'Young-ah'
Wooyoung menoleh kebelakang, jantungnya serasa berhenti berdetak disaat suara familiar itu tiba-tiba menyapa indera pendengarannya. Jujur Wooyoung berharap, sangat berharap sekali panggilan lembut yang ia dengar barusan itu nyata, tapi air matanya kembali mengalir karena ia menyadari kalau tidak ada siapa-siapa disekitarnya. Suara itu berasal dari perekam yang terletak di atas meja samping kasur.
Lagu classic yang sedari tadi berputar tiba-tiba berhenti, di ganti oleh putaran suara seseorang.
'Young-ah, ini aku Choi San. Hmm, ... apa boleh aku bertanya bagaimana kabarmu ?'
Sebuah pertanyaan itu berhasil membuat cairan bening semakin membanjiri kedua pipi Wooyoung.
Suara yang menggema dalam ruangan menghantar rasa rindu luar biasa yang tidak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Bahkan ketika Wooyoung sudah mencoba membekap mulutnya sendiri, suara isak tangisan pemuda itu masih terdengar dengan jelas.
'Kau pasti marah padaku kan ? Kau pasti kecewa karena aku tidak menepati janjiku untuk pulang secepatnya. Iya kan ? Tidak apa, kau berhak marah kok. Tapi tolong, jangan menangis. Aku tidak suka melihat kau menangis, itu membuatku ikut sedih.'
Bagaimana bisa ?
Katakan bagaimana mungkin bisa Wooyoung tidak menangis ketika rasa rindunya selama hampir satu setengah tahun ini tidak terbalaskan sedikit pun ?
Suara San yang terdengar cukup nyata itu berulang kali menusuk hati Wooyoung, ia mencoba menoleh kesana kemari berharap pria itu ada disini, tapi ia tetap tidak menemukan siapapun. Dadanya serasa diremas dengan kencang, rasa sesaknya luar biasa.
'Young-ah, maaf ... aku tidak tahu kata apa lagi yang pantas aku katakan selain maaf. Aku tahu aku jahat, Kau punya hak marah karena aku tidak memberi kabar padamu selama aku disini. Kau pasti sedih karena aku mengabaikan semua pesan yang kau kirim dan tidak mau menjawab panggilan darimu. Tidak apa, aku mengerti. Karena itu, aku sengaja membuat kejutan seperti ini. Anggap saja permintaan maaf dariku, yah ... meskipun aku sadar ini tidak akan sebanding dengan apa yang kau rasakan.'
Wooyoung ingin mengumpat, tapi ia juga tahu itu percuma. Kakinya melangkah mendekati perekam suara itu. Wooyoung lemah, tapi ia juga tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan ini. Sakit, tapi ia masih ingin mendengarkan suara San lebih lama lagi. Setidaknya Wooyoung berharap selepas ini rindunya akan mulai berkurang, terlampiaskan.
'Aku meminta bantuan Mingi dan Yunho untuk menyiapkan ini semua. Kau suka ? Kali ini kau tidak perlu khawatir tentang siapa yang akan membereskannya lantai. Kau tahu, ... Mingi marah-marah padaku, dia bilang kau mengambil Yunho darinya. Aku jadi merasa bersalah pada anak itu.'
San tertawa pelan.
'Aku harus bilang berterima kasih juga ke mereka, karena aku yakin mereka berdua pasti menjagamu dengan baik selama aku tidak ada. Young-ah, aku dengar kau lebih baik sekarang. Aku juga dengar kau sudah kembali bekerja dan punya banyak teman. Aku sangat senang waktu tahu tentang itu. Kau hebat, dan aku bangga punya kekasih sepertimu. Ah, kau masih menganggapku kekasihmu kan ? Aku tidak bilang putus.'
Wooyoung mengangguk tanpa ia sadari.
Tentu saja Wooyoung masih menganggap San itu kekasihnya, meskipun belakangan ini ia semakin tidak percaya diri dengan apa yang mereka jalani.
Justru Wooyoung berpikir San telah berpaling dan melupakannya karena menemukan kekasih baru.
'Young-ah, aku tahu kau kecewa padaku, tapi kau juga harus tahu kalau aku tidak pernah melupakanmu. Tidak pernah satu hari pun. Aku selalu memikirkanmu disini. Aku bertanya-tanya bagaimana kabarmu. Apa yang sedang kau lakukan sekarang ? Apa kau makan dengan teratur ? Apa kau bertemu dengan orang-orang baik ? Aku harap kau tidur dengan nyenyak tanpaku. Aku ingin tahu semua yang kau lakukan. Tapi aku hanya seorang pecundang yang tidak punya keberanian untuk bertanya langsung padamu. Entahlah, aku terlalu takut. Ya, aku tahu, aku memang bodoh.'
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)