Suara alunan musik yang berputar lewat radio di mobil menjadi satu-satunya hal yang mengiringi perjalanan Mingi dan Yunho selama satu jam ini.
Belum ada percakapan berarti yang keluar dari bibir mereka. Keduanya sama-sama bungkam seolah bisu. Mingi yang menyetir berusaha fokus pada jalan raya di depannya, sedangkan Yunho memalingkan wajah ke arah jendela. Pemuda itu tidak sedang mengamati pemandangan diluar sana melainkan ia sedang tenggelam dalam lamunan.
Atau lebih tepatnya, Yunho sedang memikirkan sesuatu, tentang seseorang disamping kirinya.
Percakapan mereka yang terakhir kemarin masih terbayang-bayang dibenak Yunho. Sepertinya Mingi benar-benar serius dengan ucapannya untuk tidak lagi memohon pada Yunho. Lihatlah dari sikap dingin pria itu yang mengabaikan Yunho.
Jujur, Yunho sedih karena itu.
Sepanjangan perjalanan Mingi tidak mencoba menarik perhatian Yunho. Tidak menanyakan kabar. Atau paling tidak pria itu bertanya seputar Wooyoung. Meskipun Yunho juga menghindari Mingi, tapi setidaknya ia masih berharap pria itu peduli padanya. Ya, sedikit egois memang. Yunho sudah cukup lelah dengan semua kejadian yang menimpa Wooyoung, ia hanya butuh seseorang untuk tempat bersandar, namun hubungannya dengan Mingi tidak kunjung membaik. Bahkan mungkin jauh lebih buruk dari hari sebelumnya.
'Apa kau ingin kita berakhir ?'
Pertanyaan itu terputar berulang-ulang dalam ingatan Yunho, tapi hingga detik ini ia belum menemukan jawaban untuk itu. Jujur saja, tidak pernah terbesit sekalipun dibenak Yunho untuk berpisah dengan Mingi. Termasuk ketika Yunho memilih pulang ke kampung halaman bersama sang Ibu tanpa mengucapkan salam perpisahan. Yunho sungguh tidak meninggalkan Mingi, ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri.
Tapi sepertinya kekasihnya itu sudah terlanjur kecewa pada Yunho. Sangat kecewa malah.
Tanpa Yunho sadari, cairan bening mengalir tipis lewat ekor matanya. Yunho tidak sedang meratapi hubungannya dengan Mingi, ia hanya merasa sangat bodoh. Bagaimana bisa keputusan yang Yunho kira baik membuatnya melukai seseorang sebaik Mingi ? Yunho menyesal, namun hingga detik ini ia belum menemukan cara untuk kembali.
Isakan pelan Yunho terdengar hingga ketelinga Mingi yang pada saat bersamaan juga sedang mencuri pandang kearah pemuda itu. Pantulan wajah Yunho dari jendela berhasil Mingi tangkap, dan ya, ia tahu pemuda itu menangis. Mingi tidak tahu apa sebabnya, tapi ia membenci fakta bahwa Yunho menangis didepannya. Mingi tidak suka.
"Yunho-ya ... ?" panggilnya.
Pemuda yang tidak kunjung menjawab membuat Mingi pada akhirnya memilih menghentikan laju mobil disamping jalan. Mingi tidak akan bisa menahan diri lebih lama lagi. Berada dalam jarak sedekat ini dengan Yunho membuatnya ingin memeluk pemuda itu. Meskipun Mingi sudah berjanji untuk tidak membiarkan perasaan pribadi mengendalikan emosinya, tapi percayalah ia tidak akan pernah bisa melakukan itu. Yunho masih menjadi orang terpenting dalam hidupnya sampai saat ini dan tentu saja ia tidak akan tenang melihat pemuda itu menangis seperti ini di sampingnya.
"Kau baik-baik saja ?"
Mingi memutar badan, menghadapkan seluruh perhatiannya pada sang kekasih. Raut wajahnya khawatir, namun pemuda manis itu masih saja enggan menoleh ke arahnya. Malah menghindar.
"Yunho-ya ? Kau kenapa ? Coba lihat aku."
"Aku baik-baik saja." Pemuda itu menghapus jejak air matanya cepat. "Jangan pedulikan aku, cepat jalankan saja mobilmu. Perjalanan masih jauh, dan kita sudah harus sampai disana sebelum malam."
"Lihat aku."
"Sudah kubilang jangan pedulikan aku."
"Jung Yunho ! Aku bilang lihat aku."
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)