"Iya, aku baik-baik saja disini, ... tidak, tidak, tidak perlu, tidak perlu mengirimkan uang untukku. Aku tidak butuh ... iya, baiklah, tidak perlu khawatir ... "
Yunho menggaruk kepalanya, mencoba tetap sabar mendengar seseorang di seberang sana yang masih terus berbicara panjang lebar. Sudah setengah jam, dan orang itu hanya mengulang nasihat yang sama.
"Kekasih apa ? Eomma, aku sudah bilang aku tidak punya waktu untuk itu ... tidak, tidak, tidak, jangan buat janji apapun, aku tidak mau kencan buta lagi ! Aku baik-baik saja meskipun tidak menikah, tolong berhenti memaksaku soal itu, aku tidak mau, titik."
Bola matanya sudah mulai berotasi malas.
"Ya baiklah ... aku akan usahakan pulang bulan ini. Sudah dulu, aku harus kembali sekarang. Ada yang mencariku. Jaga kesehatan. Sampaikan salam juga untuk Ayah. Maaf karena tidak pulang minggu ini."
Yunho mematikan panggilan telepon itu sepihak.
Punggungnya bersandar pada pintu, ia menghela.
Yunho lelah, kepalanya terasa berat karena ocehan panjang sang ibu. Tentu saja ia menyayangi wanita yang telat melahirkannya itu, tapi ada kalanya kata dan nasihat kuno sang Ibu terdengar menyebalkan.
'Apa kau sudah punya kekasih ?'
'Kapan kau punya niat untuk menikah ?'
'Apa kau mau ikut kencan buta lagi ?'
'Ibu sudah ingin cepat-cepat punya cucu.'
Yunho muak.
Inilah alasannya kenapa Yunho memutuskan tidak pulang ke kampung halamannya di Gwangju. Agar ia bisa menghindari pertanyaan itu. Belakangan ini Yunho mencari berbagai macam alasan setiap sang Ibu ingin mengunjunginya ke Seoul. Ia malas kalau berdebat lagi dengan wanita itu soal hal yang sama.
Sebenarnya Yunho bukan anak durhaka yang tidak ingin melihat kedua orangtuanya bahagia. Ia sudah sering membayangkan kehidupan pernikahan, tapi masalahnya kata 'menikah' yang ada dalam fantasi miliknya sangat berbanding terbalik dengan kedua orang tuanya. Yunho memang ingin menikah. Tapi sayang, tidak dengan wanita. Ya, ia menyukai pria.
Yunho tidak serta merta menerima dirinya di awal.
Percayalah Yunho juga sudah mencobanya dengan berkencan dengan wanita saat di masa kuliah. Tapi tidak peduli sekeras apa ia berusaha perasaan suka itu tidak pernah muncul. Bahkan tidak sedikit pun.
Dan masalah utamanya.
Yunho belum pernah membahas ini pada sang Ibu, apalagi Ayahnya. Mereka percaya kalau putra satu-satunya ini masih menyukai seorang wanita. Yunho akui penyimpangan ini bukan sesuatu yang patut ia banggakan. Sudah hukumnya kalau pria diciptakan berpasangan dengan wanita, karena itulah ia hanya bisa memilih untuk bersembunyi, hingga sekarang.
"Ini membuatku gila ... "
Di waktu yang sama, ponsel Yunho berdering lagi.
Satu notifikasi pesan dari sang ibu muncul di layar, membuat Yunho menghela napas berat. Wanita itu mengirimkan foto seorang gadis padanya. Sang Ibu ingin menjodohkan Yunho dengan anak dari teman dekatnya. Ini sudah bukan kejadian sekali dua kali.
Yunho sudah pernah mencoba kencan buta itu.
Tapi, pada akhirnya ia hanya terkesan tidak sopan karena meninggalkan teman kencannya lebih dulu.
Yunho tidak bisa.
Lagipula, ia sudah punya kekasih.
Sudah pasti, pria.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)