Ch.29 - Officially Yours

2.1K 165 36
                                        

Decapan bibir menjadi satu-satunya suara yang terdengar dalam kamar itu. Wooyoung tidak ingat kapan ini dimulai, yang jelas sekarang ia sudah berada diatas pangkuan San dengan tangan pria itu memeluk pinggang rampingnya agar tidak jatuh.

Bibir Wooyoung sedikit terbuka membiarkan San menautkan lidah keduanya untuk saling bertukar saliva. Ciuman serta sentuhan San bagai candu baru untuk Wooyoung. Seketika ia melupakan seluruh rasa sakit yang sempat menerjang puncak kepalanya. Ini bahkan lebih efektif dibanding obat-obatan pahit yang Yunho berikan padanya tadi.

Untaian air liur terputus ketika keduanya menjauh untuk mengambil nafas. Pasokan oksigen hampir habis membuatnya keduanya terengah. Wooyoung bisa merasakan deru nafas hangat San menerpa wajahnya. Dahi keduanya saling bersentuhan, ia menangkap San sedang menarik oksigen sebanyak mungkin dengan senyuman bahagia di bibirnya.

Dia tampan. San selalu terlihat tampan dimata Wooyoung, namun untuk hari ini pria itu sedikit lebih berbeda dari biasanya. Jauh, jauh, jauh lebih tampan—mungkin ? Entahlah, wajahnya berseri. San tidak bisa berhenti tersenyum sejak tadi, meski jelas Wooyoung tahu kalau pria itu pasti kelelahan setelah perjalanan jauh. San juga belum istirahat.

"Jangan tersenyum," pinta Wooyoung. Jantungnya berdegup tidak karuan setiap San tersenyum manis didepannya. Lama-lama ia bisa semakin jatuh hati.

Pria itu menggosok pangkal hidungnya pada milik Wooyoung menggoda. "Kenapa, kau tidak suka ? Aku tersenyum karena aku sedang bahagia."

"Tidak, aku suka. Tapi jangan tersenyum." Belum sempat San menjawab Wooyoung sudah lebih dulu menyela dengan malu-malu, "Karena, ... kau mulai membuatku berdebar setiap saat kau tersenyum."

"Kau sadar kata-katamu barusan itu terdengar aneh kan ?" San menyipitkan kedua matanya. "Maksudku, tentu saja aku suka kalau kau seperti ini, tapi rasanya masih sulit untuk terbiasa. Aku lebih mengenal Wooyoung yang sarkas dan cuek."

Bukan hanya San, Wooyoung pun tidak terbiasa dengan dirinya sendiri. Wooyoung hanya tidak mampu menahan perasaannya lebih lama lagi. Ia ingin mengungkapkan segalanya, apa yang sedang ia pikirkan dan apa yang sedang ia rasakan setiap bersama San. Lagipula, mungkin efek dari sakit membuatnya tidak tahu malu lagi saat ia harus menggeliat manja dalam pelukan hangat pria itu.

"Ahh, apa aku harus pergi jauh lebih dulu supaya kau bisa merindukanku seperti sekarang ini ?"

Wooyoung mengerutkan dahi sebagai reaksi tanda tidak setuju dengan ide itu. "Jangan katakan itu lagi, bukannya kau sudah pergi cukup lama ?"

"Yah, tapi aku ingin melihatmu seperti ini setiap hari. Aku ingin kau merindukanku, aku ingin kau hanya bergantung padaku." Netra lembut San mengamati setiap lekuk wajah pemuda manis dipangkuannya dengan tatapan memuja. "Young-ah, aku rasa, aku benar-benar menyukaimu. Yah, maksudku bukan hanya sekedar suka, tapi lebih dari suka. Aku mencintaimu, sangat. Bagaimana kalau, kau tahu, kita berkencan, menjalin hub— "

Wooyoung membungkam San dengan sebuah ciuman dalam. Kelopak indahnya terkatup rapat perlahan ketika pria itu mulai membalas dengan memeluk tubuhnya erat. Decapan bibir dengan bibir kembali terdengar. Jemari lentik Wooyoung memainkan anak rambut San, meremasnya pelan, berusaha menyalurkan seluruh perasaan tertahan yang tidak mampu ia ungkap dengan kata-kata.

Lenguhan terdengar dari sela bibir Wooyoung di saat telapak kasar San menelusup masuk ke dalam sweater tipisnya. Pria itu mengusap punggung Wooyoung, membelainya lembut sembari melumat bibirnya dengan sedikit bernafsu. Wooyoung tahu tidak seharusnya ia memikirkan hal seksual dalam situasi seperti ini, tapi ia mau San menyentuhnya.

Lebih dari sekedar ciuman.

"Fuck me ... " Wooyoung memohon frustasi.

Ekspresi wajah San sedikit terkejut. Hawa intens mengelilingi keduanya, bohong kalau San bilang ia tidak ingin melakukan lebih setelah sesi ciuman panas mereka. San masih cukup waras, ia sedang berusaha menahan hormonnya agar tidak segera menyerang Wooyoung yang sedang sakit, namun sekarang pemuda itu mengucapkan dua kata laknat yang malah berhasil membangkitkan birahinya.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang