Yunho duduk didepan Wooyoung, mengupas kulit apel dengan pisau tajam ditangannya. Pemuda itu seperti tidak punya kerjaan lain selain mengurusi Wooyoung. Satu jam yang lalu Wooyoung baru saja meminta San pulang, keadaan sang kekasih sudah terlihat seperti gembel setelah beberapa hari tidak sempat mengurus diri karena memikirkannya.
"Jadi, kalian sudah berbaikan ? Apa berarti kalian kembali bersama atau bagaimana ?" tanya Yunho.
"Hmm, ya ? Aku rasa."
"Kau rasa ? Jadi masih belum jelas ?"
Wooyoung menggigit potongan buah apelnya. "Aku meminta San untuk bicara dengan Ayahnya dulu."
Yunho melirik pemuda itu. "Kenapa ? Kau sudah tahu kan mereka pasti akan bertengkar lagi nanti."
"Ya karena itu, aku tidak mau dia sampai harus bertengkar dengan Ayahnya hanya karena aku."
"Lalu kalau semua tidak berjalan seperti yang kau harapkan bagaimana ? Mau meminta pisah lagi ?"
Wooyoung tidak ingin membayangkan itu, namun sedikit banyaknya ia sendiri mengkhawatirkan hal yang sama. Bagaimana kalau ketakutan Wooyoung itu benar kejadian ? Apa yang harus ia lakukan ?
"Aku tidak tahu ... " ujarnya dengan wajah sedih.
"Ckckck, kenapa kau mempertaruhkan sesuatu yang berharga untuk hal yang bahkan tidak pasti ?"
Wooyoung meletakkan garpu, pandangannya turun ke bawah. "Kau tahu Ayahku bajingan. San punya kehidupan yang sempurna sebelum dia bertemu denganku. Dia punya keluarga dan seorang Ayah yang mengkhawatirkan masa depannya. Aku tidak ingin menjadi penghalang untuk kehidupannya."
"Lalu, apa hubungannya dengan bajingan itu ?"
"Tentu saja, ada. Aku hanya ingin dia menghargai apa yang dia punya, tidak semua orang punya Ayah seperti Ayahnya San. Lihat saja aku, contohnya."
"Berhenti membicarakan itu. Jangan mengkasihani dirimu sendiri hanya untuk orang seperti bajingan itu. Dia sama sekali tidak pantas untuk di tangisi."
Ya, Yunho benar.
Mungkin Wooyoung harus berhenti mengungkit masa lalu yang tidak berarti itu. Tapi bagaimana ? Hati kecil Wooyoung tidak bisa berbohong kalau semua ingatan itu masih jelas dalam memorinya.
"Perlakukan San lebih baik saat kau masih punya kesempatan, jangan sampai kau menyesal nanti."
Tanpa perlu Yunho minta pun, Wooyoung pasti akan melakukannya. Untuk apa ia tega menyakiti seseorang yang ia cintai. Yah, meskipun Wooyoung sadar terkadang ia melakukannya tanpa ia sadari.
"Sebenarnya aku masih tidak percaya kalau kau dan San bisa berakhir sejauh ini." Yunho selesai dengan kupasan kulit apelnya. "Maksudku, tentu saja San pria baik, aku bisa melihatnya, tapi kau, masalahnya ada di dirimu. Kau selalu bilang kalau kau tidak akan membuka hati untuk orang baru lagi. Tidak peduli berapa kali aku membujukmu untuk kencan buta, kau selalu menolak dengan alasan kau sudah bahagia dengan dirimu sendiri. Jujur, aku terkejut melihat kau bisa mencintai San sedalam ini. Yah, sekaligus bangga juga padamu."
"Mau mengejekku ya ?"
"Bukan, aku hanya ingin bilang kalau San orang yang tepat karena dia bisa membuat seseorang yang trauma dengan masa lalunya seperti dirimu kembali merasakan cinta." Kali ini Yunho sedang memungut sampah untuk dimasukkan ke dalam plastik kecil. "Jalan hidup seseorang memang lucu bukan ? Di saat kau tidak berharap apapun maka sesuatu yang jauh lebih berharga akan datang di hidupnya tanpa sempat kau sadari," ujarnya asal.
Tunggu dulu. Wooyoung seperti mencium ada yang salah dengan sahabatnya itu. Mungkin bagi orang lain Yunho akan terlihat baik-baik saja, tapi dimata Wooyoung, sahabatnya itu menyimpan sesuatu.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)