Wooyoung bersumpah ia sangat tidak sudi jalan berdampingan dengan Choi San. Dari awal detik pertama mereka turun dari mobil sampai ketika mereka sudah berada didalam market, San terus menempel pada Wooyoung. Terus mengikutinya kemana pun ia melangkah, persis seperti anak ayam yang takut akan kehilangan induknya.
'Sial, kenapa aku mengiyakan permintaannya tadi ?' sesal Wooyoung berkali-kali dalam hati.
Beruntung San membantu Wooyoung mendorong troli belanjaan, kalau tidak sudah pasti ia lebih memilih jalan jauh-jauh dari pria itu. Kelakuan San membuat keduanya beberapa kali malah mendapat lirikan penasaran dari orang-orang yang lewat. Ya, bagaiman tidak ? Bola mata San tidak lepas dari Wooyoung. Jangan lupakan senyum mesum pria itu yang sudah membuat orang lain salah paham.
Wooyoung sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan San. Wooyoung tidak memberikan perhatikan pada pria itu, ia berpura-pura tidak mengenal meskipun keduanya berdiri samping-sampingan. San mungkin bisa bersikap tidak peduli, hanya saja sayang itu tidak berlaku bagi Wooyoung, ia tidak nyaman dengan tatapan mata intimidasi orang-orang yang tertuju pada mereka.
"Kau suka kesemek ? Aku juga suka."
Wooyoung meletakkan kembali buah kesemek yang sempat ia ambil dari rak buah. Wooyoung sengaja, agar San tidak bisa membuat percakapan diantara mereka. Sudah cukup sedari tadi San terus mencoba bertanya tentang setiap hal yang Wooyoung sentuh. Pria itu benar-benar pantang menyerah untuk mendapatkan sebagian perhatian Wooyoung meskipun sudah diabaikan berkali-kali.
"Kenapa kau membeli banyak sekali wortel ? Aku tidak suka wortel ngomong-ngomong," ujar San.
Kali ini Wooyoung berada di bagian sayur, dan lagi-lagi San mengoceh—lebih tepatnya merajuk. Sedari tadi San terus memerintah Wooyoung, pria itu menyuruhnya membeli ini, jangan membeli itu. San mungkin sudah lupa kalau Wooyoung sedang berbelanja untuk dirinya sendiri, bukan untuk pria itu. Atas dasar apa Wooyoung harus peduli apa yang San suka dan tidak suka ? Bukan urusannya.
"Tidakkah sayur-sayur ini terlalu banyak ? Aku rasa kau bahkan sudah bisa memberi makan satu peternakan didesa dengan ini," cibir San lagi saat melihat Wooyoung menambah banyak sayuran hijau dalam troli belanjaan dan mengabaikannya.
San benci sayuran hijau, sangat benci. Maksudnya, masih banyak makanan enak diluar sana, lantas mengapa orang-orang masih memakan daun tidak berasa seperti itu ? San tahu semua belanjaan ini bukan untuk mengisi kulkasnya, tapi tetap saja ia tidak suka melihatnya. Kedua bola mata San baru berbinar terang ketika merasa perlahan berjalan di bagian daging-dagingan. Ini lebih baik dari sayur.
"Ah, beli daging sapi yang banyak agar kita bisa bbq di rumah," seru San terlampau antusias.
"Ahjussi, tolong berikan aku dua kilo daging babi."
Senyum San luntur begitu mendengar penuturan Wooyoung pada Paman penjual daging. Wooyoung mengabaikan San untuk yang kesekian kalinya.
"Wooyoung-ah, aku mau daging sapi."
Seluruh atensi San kini menghadap penuh pada Wooyoung, namun pemuda itu masih enggan meliriknya. San benar-benar merasa Wooyoung memperlakukannya seperti makhluk tak kasat mata. Tidak bisa dilihat dan tidak bisa didengar. Tentu saja San mulai kesal, ia tidak pernah satu kali pun diperlakukan seperti ini seumur hidupnya.
Sayangnya, seberapa dongkolnya San, ia tidak akan pernah bisa meluapkan amarahnya. Entahlah, Wooyoung memiliki sejenis guna-guna yang membuat San luluh setiap melihat wajahnya.
Seperti sekarang.
"Ahjussi, tambahkan satu kilo daging sapi, tolong pilihkan juga bagian yang empuk," pinta San.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)