Ch.65 - Pecundang

1.3K 109 20
                                        

Tidak terhitung sudah berapa lama San merenung di bangku taman. Pandangan San kosong jatuh ke bawah kakinya, untuk sekedar menghela nafas saja ia rasa sudah tidak sanggup lagi. Sejak pagi tadi, ia tidak mengisi makanan apapun ke perutnya selain dua kaleng kopi instan yang baru ia beli dari mesin minuman. Anehnya, rasa lapar juga tidak kunjung datang padanya meskipun ia sudah puasa seharian sampai kini langit di atasnya sudah berubah warna menjadi jingga hampir kegelapan. Sekitar pukul 6.

Beberapa waktu lalu San masih bisa melihat orang-orang lalu lalang di depannya. Ada Ibu yang sedang membawa anaknya yang sakit untuk jalan-jalan di taman. Ada juga sepasang kekasih yang mengobrol dengan sang pria duduk di atas kursi rodanya dan sang wanita sedang mendorongnya dari belakang.

Bukankah mereka terlihat sangat romantis ?

Jujur, San iri melihat betapa harmonis hubungan asmara orang lain, berbanding terbalik dengannya.

Dari detik pertama disaat San menginjakkan kaki dirumah sakit, tidak pernah sekalipun ia mencoba mempertanyakan eksistensi dari kehadirannya.

Tapi sekarang ? San tidak tahu.

Sebenarnya untuk apa ia masih bertahan disini ?

San tidak sedang membawa anaknya untuk berobat seperti yang Ibu tadi lakukan, ia juga tidak sedang merawat atau mendorong kursi roda kekasihnya seperti yang pasangan romantis itu tadi lakukan.

San bahkan tidak tahu apa yang ia tunggu. Untuk apa ia melakukan semua ini sampai menyiksa diri dan mengeyampingkan makan dan jam tidurnya. Mengabaikan seluruh rasa sakit di puncak kepala dan melupakan pekerjaan kantor yang menumpuk.

Seseorang yang seharusnya San jaga bahkan juga tidak mengharapkan kehadirannya, lalu apa ?

Bohong kalau San bilang hatinya tidak terluka. San hancur melihat orang berharga yang ia cintai jatuh terluka. Banyak penyesalan yang tidak mampu San ungkapkan dengan kata-kata. Dan hari ini, saat ia tidak sengaja mendengar pembicaraan pemuda itu, ia kembali hancur untuk yang kesekian kalinya dan semakin putus asa. Katakanlah San pecundang, ia sudah tidak memiliki keberanian untuk menemui Wooyoung meskipun ia menahan rindu. San takut.

Ketika Wooyoung bilang ia tidak akan pernah bisa kembali pada San, separuh hatinya serasa diremas dengan erat. San sangat mengerti dengan keadaan Wooyoung, tapi kalimat seakan pemuda itu sudah merasa dirinya tidak pantas lagi untuk San terasa sangat menyakitkan. Mengapa ? San tidak pernah merasa Wooyoung tidak pantas untuknya. Justru setelah semua hal yang terjadi, San semakin ingin menjaga Wooyoung, mendekapnya, mengatakan pada pemuda itu kalau semua akan baik-baik saja.

San sudah coba untuk mengabaikan rasa sakitnya setiap saat Wooyoung mendorongnya menjauh.

San juga coba bersabar setiap kali Wooyoung tidak ingin bicara dengannya. Mengabaikannya seolah ia tidak pernah ada di sana. Tapi untuk yang satu ini membuat San merasa ada pada titik terendahnya.

Wooyoung ingin berpisah, dan San harus kembali mencoba mengerti dan menerima keputusannya, di saat ia sendiri masih sangat mencintai pemuda itu.

San memilih menjauhkan diri dari pemuda itu untuk beberapa waktu, ia masih belum siap kalau harus menerima salam perpisahan secepat ini.

San belum siap untuk melepas Wooyoung pergi.

San masih ingin disini, disisi Wooyoung, meskipun ia tahu ia tidak akan bisa memaksa kehendaknya.

DRTT DRTT

Ponsel San bergetar untuk yang kesekian kalinya.

San sudah mengabaikan puluhan panggilan serta pesan dari Mingi. Sahabatnya itu mencarinya tadi, menelponnya berkali-kali meskipun sudah ia tolak.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang