Ch.41 - Psycho

1.4K 109 6
                                        

Suasana begitu tegang dan hening. Sejak Mingi pergi, sang Ibu belum mengucapkan sepatah kata pun pada Yunho. Keduanya hanya duduk diam, saling berhadapan dibawah lampu pantry yang tidak begitu terang. Bohong kalau Yunho tidak gugup, telapak tangan yang ia sembunyikan di bawah meja berkeringat dingin. Tenggorokannya terasa kering tapi hanya untuk sekedar menelan ludah pun rasanya begitu sulit. Yunho tercekat.

Awalnya Mingi bersikeras untuk tinggal dan ingin menjelaskan situasi pada sang Ibu, namun Yunho menolaknya. Ini bukan hanya sekedar masalah hubungan mereka, melainkan juga tentang Yunho dan dirinya sendiri. Rahasia taboo yang selama ini Yunho pendam sendirian. Ia ingin meluruskannya, menjelaskan dengan detail bagaimana dan kenapa ia bisa menjadi dirinya yang sekarang tanpa Mingi.

Ekspresi wajah sang Ibu datar, tidak menunjukkan emosi apapun. Yunho tidak bisa menebak apakah sang Ibu marah atau sedih, namun lewat sorot mata, paling tidak ia tahu wanita itu—kecewa.

Ya, tentu saja. Yunho pun kecewa pada dirinya sendiri—dulu—namun seberapa besar usaha Yunho mencoba untuk lari dari kenyataan pada akhirnya ia akan tetap kembali pada titik ini. Fakta bahwa Yunho memang menyukai seorang pria, dan itu tidak akan pernah bisa berubah menyadarkannya bahwa ini bukan hal memalukan yang perlu lagi ia berusaha sembunyikan dari siapapun di dunia ini.

Termasuk sang Ibu.

Yunho memang berniat menceritakan semua ini pada keluarganya dalam waktu dekat, termasuk juga memperkenalkan Mingi pada mereka nanti. Namun yang tidak ia duga adalah waktu itu datang lebih cepat dari yang sudah Yunho rencanakan.

"Eom— "

"Kemas semua barang-barangmu yang penting dan ikut Eomma pulang ke Gwangju, malam ini juga."

Satu kalimat itu meruntuhkan pertahanan Yunho. Bibirnya terkatup rapat tatkala ia hanya mampu melihat sang Ibu yang beranjak dari kursi hendak meninggalkannya. Pernyataan barusan terdengar mutlak dan tidak boleh dibantah. Sungguh, Yunho tidak pernah melihat sang Ibu berbicara padanya dengan nada sedingin dan seserius ini sebelumnya.

"Eomma sudah telepon Ayahmu di rumah, dia sudah tahu kalau kita akan pulang malam ini."

Yunho beranjak dari kursi, menahan pergelangan tangan sang Ibu dan meminta jawaban. "Tunggu, tunggu, Eomma. Apa-apaan ini ? Dengarkan aku."

Sang Ibu menepis cengkraman Yunho. "Eomma ingin kau kembali kerumah. Tinggalkan semua yang sudah kau lakukan selama berada disini."

"Tidak, tidak, tidak bisa mendadak seperti ini. Lalu bagaimana dengan pekerjaan dan temanku ?"

"Kau masih tidak bisa mengerti ? Eomma bilang tinggalkan semuanya !" teriakan sang Ibu bergema dalam ruangan. Wanita itu menghela nafas yang panjang, benar-benar terlihat begitu frustasi. Raut kesedihan yang sedari tadi tidak bisa Yunho baca, kini tersirat lewat bola mata berair wanita itu.

"Eomma ... dengarkan aku du— "

"Ini sebabnya Eomma tidak pernah setuju kau pindah ke Seoul. Ini sebabnya Eomma juga tidak pernah setuju kau bekerja ditempat kotor seperti itu. Apa yang kau pikirkan selama ini ? Apa yang kau pikirkan sampai kau tega mengecewakan Eomma seperti ini, Jung Yunho ?! Apa Eomma pernah meminta sesuatu yang berlebihan padamu ? Apa Eomma dan Appa pernah menuntutmu untuk melakukan sesuatu ? Kami selalu berusaha percaya pada keputusanmu saat kau bilang ingin tinggal sendirian di Seoul, tapi ini yang selama ini kau lakukan dibelakang ? Eomma kecewa, sangat."

"Eomma, ini tidak seperti yang kau bayangkan." Yunho mengusap surai hitamnya kebelakang. "Aku tidak berniat membohongi kalian. Aku juga ingin mengatakan ini pada kalian dari awal, tapi— "

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang