Ch.79 - Nyonya Jung

1.1K 69 13
                                        

Yunho menarik nafas dalam. Tungkainya berhenti di depan gerbang tidak sanggup melangkah, terlalu takut berhadapan dengan Ayah dan Ibunya. Yunho yakin mereka pasti sedang murka sekarang. Tidak pulang ke rumah, menghabiskan malam bersama kekasih yang sudah jelas-jelas tidak akan di restui.

Katakan adakah orang yang lebih bodoh dibanding seorang Jung Yunho ? Ibarat kata, ia seperti sedang menuangkan minyak di atas kobaran api membara.

Menambah masalah di atas masalah.

"Sayang, kau baik-baik saja ?"

Seseorang merangkul pinggang Yunho—itu Mingi.

Senyuman Yunho sangat menandakan pemuda itu tidak baik-baik saja. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan situasi ini kepada orangtuanya nanti.

Mati-matian Yunho mencoba menutupi beberapa bekas perbuatan Mingi di bahunya. Untung tidak ada tanda di area yang terekspos. Kalau sampai itu terjadi, Yunho lebih memilih tidak pulang sampai jejaknya menghilang dibandingkan harus melihat Ayahnya mengamuk lagi untuk yang kesekian kali.

"Tenang saja." Mingi mengaitkan jemari Yunho, mengusap punggung tangan pemuda itu untuk menenangkannya. "Jangan khawatir, karena ini salahku, aku yang akan menjelaskan pada mereka."

Tidak, Mingi tidak mengerti. Ini bukan masalah siapa yang salah dan siapa yang akan menjelaskan disini. Ayah Yunho bahkan membenci Song Mingi sampai ke ulu hati, lalu bagaimana pria itu akan meredakan amarahnya nanti ? Dengan berlutut ?

"Ak— "

Belum sempat Yunho menyanggah, gerbang hitam didepannya terbuka lebar, menampilkan sang Ibu dengan dress panjang bermotif bunga-bunga dan sebuah tas belanja di tangan kanannya. Bola mata Yunho melotot, ia bahkan belum menyiapkan nyali tapi sang Ibu sudah memergoki mereka lebih dulu.

Yunho memperhatikan sang Ibu lekat-lekat dan ia mulai menyadari sorot mata wanita itu tertuju ke telapak tangan Mingi yang menggandengnya erat.

Yunho takut, ia hendak melepaskan genggaman Mingi, namun pria itu justru sengaja menahannya.

Oh, ini masih pagi untuk mencari masalah baru.

"Selamat pagi, Eommonim," ucap Mingi.

Yunho menoleh, ia terkejut dengan sapaan manis Mingi pada sang Ibu. Entah karena Yunho terlalu berlebihan atau Mingi yang tidak cepat membaca situasi, pria itu bahkan bisa tersenyum di situasi genting seperti ini. Bodoh. Sadarlah Song Mingi !

"Yunho bersama saya semalam. Maaf karena tidak mengantarnya pulang karena hari sudah larut saat kami baru saja mendapatkan penginapan." Pria itu membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat memberi hormat. "Saya pastikan kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi ke depannya," ujarnya.

Hah ! Lucu.

Bibir Yunho berkedut mendengar kebohongan itu.

"E–eomma ?" panggil Yunho.

Sang Ibu tidak memberikan reaksi apapun untuk membalas Mingi, raut wajahnya hanya datar, tapi terkesan sedikit mengerikan. Tidak ada sambutan untuk Mingi maupun Yunho seolah wanita tua itu tidak begitu mengharapkan kehadiran keduanya.

Percayalah jantung Yunho sedang berpacu dengan cepat sangking gugup menantikan jawaban Ibunya.

"I–ini tidak seperti yang Eomma pikirkan. A–aku, maksudku, kami berdua tidak melakukan apapun."

"Masuk."

Hanya satu kata, tapi mampu membekukan detak jantung pemuda itu sesaat. Buruk, sangat buruk.

Yunho menantikan waktu-waktu dimana sang Ibu akan meluapkan emosi namun sepanjang menit ia menunggu wanita itu tidak kunjung bersuara lagi.

Hanya satu perintah itu—mutlak.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang