Yunho meringis begitu kapas basah menyentuh luka sayatan yang ada di lehernya. Cairan alkohol itu memberikan sensasi dingin dan perih yang luar biasa. Aneh, padahal Yunho sama sekali tidak merasakan apapun beberapa saat lalu sebelum Mingi mulai mengobati luka sayatannya itu.
"Shh, ... sakit, pelan-pelan," keluh Yunho dengan mata terpejam erat menahan rasa sakitnya.
"Maaf, tahan sebentar."
Mingi dengan telaten mengoleskan obat diatas luka Yunho lalu merekatnya dengan perban berwarna coklat. Mingi sangat berhati-hati, ia mengobatinya dengan begitu halus takut akan menyakiti Yunho lagi. Setelah selesai, ia kembali memasukkan obat-obat ke dalam kotak P3K miliknya, mengabaikan Yunho yang kini menoleh intens dengan tatapan bertanya. Mingi sadar Yunho memperhatikannya, namun ia berusaha untuk tidak terlihat peduli.
"Terima kasih," cicit Yunho pelan.
"Sama-sama."
Mingi menghindari kontak mata, dan Yunho tahu itu. Entah mengapa ia sedih memikirkannya.
Yunho tidak ingin tinggal lebih lama ditempat ini, itu membuatnya kembali mengingat sesuatu yang pernah terjadi diantara mereka. Yunho mengambil tas hitam yang kini tergeletak aman disampingnya, menenteng benda itu disebelah bahu lalu beranjak dari sofa tanpa bersuara. Beberapa langkah lagi menuju pintu keluar, seseorang tiba-tiba menahan pergelangan tangannya dari belakang. Pemuda itu berbalik dan bersitatap dengan bola mata Mingi yang menatapnya untuk yang pertama kali setelah sedari tadi terus saja mencoba menghindarinya.
Tingkah aneh Mingi benar-benar sudah berhasil membuat Yunho kebingungan dan salah paham.
"Kau, mau kemana ?" suara berat Mingi bertanya.
"Pulang, tentu saja. Oh, dan terima kasih karena sudah menolongku tadi. Kalau kau tidak ada, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi saat itu."
Yunho berada dirumah Mingi sekarang, pria itu yang membawanya kesini setelah menolongnya dari preman-preman jahat tadi. Sebenarnya Yunho bertanya-tanya bagaimana Mingi bisa berada disana, diwaktu yang tepat disaat dirinya sedang membutuhkan bantuan seseorang. Ia sedang berusaha untuk menahan rasa penasarannya, Mingi juga terlihat seperti tidak ingin bercerita.
Sejujurnya Yunho belum siap bertemu lagi dengan Mingi. Tidak setelah apa yang terjadi diantara mereka. Yunho meninggalkan Mingi dan pria itu juga tidak berusaha mencarinya. Keadaan menjadi sangat canggung ketika Yunho harus berhadapan lagi dengan Mingi dalam keadaan dimana pria itu baru saja menyelamatkan nyawanya dari preman.
Yunho sudah berjanji akan membiarkan malam itu berakhir dengan one night stand, tapi lihatlah dirinya sekarang, kembali lagi kerumah pria itu namun kali ini dalam situasi yang sudah berbeda.
Yunho merasakan sengatan aneh di tubuhnya ketika telapak hangat Mingi mencengkram erat pergelangan tangannya. Sensasi berdesir panas itu datang dan kembali mengingatkan Yunho akan sentuhan Mingi pada tubuh polosnya malam itu.
"Ini sudah lewat tengah malam, kau tidak akan bisa mendapatkan kendaraan umum lagi diluar sana." Mingi berdeham pelan menghilangkan suasana yang mendadak sunyi senyap, ia melepas cengkramannya pada pergelangan tangan Yunho perlahan. Mingi juga tidak sadar ketika ia dengan refleks menahan pemuda itu untuk pergi. "Aku rasa bahaya kalau kau pulang sekarang, diluar sudah sangat gelap. Jadi, eh—begini, maksudku, kau boleh tinggal disini paling tidak, sampai pagi."
"Tidak perlu, maaf merepotkanmu malam-malam."
Mingi kembali menahan pemuda itu. "Bagaimana kalau nanti sesuatu seperti tadi terulang lagi ?"
Yunho menatap kedua bola hitam Mingi lama, ia mencoba mencari arti dibalik seluruh perhatian dari pria itu padanya, namun nihil. Yunho tidak bisa mendapatkan jawaban apapun darinya.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)