San menunggu didepan gerbang, memperhatikan satu persatu manusia yang lewat mencari Jung Wooyoung ditengah mereka. Jujur, hatinya belum tenang, ia butuh segera melihat Wooyoung untuk menenangkan diri. Pikirannya terlalu kalut setelah menjawab panggilan dari bajingan Seo Changbin.
Disana, dengan jarak beberapa meter didepannya, Wooyoung sedang berjalan dengan seorang wanita yang San kenali sebagai Hyunjin. Tidak ada api-api cemburu seperti biasanya, ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Hyunjin. Setidaknya wanita itu mungkin lebih baik dibanding dengan Changbin.
San melambaikan tangan dari kejauhan, ia bisa melihat Wooyoung yang tersenyum begitu lebar saat menyadari kehadirannya. Senyuman manis pemuda itu sekarang adalah favorit San sekarang. Membayangkan kemungkinan senyuman itu luntur karena pria bajingan bernama Seo Changbin itu membuat hati San serasa teremas kuat. Pria itu tidak pantas mendapatkan seorang Wooyoung.
San sudah bersiap membukakan pintu mobil untuk menyambut Wooyoung, namun pemuda itu tiba-tiba saja merentangkan tangan dan memeluknya begitu erat. Perlu dicatat, keduanya masih berada didepan gerbang sekolah, dan sudah pasti banyak orang lalu lalang disekitar mereka. Tentu saja San terkejut mengingat Wooyoung tidak pernah sama sekali bersikap romantis seperti ini sebelumnya.
"Aku merindukanmu," ujar pemuda itu.
Hati San menghangat, segala beban pikirannya terlepas sejenak merasakan kenyamanan dekapan tangan Wooyoung yang mengalung dilehernya.
Kedua tangan San melingkar di pinggang pemuda itu sebagai balasan, ia mengabaikan tatapan orang terhadap mereka. San tidak peduli, tidak pernah peduli, ia hanya memikirkan bagaimana perasaan Wooyoung. Kalau memang pemuda itu sedang butuh pelukan, maka San akan memberikannya. Kalau pemuda itu tidak ingin mengumbar asmara dan kemesraan didepan banyak orang, San juga tidak akan melakukannya. Apa yang Wooyoung inginkan jauh lebih penting dibanding apapun.
"Ada apa denganmu ? Kau bersikap tidak seperti biasanya. Aku harap kau tidak lupa kalau banyak orang yang bisa melihat kita berdua disini." San menghirup aroma wangi dari tubuh Wooyoung.
Pemuda itu melonggarkan pelukan, memberikan senyuman manis sebelum melayangkan ciuman dipipi San. "Aku tahu, tapi aku tidak peduli. Oh, bagaimana dengan harimu ? Menyenangkan ?"
Jauh dari kata menyenangkan, tapi Wooyoung berhasil membuatnya menjadi lebih baik.
"Mendengar pertanyaan itu keluar dari mulutmu terasa sedikit aneh." San memicingkan matanya, memandangi wajah sang kekasih dengan ekspresi curiga. "Kau tidak sedang dalam masalah kan ?"
"Tentu saja tidak. Ayo, pulang."
Pemuda manis itu melepaskan pelukannya, lebih dulu memasuki mobil San, meninggalkan pria itu dalam kecurigaan. Wooyoung sedang memakai sabuk pengamannya saat San kembali menanyakan satu pertanyaan yang menurutnya sangat aneh.
"Kau baik-baik saja kan ?"
"Choi San, aku baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Aku hanya sedang bahagia, dan aku juga merindukanmu." Pemuda itu menangkup wajah San, bersitatap mata. "Hanya itu, percaya padaku."
San menganggukkan kepala tanda mengerti, tapi isi pikirannya masih melayang jauh. Wooyoung tadi pagi dengan Wooyoung yang sekarang sangat berbeda. Mood kekasihnya itu berubah begitu drastis hanya dalam hitungan jam membuat San semakin khawatir akan sesuatu yang tidak pasti.
"Besok hari sabtu, aku tidak ada kelas mengajar. Bagaimana kalau kita pergi berkencan malam ini ?"
San menoleh cepat. Oke, ini sudah terlalu aneh. Kata 'kencan' keluar dari bibir Wooyoung sangat mencurigakan. Pemuda itu juga mengarahkan layar ponselnya pada San, menunjukkan beberapa spot kencan yang baru saja ia cari dari google.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)