Ch.66 - Kembali

1.4K 111 22
                                        

Canggung.

Satu kata itu sangat cocok untuk menggambarkan situasi yang terjadi di dalam kamar Wooyoung saat ini. Pemuda itu sibuk mengunyah buahnya dengan gigitan kecil, sedangkan San sibuk mengupas kulit apel dengan skill pisaunya yang belum seberapa.

Wooyoung sengaja membuat alasan 'lapar' untuk menahan pria itu meskipun kenyataan ia bahkan sama sekali tidak ingin memakan apapun di jam malam. Pemuda manis itu duduk bersila di atas ranjangnya dengan satu piring anggur hijau diatas meja, sedangkan San duduk jauh dari tempatnya.

Entah karena sengaja atau kebetulan.

San bahkan tidak menatap mata Wooyoung sedari tadi dan lebih fokus pada apel bulat ditangannya. Tidak peduli berapa lama ia memperhatikan San, pria itu tidak kunjung menoleh padanya seolah tidak merasakan betapa intens tatapan matanya.

Tidak ada percakapan berarti diantara mereka.

Wooyoung menunggu San membuka suara, tapi nyatanya hingga detik ini pria itu lebih memilih bungkam. Jujur, Wooyoung berharap San mulai mengatakan sesuatu, ia sangat ingin mendengar suara pria itu sekarang. Ia juga merindukan San yang selalu memberikan afeksi lembut untuknya.

"Ehem ... " Wooyoung berdeham pelan mencoba menarik perhatian San. "Kau, ... sudah makan ?"

Pria itu mendongak, hanya sekilas lalu kembali menundukkan wajahnya. "Oh ... aku tidak lapar."

"Kenapa ?"

"Hanya tidak lapar."

Hening. Lagi. Wooyoung bingung merangkai kata-kata. Biasanya San yang akan membuka topik untuk mereka. Sebenarnya melihat pria itu yang tidak banyak bicara membuat Wooyoung sedih.

"Kenapa dia duduk jauh sekali ?" monolognya.

"Huh ?"

"Hmm ?"

Ini terdengar seperti percakapan yang bodoh.

Wooyoung tidak sadar kala pertanyaan itu keluar dari bibirnya, ia kira itu suara dalam batinnya saja, tapi ternyata tidak. Wooyoung tidak sadar kalau ternyata San juga bisa menangkap kata-kata yang menurutnya terdengar pelan dan sehalus kapas itu.

Keduanya berakhir saling bersitatap mata.

Raut bingung tergambar jelas di wajah keduanya. Wooyoung merindukan itu, bola mata berbinar San yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja.

Wooyoung ingin San melihatnya lebih lama lagi.

Wooyoung ingin San berjalan mendekatinya.

Wooyoung ingin San tersenyum padanya.

Wooyoung ingin San menggenggam tangannya.

Tapi Wooyoung berakhir kecewa karena San lebih memilih memalingkan mata. Lagi, menghindar.

Apa yang salah ?

Beberapa saat lalu San masih bersikap hangat pada Wooyoung. Beberapa saat lalu bahkan Wooyoung  yang mengacuhkan pria itu, tapi kenapa sekarang keadaan justru berbalik arah. Wooyoung merasa di abaikan. Meskipun San ada disini, pria itu sengaja mengacuhkannya seolah terpaksa menemaninya.

Bohong kalau Wooyoung bilang ia tidak kecewa.

"Aku, ... i–itu, ada yang ingin aku katakan."

Gerakan tangan San terhenti, jantungnya berdegup begitu kencang mendengar suara halus Wooyoung yang terdengar seperti bisikan kecil di telinganya.

Pria itu meletakkan pisau buah ke atas meja, ia menolehkan seluruh pusat perhatian pada sosok Wooyoung di seberang sana. "Aku juga ada, apa boleh aku bicara lebih dulu ?" tanyanya ragu-ragu.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang