"Ayolah, berhenti menangis. Sejak kapan kau jadi cengeng seperti ini ? Aku kan sudah minta maaf."
Wooyoung memberikan selembar tisu pada San, pria itu masih belum selesai dengan tangisannya.
Kurang lebih setengah jam sudah Wooyoung hanya diam mendengar suara isak tangis San yang tidak kunjung berhenti. Keduanya sedang duduk di atas bangsal Wooyoung dengan posisi San yang duduk menyamping, menghindari kontak mata. Pria itu sedak sibuk menyeka air yang mengalir dipipinya dan menenangkan diri disaat Wooyoung menarik senyum tipis di bibirnya. Ternyata seorang Choi San bisa terlihat menggemaskan juga, pikirnya.
"Aku sudah dengar percakapanmu dengan Yunho," ujar San dengan wajah tertunduk. Jari jemarinya memainkan tisu basah dalam pangkuannya. "Maaf, mungkin aku terlalu memaksa kehendakku tanpa memikirkan perasaanmu. Atau mungkin harusnya aku memberikanmu waktu berpikir sedikit lebih lama. Aku ... aku hanya terlalu merindukanmu."
Pemuda itu terkesiap mengetahui fakta bahwa San mendengar semua omong kosongnya. Wooyoung mengerti arti di balik sikap San barusan. Sekarang Wooyoung benar-benar menyesali setiap kalimat yang keluar dari mulutnya dan menyakiti pria itu.
"Soal itu ... "
"Young-ah, apa melihatku membuatmu mengingat kejadian itu lagi ?" San menoleh penuh harap. "Apa aku membuatmu sedih ? Kenapa kau merasa sakit saat melihatku ? Apa aku tidak bisa membuatmu bahagia, meskipun hanya sebentar saja ? Kenapa kau ingin mengakhiri hubungan kita ? Apa dengan begitu kau benar-benar bisa merasa lebih baik ?"
Dasar Jung bodoh Wooyoung, harusnya ia tidak sampai mengatakan hal-hal seperti itu tadi pagi.
"A–aku ... kau tahu, aku hanya ingin kau bahagia."
"Dengan menyuruhku pergi ?"
"Aku pikir ini cara terbaik."
"Young-ah, kalau kau bertanya padaku, jelas aku tidak ingin meninggalkanmu. Tapi, aku ingin kau juga bisa sembuh dari lukamu dan bisa tersenyum ceria, sekalipun bukan karena aku alasannya. Aku tidak ingin kita berpisah. Aku membutuhkanmu, dan aku sangat mencintaimu, tapi ... " San menelan ludahnya di penghujung kalimat, bibirnya bergetar saat hendak melanjutkan kata-katanya. "Apa kau masih ingat apa yang pernah aku katakan dulu ?"
Wooyoung menautkan dahinya kebingungan.
"Aku akan pergi kalau kau tidak menginginkanku lagi. Itu janji yang pernah aku katakan padamu dan aku akan menepatinya. Kalau aku pergi kau merasa lebih baik, tidak apa, ... aku akan pergi untukmu."
Jantung Wooyoung serasa berhenti berdetak detik itu juga. Tatapan tulus San menyorot tepat di bola matanya setelah sedari tadi menghindar. Perasaan terpendam yang tidak tersampaikan tergambar di sana. Wooyoung tidak tahu apa yang membuatnya tidak sanggup merangkai kata, mungkin karena ia juga merindukan San dalam jarak yang sedekat ini.
"Aku memohon padamu, tapi kalau sekarang kau tetap ingin aku pergi, ... aku akan pergi. Young-ah, aku hanya meminta satu hal padamu, berjanjilah padaku kalau kau akan baik-baik saja. Berjanjilah kau akan hidup lebih bahagia mulai dari sekarang. Lupakan semua hal yang pernah melukaimu. Dan juga, ... jangan lakukan hal-hal bodoh lagi. Jangan pernah menyakiti dirimu sendiri lagi. Bolehkan ?"
Bagaimana bisa Wooyoung melepaskan San pergi kalau setiap harinya ia merindukan kehadiran pria itu di sisinya ? Wooyoung ingin pria itu ada disini, menjaganya, menggenggam tangannya, memberi afeksi-afeksi yang membuat jantungnya berdebar setiap saat. Wooyoung akui banyak penyesalan dan rasa sakit yang ia rasakan setiap saat melihat San, tapi diwaktu bersamaan ia juga membutuhkannya.
Wooyoung tidak yakin ia akan baik-baik saja tanpa San, namun di satu sisi ia juga sangat sadar kalau hubungan mereka tidak akan mungkin bisa sama seperti dulu lagi. Inti masalahnya bukan ada pada pria itu, tapi Jung Wooyoung. Ya, dirinya sendiri.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)