun seketika tersontak dengan nada perintah dari sang Ayah. San menggeser tubuhnya, memberikan sedikit akses jalan menuju ke dalam. San melihat jam arloji di pergelangan tangannya, ia sudah berjanji pada Wooyoung ia akan kembali ke rumah sakit kurang lebih satu setengah jam setelah sedikit berberes, tapi sepertinya ini akan panjang.
"Kami sudah datang berkali-kali dari kemarin, tapi kau tidak ada di rumah. Mau kemana pagi-pagi ?"
Sang Ayah mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu. Bola matanya menatap San dengan tatapan menuntut sebuah jawaban. Sebenarnya hubungan Ayah dan anak itu tidak terlalu buruk, hanya saja di beberapa waktu mereka bisa terlihat tidak akrab dan canggung satu sama lain tanpa alasan pasti.
"San-ah, bisakah kau duduk sebentar saja ? Ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu, janji tidak akan lama," pinta Nyonya Choi dengan pelan, wanita itu menyadari ada ketegangan di sini.
San mengikuti permintaan sang Ibu, lebih tepatnya Ibu tiri. San tidak ada masalah khusus dengan istri baru dari Ayahnya itu. Mereka juga sempat tinggal berdampingan selama bertahun-tahun sebelum ia memutuskan pindah ke Seoul, dan selama itu, sang Ibu memperlakukannya cukup baik. Ya, meskipun kalau harus jujur, kadang masih ada beberapa hal yang membuat San sulit menerima Nyonya Choi.
Terlebih di waktu San harus kembali mengingat bagaimana nasib malang Ibu kandungnya sendiri.
"Ada masalah apa ? Aku kira kalian sudah pulang kembali ke Amerika dari kemarin," ucap San.
Senyum miring sang Ayah mengejek. "Memangnya kenapa ? Kau ingin kita cepat-cepat pulang supaya tidak ada lagi yang ikut campur urusanmu dengan pria yang kau panggil kekasihmu itu ? Begitu ?"
"Sayang, jangan seperti itu." Nyonya Choi menoleh pada sang suami pelan. "Kita sudah sepakat untuk bicarakan ini baik-baik kemarin. Kau sudah janji."
Telapak tangan San mengepal di sisi tubuh ketika mendengar ucapan sang Ayah. Harusnya San tahu kalau alasan dari kedatangan sang Ayah tidak akan jauh-jauh dari pertengkaran mereka yang terakhir.
Tentang San dan Wooyoung.
"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan baik-baik. Dia seperti ini karena aku terlalu lembut padanya. Anak ini bahkan tidak peduli bagaimana kondisi Ayah dan Ibunya karena sibuk mengurusi kekasih prianya itu." Tuan Choi menghembuskan nafas berat. "Harusnya sejak awal aku tidak boleh membiarkanmu kembali ke Seoul sendirian. Waktu itu kau hanya ingin menemui wanita itu sekali, tapi kau sekarang kau memilih tinggal disini selamanya setelah dia meninggal. Ibumu memintaku mencoba menghargai keputusanmu karena dia bilang kalau kau sudah dewasa, tapi malah ini yang kau lakukan di belakang kami ? Apa kau sama sekali tidak malu dengan semua yang sudah kau lakukan ini, hah ?"
San bersumpah ia tidak ingin lagi membahas hal yang sama. Hidupnya baru terasa bahagia setelah Wooyoung kembali padanya. Belum sampai juga satu hari penuh sang Ayah ingin kembali mengusik dan menghancurkan semuanya. San memang telah berjanji pada Wooyoung akan bicara dengan sang Ayah, tapi setelah melihat bagaimana temperamen lelaki itu, ia berpikir kalau itu tidak ada gunanya.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)