San membuka matanya karena bias cahaya yang menusuk mata. Tubuhnya menggeliat pelan diatas sofa, sebelum perlahan mulai tersadar sepenuhnya. Tertidur diatas sofa sempit membuat punggungnya hampir mati rasa karena terlalu lama meringkuk.
Setelah meregangkan otot-ototnya yang kaku, San melirik ke arah bangsal Wooyoung, ia hanya ingin mengagumi bagaimana rupa pemuda manis itu di ini, namun—nihil. Ranjang Wooyoung kosong.
"Young-ah ?" San menoleh kesana kemarin, pintu kamarnya tertutup rapat dan ia tidak menemukan Wooyoung disetiap sudut ruangan. Ini masih pagi, tapi jantung San memompa begitu cepat sekarang.
San panik.
Kejadian kemarin malam masih tergambar jelas diingatannya. Terakhir kali San tidak menemukan Wooyoung di kamar, pemuda itu justru sudah ada di atas gedung siap terjun bebas. Ia meraih ponsel di kantung celananya tidak sabaran. San hendak berlari keluar dari kamar tapi tiba-tiba—PRANG.
Tungkai San membeku tepat didepan pintu kamar mandi. San mendengar sesuatu pecah dari dalam sana. Oke, firasat San buruk. Jangan-jangan itu !
"Wooyoung-ah ? Jung Wooyoung ?!"
San memanggil nama itu berulang kali, namun tidak kunjung ada sahutan kembali. Pintu kamar mandi terkunci dari dalam, dan berkali-kali San menggedor dari luar, Wooyoung tidak kunjung juga membukakan pintu untuknya. Netra San sudah membola panik, jelas-jelas ia mendengar sesuatu seperti gelas pecah yang begitu nyaring beberapa detik lalu. Bagaimana kalau ternyata Wooyoung kembali melakukan hal yang buruk ?
"Young-ah, buka pintunya ! Jung Wooyoung ?!!!"
San mendekatkan telinga pada daun pintu ingin mencoba mendengar lebih lanjut apa yang terjadi, tapi tidak ada suara apapun yang dapat ia dengar.
Jantung San semakin berdetak tidak karuan, ia bisa berhenti bernafas kapan saja karena shock.
San berjalan mundur beberapa langkah, tidak ada waktu untuk memanggil bantuan, jadi ia memilih mengambil ancang-ancang mendobrak pintu.
"Wooyoung-ah ! Jawab aku ! Kumohon !!"
San menghempaskan sebelah sisi tubuhnya dengan keras ke arah pintu satu kali, namun tetap gagal.
"Buka pintunya ! Young-ah ?! Kau didalam ?! Buka pintunya !! Jawab aku !!! Yaa !! Jung Wooyoung !"
Teriakan San mengundang dua orang perawat yang kebetulan sedang melakukan pengecekan pasien di pagi hari untuk ikut masuk ke dalam ruangan juga.
Kedua perawat itu panik melihat San bertingkah seperti orang kesetanan, mendobrak pintu seolah akan menghancurkannya dalam sekejap. San juga menendang pintu berkali-kali membuat dua orang perawat itu berjingkrak ketakutan di tempatnya.
Salah satu di antara perawat itu segera berlari ke luar intuk memanggil seorang petugas membantu menangani situasi ini, tapi San sudah tidak peduli.
"Kumohon ... " San meringis putus asa ditengah rasa sakitnya. Ia tidak ingin membayangkan apa yang terjadi, namun otak sialannya tidak berhenti merangkai kemungkinan terburuk. "Young-ah ... "
BUGHH—setelah mencoba untuk yang kesekian kali, akhirnya berhasil. Gagang pintu rusak karena tendangan kuat San, dan seluruh daun pintu juga hampir hancur karena ulahnya. Tapi tidak hanya sampai disitu, San justru membeku ditempatnya saat pintu terbuka dengan lebar. Tetesan air mata yang San tahan, pada akhirnya mengalir dengan sendirinya ketika ia menemukan Wooyoung ada didalam sana—sedang meringkuk disudut kamar mandi sembari memeluk kedua lututnya di dekat dada dan tertunduk ketakutan. Hati San hancur berantakan, dadanya sesak melihat pemuda itu.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)