Ch.82 - Malam Terakhir

1.3K 83 10
                                        

Wooyoung duduk di tapi kasur masih dengan raut cemberut, ia kesal. Bagaimana tidak ? Wooyoung menggigil kedinginan karena ulah San dan lagi, ia harus melewatkan sunset karena pria itu menarik keduanya dari pantai untuk cepat mencari tempat penginapan terdekat. Bayangkan betapa anehnya ekspresi wajah resepsionis di bawah saat melihat kondisi San dan Wooyoung yang check in dalam keadaan tubuh basah kuyup dari atas ke bawah ?

Sangat memalukan.

Padahal harusnya mereka duduk romantis di tepi pantai sambil menikmati matahari tenggelam dan makan malam. Ini malah terancam masuk angin.

"Ayolah, jangan memasang wajah seperti itu."

San baru keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan rambut basah. Ngomong-ngomong, San sudah membeli baju ganti untuk mereka berdua, hanya sepasang kaus oblong dan celana training longgar yang pria itu lihat di toko baju dekat hotel.

"Ayo tersenyum." Pria itu menarik pipi Wooyoung, memaksakan sebuah senyuman di wajah tertekuk sang kekasih. "Baiklah, aku minta maaf, tapi yang tadi seru kan ? Kau juga suka, ayo cepat mengaku."

Wooyoung menarik tangan San yang memainkan kedua pipinya. "Aghh, sakit, lepas," adunya kesal.

San terkekeh kecil, ia mengambil handuk kering yang tersampir dileher lalu mengeringkan rambut Wooyoung yang basah sama sepertinya. San ingin terbahak, tapi nanti Wooyoung bisa mengamuk.

"Kau lapar ? Mau pesan makanan apa ?" tanyanya masih berusaha untuk menghibur kekasihnya itu.

"Kau sudah janji mau makan seafood."

Kedua netra berbinar itu terangkat, menatap San dengan pandangan memohon. San tahu ia sudah mengingkari janjinya pada pemuda manis itu hari ini, tapi mau bagaimana ? Tidak mungkin mereka masuk ke dalam kedai seseorang di saat keadaan mereka basah total. Bisa-bisa mereka akan di usir.

Pria itu menangkup pipi Wooyoung. "Besok ya ? Ini sudah malam, kita pesan makanan hotel saja."

Meskipun Wooyoung masih kecewa, ia hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Ya, masih ada hari esok. Lagipula Wooyoung sudah lapar karena terlalu lelah menghabiskan tenaga bermain kejar-kejaran bersama San dipantai tadi. Ia hanya ingin cepat-cepat mengisi perut kosongnya lalu istirahat.

San berjalan menuju ujung kamar, meraih gagang telepon untuk menghubungi room service. Pria itu sibuk dengan urusan menu makan malam mereka sedangkan Wooyoung hanya diam saja menunggu sembari mengagumi punggung lebar sang kekasih.

Ngomong-ngomong ini pertama kalinya mereka menginap di hotel, berdua. Ini mengingatkannya tentang kejadian hari pertama keduanya bertemu.

Mereka juga sudah hampir menginap malam itu kalau saja Wooyoung menyampingkan egonya.

Ah, kenangan itu memang sangat membekas.

Wooyoung tidak pernah mengira kalau seseorang yang pada malam itu hanya ia anggap partner satu malam akan berakhir menjadi kekasihnya sampai sekarang. Memori-memori kecil tentang jalan cinta mereka dari awal bertemu, lalu berlanjut ke tahap San yang secara terang-terangan mengejarnya, dan sampai Wooyoung yang luluh masih terukir jelas.

Kira-kira apa yang akan terjadi kalau Wooyoung tidak bersama San hari ini ? Yah, kadang ia masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan kecil itu.

Betapa beruntungnya Wooyoung bisa bertemu pria sebaik Choi San. Setelah mengenal pria itu, banyak sekali hal yang terjadi di hidupnya. Tentu saja jauh lebih berwarna. Wooyoung berjanji dengan dirinya sendiri, mulai dari sekarang ia akan belajar untuk menerima keadaan. Wooyoung juga sudah berjanji kalau ia akan mencoba hidup lebih baik setelah ini.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang