Wooyoung meringkukkan badan dibalik selimut tebal, keringat tipis mengalir deras disepanjang pelipis hingga membasahi bantal yang ada dibawah kepalanya. Tubuh kecil Wooyoung terus menggigil kedinginan, bibir keringnya bergetar dengan dahi berkerut dibalik mata terpejamnya. Ia demam.
Seharian Wooyoung hanya bersembunyi didalam kamar, setelah mengajukan cuti lewat satu pesan singkat ia hanya berbaring seperti mayat hidup diatas kasurnya. Wooyoung bahkan tidak bisa tertidur dengan nyenyak karena menahan rasa sakit dipuncak kepala dan dingin udara yang serasa menusuk tulang-tulang ditubuhnya. Sialan sekali.
Dering ponsel Wooyoung berbunyi tiada henti sejak pagi tadi. Wooyoung tidak memiliki cukup tenaga untuk sekedar bergerak dari posisi jadi ia hanya membiarkan puluhan pesan menggantung dilayar ponselnya begitu saja tanpa niat membalas.
"Jung Wooyoung ?!"
Pemuda itu menggeliat gelisah ketika seseorang menggedor pintu rumahnya dengan membabi buta. Ayolah, ia hanya butuh istirahat dengan tenang. Mimpi buruk sialan sudah lebih dari cukup mengganggu malam-malamnya, dan sekarang, saat ia sedang menahan sakit pun seseorang masih saja berusaha merusak harinya. Wooyoung kelelahan.
"Wooyoung-ah ?! Jung Wooyoung ?! Kau ada di dalam ?! Wooyoung-ah ? Cepat buka pintunya !"
Bibir Wooyoung meringis pelan, suara bel dan gedoran pintu berkali-kali membuat kepalanya berdenyut semakin kencang. Mata terpejamnya terbuka dengan perlahan disusul desahan berat dari bibir. Wooyoung bersumpah akan memaki siapa saja orang yang sudah membuat keributan didepan rumahnya itu disaat ia sedang sakit berat.
Wooyoung menghempas selimut tebal yang sedari tadi menutupinya dengan ekspresi jengkel. Rasa pusing menghujam kepala Wooyoung begitu ia mencoba bangkit dari posisi tidurnya. Kalau tidak cepat-cepat bertumpu pada meja nakas, mungkin Wooyoung sudah terjatuh ke lantai. Tubuhnya terasa begitu berat, tungkainya berjalan perlahan sembari mencoba mencari keseimbangan dan juga pegangan disetiap langkah kakinya yang lemah.
Begitu Wooyoung baru saja membuka pintu depan, seseorang dengan tiba-tiba menarik tubuhnya ke dalam sebuah pelukan dan memeluknya erat.
"Oh syukurlah kau masih hidup."
Wooyoung memekik perlahan ketika merasakan goncangan hebat yang mendadak datang padanya. Lagi-lagi Wooyoung merasa pusing dan denyutan dipuncak kepala. Kali ini bahkan ditambah dengan rasa mual luar biasa dibagian perut bawahnya.
"Sakit. Yunho-ya, bisa tolong lepaskan pelukanmy sebentar ? Kau membuat kepalaku semakin sakit."
Pemuda tinggi itu sontak melepaskan Wooyoung, ia mencengkram pundak sahabatnya itu sembari menerawang kondisinya dari atas turun ke bawah. Wooyoung terlihat seperti orang sakit, maksudnya, benar-benar sangat sakit. Kalau tadi pagi Yunho tidak mengajak Wooyoung makan siang bersama setelah pulang kerja mungkin ia tidak akan tahu kondisi pemuda itu separah ini. Yunho khawatir.
"Bodoh, kenapa tidak bilang padaku kalau kau sakit ?! Kalau aku tidak menghubungi lebih dulu kau pasti akan diam saja sampai besok," amuknya.
Yunho menuntun tubuh pendek Wooyoung untuk kembali kedalam kamar. Ini pertama kali Yunho berkunjung kerumah baru Wooyoung, dan sangat disayangkan ia harus datang karena hal seperti ini. Wooyoung bahkan tidak bisa banyak menanggapi omelannya. Pemuda itu terlihat tidak berdaya dan kembali menarik selimut menutupi tubuh hingga tersisa bagian kepalanya saja. Menggigil parah.
"Badanmu panas, kau demam."
Wooyoung menggeleng pelan. "Aku kedinginan," cicitnya dengan suara serak yang hampir hilang.
"Ck, sejak kapan kau sakit ? Sudah makan obat ? Bagaimana dengan sarapan ? Makan siang ?"
Wooyoung tidak mengkonsumsi apapun sejak kemarin malam. Jangankan makanan, air putih saja tidak. Nafsu makan Wooyoung benar-benar hilang, ia sama sekali tidak berniat memasukkan apapun kedalam lambungnya. Rasa mual ini sudah lebih dari cukup untuk menyiksanya. Tidak lagi.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)