Wooyoung menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya. Seorang suster baru saja memberikan menu makan siang dengan lauk rumah sakit yang hambar. Wooyoung tidak terlalu nafsu makan, tapi ia bosan menunggu San yang belum juga kembali. Ini sudah hampir setengah hari berlalu setelah San pergi, padahal pria itu sudah berjanji akan kembali secepatnya, tapi sampai detik ini batang hidungnya masih belum juga terlihat. Ia jadi mulai khawatir.
Sesekali Wooyoung melirik kearah pintu, berharap San akan tiba-tiba muncul disana, menyambutnya dengan senyum hangat seperti biasa. Dirinya sibuk menghitung jarum panjang di dinding kamar yang berjalan dengan lamban. Tidak ada San dan Yunho sendiri juga pasti sedang sibuk dengan urusannya.
Wooyoung kesepian, ia hanya bisa menghela nafas panjang sembari meletakkan sendok makannya ke atas meja tidak berselera. Pandangannya terbawa keluar jendela, cahaya diluar sana bersinar dengan terik. Wooyoung yang melamun itu membuatnya kembali teringat sesuatu yang tidak mau ia ingat.
Seo Changbin, soal bajingan itu.
Wooyoung tidak ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Terakhir kali Yunho pernah bilang kalau bajingan itu sudah di tangkap dan akan menjalani sidang atas tuduhan penculikan, penganiyaan, dan percobaan pembunuhan. Harusnya Wooyoung bisa tenang saat mendengar itu, tapi sampai detik ini ia tidak pernah benar-benar merasa dirinya bebas.
Seperti yang sudah Wooyoung katakan, ia selalu merasa seseorang mengawasinya dari jarak jauh.
Ya, sebenarnya Wooyoung sendiri sadar kalau itu semua bagian dari ilusinya, tapi tetap saja ia belum bisa mengenyahkan semua perasaan takutnya itu.
Beruntung Wooyoung sudah merasa sedikit lebih tenang dari hari sebelumnya setelah ia menjalani beberapa kali sesi konseling dengan seorang dokter psikiater. Ya, paling tidak sekarang Wooyoung bisa belajar untuk mengontrol emosi dan halusinasinya.
Kalau sebelumnya Wooyoung kambuh kapan saja, sekarang setiap ia terbayang wajah bajingan itu, ia hanya memejamkan mata, mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan seperti yang ia pelajari selama sesi konseling. Tapi sayang, kali ini Wooyoung kembali menangis karena hal itu lagi.
Wooyoung teringat dan itu menyiksanya.
"Young-ah ! Aku beli pizza untuk makan siang."
Wooyoung menoleh saat suara familiar yang sedari tadi ia tunggu menyapa indera pendengarannya.
Itu dia, Choi San.
Pria itu datang sambil menenteng dua kotak besar pizza di tangan kanan dan senyuman mengembang lebar menunjukkan lesung pipinya. Hah, harusnya Wooyoung menyambut San dengan senyum juga, namun pria itu datang di waktu yang kurang tepat.
"Ah maaf, sayang. Jalanan macet sekali, kau pasti sudah menunggu lama, aku mem—Young-ah ?"
Kalimat San terpotong, ia meletakkan kotak pizza di atas meja lalu mendudukkan dirinya di samping sang kekasih. Ekspresi San seperti orang bingung.
"Hey ? Kenapa ? Ada apa ? Kenapa menangis ?"
Bola mata Wooyoung menatap San tanpa suara.
Kehadiran San seperti sesuatu anugerah luar biasa untuk Wooyoung. Raut khawatir yang Wooyoung tangkap dari wajah San menghangatkan hatinya.
Telapak kasar San yang menangkup kedua pipinya seolah membuat Wooyoung teringat betapa ia juga mencintai pria itu. Wooyoung berpikir, bagaimana caranya ia bisa melewati hari-hari tanpa ada San di hidupnya ? Kalau pria itu tidak datang, mungkin ia akan kembali menggila dengan segala isi di kepala.
Hanya butuh satu detik.
Cukup satu detik pertama saja dimana Wooyoung mendengar suara San yang menyapanya, ia seakan merasa seluruh konflik batinnya lepas begitu saja.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)