Ch.03 - Ketemu

3.9K 248 8
                                        

San tidak percaya ini.

San menginjakkan kakinya di club malam bernama Tempo tepat pukul 8.30 malam. Area lantai dansa sedang padat-padatnya, membuat San sesak. Lama sudah dari terakhir kali ia berkunjung bersama dua sahabatnya. Tidak ada yang berubah. Semua masih sama. Dulu, club ini pernah menjadi tempat favorit San. Tentu saja, itu sebelum negara api menyerang.

Padahal San sudah mengucapkan sumpah kalau ia tidak akan pernah datang lagi. Tapi hari ini ia baru mengingkari janjinya hanya karena seseorang yang baru saja San kenal satu malam, ia pasti sudah gila.

"Kau masih punya kesempatan kabur," bisik Mingi.

Kabur ? Yang benar saja.

Rasa penasaran San jauh lebih besar mengalahkan rasa takutnya. Usaha mendapatkan informasi akan sia-sia kalau ia menyerah. Ia sudah sangat frustasi.

"Aku harap kau tidak lupa kalau kau sudah pernah hampir memukulnya dulu." Suara Mingi terdengar samar karena tertelan dentuman musik yang keras.

"Dari banyak orang di dunia ini, kenapa Jane ?"

Ya, San juga sempat mempertanyakan hal itu.

Dari sekian banyak orang di dunia, mengapa harus lelaki gemulai setengah wanita itu yang ia datangi ?





Sedikit kilas balik.





"Satu gelas whiskey please," sapa San ramah.

"Oh !" pekik sang bartender tiba-tiba. "Kau ... kau orang yang kemarin menolong Wooyoung kan ?!"

"Ah ya, kau benar, itu aku. Maaf, erghh tapi, tadi kau sebut siapa, Wooyoung ? Apa itu namanya ?"

Bartender itu mengangguk lugu. "Hmm, temanku Jung Wooyoung. Oh, aku kira kalian sudah saling kenal karena kau tiba-tiba datang menolongnya."

"Ah, bagaimana menjelaskan ini ... ?"

Jung Wooyoung namanya.

Pelafalan nama itu terdengar indah di telinganya.

Sekarang, San hanya perlu mencari tahu dimana ia bisa menyapa pemuda bernama Wooyoung itu.

"Ini pesananmu, satu gelas Whiskey."

"Terima kasih. Egh itu ... ngomong-ngomong, apa boleh aku bertanya satu dua hal ? Kalau kau tidak sibuk, kau keberatan untuk mengobrol sebentar ?"

"Ya, boleh. Tentu saja."

San menggaruk belakang lehernya gugup. "Boleh aku tahu soal temanmu, Jung Wooyoung ? Kapan kira-kira kapan dia akan datang kesini lagi. Atau kalau boleh, aku ingin nomor telepon atau alamat rumahnya ? Ah, jangan salah paham ! Aku bukan orang jahat !" Ia spontan mengangkat tangannya defensif ketika sang bartender menatapnya penuh curiga. "Jadi, begini ... dia meninggalkan sesuatu. Aku hanya ingin mengembalikannya, tapi sayang aku tidak bisa karena aku tidak punya nomornya. Aku sudah menunggu lama disini, tapi aku belum melihatnya sampai sekarang. Jadi, ... apa boleh ?"

"Dimana kau mengenal Wooyoung ?"

"Oh ayolah, aku tidak perlu bercerita tentang itu." San menegaskan sekali lagi, "Kau harus percaya ! Aku tidak punya niat jahat sama sekali, sungguh ! Aku hanya ingin mengembalikan barangnya itu."

Sang bartender menadahkan tangan. "Kau boleh berikan padaku. Biar aku saja yang kembalikan."

"I–itu, ... tidak bisa, ini barang penting."

"Shh ... kau terdengar mencurigakan." Bartender itu menelisik San dari atas ke bawah. "Maaf, tapi aku tidak bisa memberikan informasi pribadinya pada orang yang tidak aku kenal. Terlebih untuk alasan yang tidak jelas. Jujur, kau bohong kan ?"

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang