Jejak air mata mengering dipipi Wooyoung. Pandangannya kosong menatap langit-langit kamar, jauh didalam benaknya ia berharap dunia akan berakhir detik ini juga. Lelah, Wooyoung sudah lelah dengan semuanya. Lelah menangis, lelah melawan, lelah dengan hidupnya yang sama sekali tidak berarti. Wooyoung tidak menghitung berapa lama sudah ia terkurung didalam neraka mengerikan ini. Pengap, gelap, dengan kedua pergelangan kaki yang terikat pada rantai besi panjang persis seperti seekor anjing peliharaan.
Wooyoung bahkan lupa bagaimana rasanya berada dibawah sinar matahari. Sudah lama Wooyoung tidak diijinkan melihat cahaya luar. Seluruh jendela dipaku dengan kayu, bahkan cela sekecil lubang tikus pun ditutup sedemikian rupa. Tidak akan ada satu orang pun diluar sana yang tahu bagaimana kondisi Wooyoung sekarang.
Menyedihkan. Benar-benar menyedihkan.
Seandainya Wooyoung bisa membunuh dirinya sendiri sudah pasti ia akan dengan senang hati melakukan itu sekarang. Sialnya, Wooyoung bahkan tidak diijinkan untuk melukai dirinya sendiri. Wooyoung tidak mampu bergerak, bahkan sekalipun kakinya tidak terikat ia tidak lagi memiliki tenaga untuk menopang tubuhnya. Seluruh badan Wooyoung terasa hancur dan remuk meskipun ia hanya berbaring seharian.
Bajingan yang mengurung Wooyoung disini menggunakannya sepanjang malam. Wooyoung dipaksa untuk terus memuaskan nafsu bejatnya. Sekalipun Wooyoung sudah menolak, menangis, memohon, berteriak frustasi, pada akhirnya yang bisa ia lakukan hanya tetap diam dan pasrah.
Bagi Wooyoung, ia hanya ada didunia ini untuk diperlakukan seperti boneka sex. Ya, pelacur.
Wooyoung benci dengan dirinya sendiri, berkali-kali ia mengutuk dirinya yang kini terlihat sangat menjijikkan. Setiap pagi Wooyoung terbangun dengan keringat, bau sperma, dan bekas-bekas merah diseluruh tubuhnya. Disaat Wooyoung sudah membersihkan diri pun, ia tidak bisa menghapus wangi bajingan itu ditubuhnya.
Dan Wooyoung benci itu, sangat benci.
Harusnya tidak seperti ini. Dulu tidak seperti ini. Semua berjalan baik-baik saja selama ini. Lalu, dari mana awal mula letak kesalahannya ?
Setiap kali Wooyoung mempertanyakan itu, air mata kembali mengalir lewat ekor matanya. Wooyoung begitu tersiksa dengan kenyataan bahwa separuh dari kejadian ini adalah salahnya. Wooyoung terlalu berharap dengan cinta, ia terlalu mudah menaruh ekspetasi tentang dunia romansa. Hanya karena seseorang tiba-tiba datang dan memperlakukan Wooyoung sedikit lebih spesial dibanding orang lain, ia dengan yakin memantapkan hati untuk bersamanya.
Lantas apa yang ia dapat ? Sakit hati.
Wooyoung tidak mengerti apa yang salah dengan pria itu. Hubungan mereka berjalan baik-baik saja selama beberapa tahun, Wooyoung sangat mencintainya dengan sepenuh hati. Wooyoung memberikan segalanya, ia bahkan juga sudah memikirkan hubungan ini jauh kedepan, namun semuanya berubah hanya karena satu kesalahan. Wooyoung tidak menyangka seseorang yang ia kenal penyayang berubah menjadi psikopat yang mengerikan. Seseorang yang Wooyoung cintai menyakitinya begitu dalam, pria itu kembali menaruh luka besar baik fisik maupun mental. Wooyoung sudah kehilangan jati dirinya sendiri sekarang, ia benar-benar kehilangan semuanya.
Ditengah lamunan, suara pintu tertutup tiba-tiba mengagetkan Wooyoung. Itu dia, bajingan itu sudah kembali. Wooyoung sudah menyiapkan diri untuk menerima segala siksaan darinya—lagi.
"Aku pulang."
Wooyoung melirik keujung pintu kamar yang terbuka, pria brengsek itu berdiri disana dengan senyum bahagia seolah melihat Wooyoung dalam keadaan seperti ini adalah hiburan untuknya. Tubuh Wooyoung menegang ketika pria itu berjalan mendekat, duduk ditepi ranjang lalu mengusap sebelah pipi dengan jari kotornya.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)