Wooyoung pulang lebih pagi disaat matahari bahkan belum muncul sepenuhnya, ia juga tidak sempat membangunkan San yang kala itu masih tertidur dengan lelap disisinya. Wooyoung sudah terlampau penasaran, ia bahkan sampai harus terjaga semalaman hanya karena memikirkan pesan aneh dari bibi apartemennya kemarin.
Wooyoung tahu San mungkin akan panik ketika tidak menemukan dirinya disamping ranjang, tapi ia tidak sampai hati untuk membangunkan tidur nyenyak pria itu. Alhasil, ia keluar dengan langkah berjinjit hati-hati, memanggil taksi, lalu diam-diam pulang kembali kerumah sendirian tanpa San.
Hati Wooyoung tidak tenang. Entahlah, katakan saja ini insting yang berbicara. Tidak seharusnya ia berprasangka buruk pada seorang wanita yang sudah merawatnya dengan baik, tapi tetap saja ada hal mengganjal didalam benaknya. Sesuatu yang tidak bisa Wooyoung ungkapkan dengan kata-kata.
Dan benar saja.
Sebuah kotak kardus berukuran sedang tergeletak begitu saja didepan pagar rumahnya. Wooyoung mematung beberapa langkah dari kotak itu, ia mencoba mencari sesuatu yang aneh, namun tidak ada. Tungkainya mendekat perlahan, meraih paket yang ia tidak tahu isinya apa. Beratnya ringan, sangat ringan malah. Tidak ada nama pengirim ataupun logo jasa paket yang biasa tertempel di kardus. Alamat rumah Wooyoung bahkan tidak tercantum disana, benar-benar polos dan bahkan terkesan seperti sengaja di kemas asal-asalan.
Wooyoung mengeluarkan ponsel, memotret kotak misterius itu lalu mengirim fotonya pada bibi apartemen, namun sekian lama ia menunggu, tidak ada balasan. Hari mungkin masih terlalu pagi untuk beraktifitas, tapi setahu Wooyoung, wanita itu selalu bangun lebih awal dari ayam berkokok.
Rasa penasaran yang menggerogoti Wooyoung membuatnya nekat membawa kotak itu kedalam rumah. Ia membuka lakban coklat yang melilit kotak dengan tidak sabaran sembari kakinya menutup pintu dibelakang. Semua terjadi begitu cepat, belum sempat Wooyoung melepas kedua sepatunya, sesuatu didalam kotak yang ia lihat membuatnya lebih dulu jatuh terduduk diatas lantai. Kedua kaki kurusnya terasa lemas seketika. Tangannya bergetar hebat dengan netra membola luar biasa terkejut. Belah bibirnya ternganga lebar seakan tidak percaya dengan apa yang ia temukan.
Selembar foto dengan warna yang hampir buram setengah terkoyak dibagian pinggir dan sebuah kalung rantai besi panjang yang ada disampingnya.
Wooyoung membanting kotak itu, menendangnya menjauh dengan ketakutan yang menghantuinya. Wooyoung tersengal, tenggorokannya terasa seperti dicekat oleh sesuatu hingga membuatnya begitu sesak dan kesulitan bernafas. Wooyoung terbatuk berkali-kali, ia mencengkram lehernya gelisah, berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang mungkin hanya ada dalam bayangannya. Wooyoung seperti merasa kalung rantai itu melilit dan mencekeknya dengan erat. Wajahnya pucat pasi, ia bertumpu tangan pada lantai, berusaha menarik oksigen disekitarnya sebanyak mungkin.
'Jung Wooyoung, kau tidak akan pernah bisa pergi dariku. Tidak akan bisa.'
Bisikan itu menggema ditelinga Wooyoung, begitu jelas. Mimpi buruk yang terkubur beberapa hari terakhir kembali datang. Bayangan wajah bajingan itu tergambar jelas di mata Wooyoung. Senyum menjijikkan itu, sentuhan yang menggerayangi tubuhnya, tawa menggelikannya. Seluruh ruangan berubah gelap seketika, Wooyoung seakan tidak bisa melihat apapun selain siluet bajingan itu. Air mata Wooyoung mengalir deras, ia memukul dada sesaknya berkali-kali. Tubuh kecilnya mencoba merangkak keluar, tangan bergetarnya mencoba meraih gagang pintu, secerca sinar matahari terik yang menerangi pandangannya berhasil membuat Wooyoung menghembuskan helaan nafas panjang.
'Dia kembali, dia sudah kembali,' benaknya.
Dengan segenap sisa tenaga yang masih tersimpan, Wooyoung memberanikan diri untuk melarikan diri. Kemana saja, selama tidak dirumah ini lagi. Wooyoung sadar, bajingan itu pasti sudah berhasil menemukannya. Wooyoung harus kabur, ia harus pergi dari tempat ini secepatnya, sejauh mungkin.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)