Ch.85 - The Beginning

1.3K 87 15
                                        

ONE AND A HALF YEARS LATER








"Ya, Jung Wooyoung ! Cepat kembali kesini dan habiskan sarapanmu dulu sebelum kau pergi !"

"Tidak mau, aku sudah kenyang. Aku pergi, bye !"

Teriakan menggelegar Yunho dari ruangan dapur menjadi penyambut pagi Mingi. Pria itu berjalan gontai menuruni anak tangga dengan wajah yang masih mengantuknya, ia berdecak ketika melihat Wooyoung yang melaluinya sambil melambaikan tangan tanpa memberi salam. Dasar tidak sopan, pikir Mingi. Kadang Mingi heran kenapa ia masih mau menampung seorang Wooyoung dirumahnya.

Ah, kepala Mingi pusing kalau harus menghadapi pemuda tengil itu. Mingi butuh dekapan Yunho.

"Dasar anak tidak tahu di untung ! Padahal aku sudah masak susah-susah, anak itu malah pergi !"

Yunho tersentak ketika sepasang lengan berotot melingkar di pinggangnya. Pemuda itu bergerutu kesal mengutuk Wooyoung saat Mingi mengecup tengkuk dan mengistirahatkan dagu di bahunya.

"Kau sudah bangun ? Maaf, pasti berisik ya ?"

Pria itu mengangguk dengan raut manja. "Apa dia membuatmu kesal lagi ? Kali ini apa ? Hmm ?"

"Keras kepalanya tidak pernah berubah."

"Apa aku ganti saja pin rumah kita supaya anak itu tidak bisa datang lagi ?" Mingi memberi kecupan di pipi Yunho. "Nanti kau cepat menua kalau marah-marah setiap hari, dan juga dengan begitu kita jadi banyak waktu berdua. Bagaimana menurutmu ?"

Pemuda yang sedang sibuk membersihkan piring kotor dimeja menyiku perut Mingi pelan. "Jangan coba-coba atau aku akan ikut minggat dari rumah."

Pria itu mendesah. "Kita jadi jarang punya waktu berdua gara-gara anak tengil itu selalu menginap. Padahal dia bahkan punya dua rumah tapi kenapa selalu disini ? Aku kan juga butuh perhatianmu."

Yunho berbalik, menghadap Mingi dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas bahu sang kekasih. Yunho mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan singkat di bibir Mingi menenangkannya.

"Kau juga tahu kan kalau Wooyoung hanya sedang berpura-pura selama ini ? Percayalah, Wooyoung hanya akan menangis kalau dia di tinggal sendiri."

"Aku tahu ... "

"Meskipun terkadang aku kesal dengan sifat keras kepalanya, tapi aku juga bahagia karena dia sudah bisa lebih terbuka dan menganggap kita berdua ini tempat bersandarnya." Netra Yunho menatap pria itu dengan tatapan memohon. "Mingi-ya, ... tolong bersabarlah sebentar lagi. Aku sendiri sangat ingin menghabiskan waktu bersamamu, tapi aku belum yakin untuk meninggalkannya. Kau kan juga tahu bagaimana ceritanya, bocah itu masih suka sedih. Lagipula kita sudah berjanji pada San, kau ingat ?"

"Ya, aku ingat."

Keduanya saling berpelukan. Mingi mengeratkan dekapannya di pinggang Yunho, ia rindu perasaan hangat dalam jarak sedekat ini mengingat mereka sudah beberapa hari ini terpaksa pisah ranjang.

Tidak, bukan pisah ranjang seperti itu.

Yunho lebih sering mengobrol bersama Wooyoung di kamar tamu sampai keduanya ketiduran. Ya dan begitulah, Mingi sudah mulai terbiasa mengalah.

Berbicara soal Jung Wooyoung, dalam satu tahun terakhir ini pemuda itu sudah berubah lebih baik.

Lebih ceria. Mau diajak bicara. Lebih terbuka dan banyak bergaul. Semakin menyebalkan—menurut Mingi. Percayalah mereka tidak pernah akur saat bertemu. Bukan karena mereka saling membenci, hanya tidak akur karena mereka sering bersaing untuk mendapatkan perhatian lebih dari Yunho.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang