San bangkit dari duduknya penuh semangat, tapi ketika Yunho menggelengkan kepala perlahan ia kembali terduduk lemas ke kursi—sangat kecewa.
Kenapa ? San mempertanyakan itu pada dirinya sendiri. Kenapa Wooyoung tidak ingin bertemu dengannya ? Apa yang salah ? Apa Wooyoung marah padanya ? Atau Wooyoung kecewa ?
"Dia membenciku ... ?"
Yunho mencoba menenangkan San, meskipun ia sendiri juga tahu itu tidak akan membantu. "Dia tidak membencimu, dia hanya butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Kalau kau menemuinya sekarang dia hanya akan mengabaikanmu. San-ah, berikan Wooyoung waktu sebentar lagi, aku yakin dia pelan-pelan pasti akan kembali seperti dulu."
Yunho terdengar ragu saat mengatakan itu dan San tidak akan menyalahkannya. Wooyoung punya hak untuk benci pada San. Ia yang telah meninggalkan Wooyoung sendirian dan ia juga membuat pemuda itu harus melewati semua kejadian mengerikan ini. San mengikari janjinya untuk selalu ada menjaga Wooyoung, ia pantas mendapatkan kebenciannya.
"Lalu, ... bagaimana keadaannya ?"
Yunho mengangkat bahu. "Entahlah, ... dia tidak tantrum, tapi dia juga tidak mau diajak bicara."
Demi apapun didunia ini, San rindu. San sangat ingin melihat wajah Wooyoung sekarang. San ingin memastikan keadaan pemuda itu. Kalau San boleh egois ia bisa saja menerobos masuk dan memeluk Wooyoung erat-erat. San tidak tahu sampai kapan ia harus menunggu seperti ini. San merindukan pemuda itu dan ia tidak yakin bisa menahannya lebih lama lagi. San ingin berada disana, disisinya.
"San-ah, lebih baik kau pulang saja lalu istirahat sebentar. Aku akan disini menjaga Wooyoung."
Pria itu menolak. "Aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan tetap disini. Aku mau disini."
Kalimat yang ingin Yunho katakan hanya tertahan diujung kerongkongannya. Bagaimana mungkin Yunho mengatakan pada pria itu kalau Wooyoung tidak ingin bertemu dengannya lagi ? Ia tidak tega.
"Baiklah, aku akan membiarkanmu berjaga malam ini. Kalau terjadi sesuatu, segera hubungi aku."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Wooyoung meratapi langit malam dalam diam, isi pikirannya kosong. Jari jemari Wooyoung saling bertautan dalam pangkuan. Wooyoung tidak ingin mengingat apapun, tapi setiap saat ia mengedipkan mata, bayangan wajah Changbin muncul di dalam benaknya, seakan memori itu tidak akan bisa lepas.
'Tidak ada orang yang bisa menerimamu, selain aku. Kau tidak punya tempat lain untuk kembali, selain aku. Wooyoung-ah.'
Wooyoung kembali menutup kedua telinganya saat suara-suara itu kembali menganggunya. Sentuhan itu, pukulan itu, tawa menjijikkan itu, semua yang bajingan itu lakukan menghantuinya tanpa henti. Wooyoung sadar ia banyak berhalusinasi, bahkan terhadap seorang dokter tidak bersalah yang hanya ingin memastikan kondisi kesehatannya tadi pagi.