Ch.75 - Overthinking

1.2K 85 13
                                        

Sinar matahari yang menembus lewat celah gorden membuat Wooyoung menggeliat di balik tidurnya.

Untuk pertama kali setelah sekian lama Wooyoung merasakan yang namanya tidur nyenyak. Kelopak mata yang perlahan terbuka sedang membiasakan diri dengan bias cahaya. Pemuda itu merenung di atas kasur sembari mengembalikan nyawanya yang belum terkumpul. Sesuatu yang berat berada diatas pinggangnya, ketika Wooyoung menoleh ke sisi kiri ranjang, ia mendapati San masih tertidur lelap dan dengkuran halus dapat ia dengar dari sang kekasih.

Dengan hati-hati Wooyoung menggeser posisinya, menghadapkan wajahnya sepenuhnya ke arah San agar bisa lebih leluasa mengagumi wajah rupawan sang kekasih. Wooyoung enggan menyambut hari, kalau perlu ia masih ingin berada di posisi ini saja sampai besok pagi. Wooyoung merasa damai dan tenang saat berada dalam dekapan hangat pria itu.

Wooyoung tidak akan berhenti kagum akan betapa tampannya seorang Choi San, terlebih saat pria itu sedang terlelap seperti sekarang. Setiap sisi wajah San terlihat sempurna di matanya. Mulai dari garis alis mata yang indah. Bola mata yang menghilang saat pria itu tersenyum. Hidung mancung. Lesung pipi yang belakangan ini sering Wooyoung kagumi. Rahang tegasnya. Sampai bibir merah muda yang menjadi favorit Wooyoung, ia mendadak jadi suka membayangkan waktu dimana mereka berciuman.

Tidak, tidak, tidak.

Wooyoung bukan sedang membayangkan hal-hal kotor, ia hanya teringat rasa manis dari bibir San setiap pria itu menciumnya. Wooyoung menyukai gerakan lembut San yang menyapu setiap inci dari bibirnya dengan pelan dan hati-hati. Oke, sekarang Wooyoung jadi mulai membayangkan adegannya.

Mengapa Wooyoung terdengar mesum padahal ia hanya sedang mengagumi kekasih tampannya itu ?

Jemari Wooyoung terangkat perlahan, menyentuh permukaan kulit San hati-hati, takut membuatnya terbangun. Jari telunjuknya membelai kulit halus San. Mulai dari ujung dahi, lalu turun ke pangkal hidung dan berhenti di depan bibir. Bahkan kulit wajah San terasa sangat lembut seperti kulit bayi.

Tidak ada satupun jejak luka atau bekas jerawat di wajah San seolah pria itu benar-benar merawat diri dengan sangat baik. Yah, tidak seperti Wooyoung.

"Bagaimana bisa dia terlihat begitu tampan ?"

"Terima kasih pujiannya."

Wooyoung sedang bermonolog, tapi sepertinya San sedari tadi hanya berpura-pura tertidur. Wooyoung bisa melihat senyum tipis yang terukir di bibir pria itu. Senyum usil yang terkadang menyebalkan, tapi terkadang malah menggemaskan bagi Wooyoung.

"Tsk, kau sudah bangun daritadi ?" kesalnya.

Pria itu masih setia memejamkan mata, ia menarik Wooyoung lebih dekat ke dalam pelukannya. "Aku gemas kalau kau mengagumiku diam-diam seperti tadi. Kau sangat lucu. Aku sengaja pura-pura tidur untuk melihat bagaimana reaksimu pagi ini, biasa kau lebih sering bersikap acuh padaku. Jadi, kau bangga tidak punya kekasih tampan seperti aku ?"

Sebuah tepukan pelan mendarat didada San. Pria itu terkekeh pelan, tanpa membuka mata pun ia sudah tahu bagaimana ekspresi wajah Wooyoung saat ini. Pemuda manis itu pasti sedang merona.

"Aku kekasihmu, Jung Wooyoung. Aku milikmu. Kau bisa mengagumiku kapan pun kau mau, tapi kenapa kau masih malu-malu dan lebih memilih melakukannya saat aku sedang tertidur ? Gengsi ?"

Wooyoung membuat gerakan melingkar dengan jarinya di dada pria itu. Malu sekali mengakui ini.

"Kau akan mengejekku nanti," ujarnya.

"Aku ? Kenapa aku harus mengejekmu ?" Pria itu melepas pelukannya, memperbaiki posisi menjadi setengah berbaring dengan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menopang pipi. Kedua netra San yang terbuka sempurna mengagumi manik indah kekasihnya. "Nah, kau bisa melihatku sepuasnya."

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang