"Aku rasa ini bukan ide yang bagus."
"Kau bercanda ? Kita bahkan sudah sampai disini dan sekarang kau mau berubah pikiran ? Begitu ?"
Jari telunjuk Yunho terhenti ragu dia udara. Yunho tinggal menekan tombol bel lalu pintu apartemen di depannya akan terbuka, namun sampai detik ini ia belum mengumpulkan cukup keberanian untuk melakukan itu. Mingi dibelakang Yunho, menanti dengan sabar—hampir kehilangan kesabaran—tapi ia masih mencoba menunggu keputusan pemuda itu. Sebenarnya, mereka sendiri sudah kepalang tanggung untuk kembali. Kalau tidak malam ini, maka tidak akan ada kesempatan lagi di lain hari.
Kesalahpahaman ini harus segera diselesaikan, Mingi tidak ingin terus dihantui perasaan bersalah. Dianggap sebagai perusak hubungan orang lain sangat bertolak belakang dengan prinsip hidup Mingi sebagai seorang pria sejati. Mingi juga tidak tega pada Yunho yang terlihat sedih sejak putus.
"Oh ayolah, kau mau kita menunggu sampai pagi ?" keluh Mingi, ia sudah mulai jengah menunggu.
Yunho meminta bantuan lewat sorot mata gelisah. "Aku tidak pernah datang kesini sebelumnya, aku takut dia semakin marah padaku. Bagaimana kalau nanti semuanya malah berakhir semakin parah ?"
"Jung Yunho, kau dan aku tidak datang untuk mencari keributan, kita datang untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, untuk apa dia marah ?"
"Tapi ... "
Hwiyoung sudah pernah menegaskan dengan keras kalau Yunho tidak boleh berkunjung kerumahnya. Mereka bahkan pernah bertengkar lama karena masalah ini. Yunho hanya takut kalau ia semakin memperkeruh hubungan mereka. Seandainya ia memberikan sedikit waktu bebas untuk Hwiyoung menenangkan diri, mungkin pria itu akan merasa bersalah lalu datang padanya suatu hari nanti.
Tapi, bagaimana kalau tidak ?
Bagaimana kalau ternyata Hwiyoung tidak akan pernah menghubunginya lagi ? Maka ini akan menjadi satu-satunya kesempatan terakhir bagi Yunho untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.
"Tsk, kau terlalu lama."
Mingi menekan bel pintu sebelum Yunho sempat mengambil nafas, alhasil ia gelagapan. Kakinya bergetar gelisah, kedua tangannya meremas ujung kaus tidak sabaran. Yunho dapat mendengar suara langkah kaki dari dalam sana, jantungnya berdetak kencang saat pintu didepannya terbuka lebar. Ia sudah menyiapkan senyuman manis andalannya untuk menyambut Hwiyoung, namun senyuman itu seketika menghilang saat orang yang muncul dihadapannya bukan Kim Hwiyoung, kekasihnya.
Melainkan seorang wanita cantik dengan balutan pakaian minim berwarna merah mencolok.
Wanita itu memperhatikan Yunho dari atas ke bawah dengan tatapan bertanya. Dahi Yunho ikut berkerut membalasnya. Ia mencoba memastikan nomor apartemen satu kali lagi, tapi benar, ini jelas apartemen Hwiyoung. Tapi siapa wanita ini ?
"Mencari siapa ... ?" tanya wanita itu.
"Bukankah ini rumah Kim Hwiyoung ?"
"Hwiyoung oppa ? Ya, benar, kau siapa ?"
Tidak, tidak, Yunho berusaha mengubris segala pikiran buruknya. Mungkin wanita itu adik perempuan Hwiyoung, tapi setahu Yunho, kekasihnya itu tidak memiliki adik perempuan.
Atau mungkin sepupu jauh ?
Tapi sepupu macam apa yang memakai pakaian setipis ini dihadapan keluarganya sendiri ? Yunho kesulitan menelan ludahnya. Tenggorokan Yunho terasa kering untuk sekedar berbicara. Ia bisu.
Mingi baru akan membuka suara bertanya saat seorang pria lain muncul dari belakang wanita itu dalam keadaan telanjang dada. Pria itu menguap sembari mengacak-acak rambut berantakannya.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)