Malam datang lebih cepat dari yang San harapkan.
Hari berlalu begitu saja tanpa sempat ia sadari.
Rasanya malam kemarin baru saja terjadi beberapa jam yang lalu namun sebentar lagi ia harus kembali menyambut hari baru. Hanya ia saja atau yang lain juga merasakan hal yang sama ? Ini membosankan.
Biasanya San selalu mengeluh soal pekerjaan yang menumpuk. Tapi, sudah beberapa hari ini ia justru terus bekerja tanpa henti. Benar-benar tanpa henti.
San mencari segala sesuatu yang bisa menyibukkan harinya. Meeting mendadak, inspeksi mendadak ke beberapa propertinya. Acara makan malam dengan karyawannya yang ia atur mendadak juga. Ia hanya tidak ingin membiarkan dirinya termenung bahkan untuk satu detik saja. Dengan bekerja ia akan lebih cepat lelah dan terlelap tanpa memikirkan apapun.
Sialnya, rasa kantuk yang San tunggu-tunggu tidak kunjung datang malam ini, padahal jarum jam kini menunjuk setengah sebelas hampir tengah malam.
San melempar tubuhnya ke sofa.
Cahaya dari gedung seberang yang menemaninya.
San merasa cukup beruntung karena ia masih bisa menikmati pemandangan dari penthouse miliknya.
Indah, tapi apalah artinya semua itu.
Ia hanya bisa mengaguminya sendirian.
San mengusap wajahnya kasar, ia benci saat harus berdiam diri seperti ini. Pikirannya kalut akan satu hal yang terus menganggunya. San kira semua bisa berakhir setelah malam itu. Tapi sepertinya, justru San semakin bingung dengan perasaannya sendiri.
"Jung Wooyoung."
Satu nama itu begitu membekas di benak San.
Tidak ada yang spesial dari pemuda itu.
San bahkan pernah bertemu seseorang yang manis dan menggoda. Tapi kenapa ? Tidak seperti mereka punya hubungan lebih. Si Jung hanya menganggap San partner one night stand. Dan San rasa, dirinya juga cukup sepakat dengan keputusan pemuda itu.
San mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia hanya penasaran dengan sikap dingin si Jung. Tapi masalahnya ia bahkan terus di hantui rasa bersalah karena meninggalkan pemuda itu sendirian setelah sex mereka kemarin. Percayalah, San punya alasan.
Setelah malam itu berlalu, San akui kalau ia malah semakin memikirkan si Jung. Bahkan saat ia tidak ingin memikirkannya pun wajah manis Wooyoung akan muncul dengan kurang ajar dalam benaknya.
Itulah alasan kenapa ia sengaja menyibukkan diri.
Untuk mengalihkannya dari pemuda itu.
San menghindar seperti pengecut.
Kira-kira apa yang Wooyoung pikirkan tentangnya sekarang ? Mungkin pemuda itu terus mengumpat dan menyumpahinya dengan kata-kata kotor lewat mulut manisnya. Ya, ini salahnya. San yang bodoh.
"Argh, ... kenapa aku melakukan itu ?!"
San menjambak rambutnya sendiri frustasi.
"Apa aku menyukainya ?"
San belum menemukan jawaban untuk pertanyaan yang satu itu. Semua masih terasa baru dan sedikit abu-abu. Jatuh cinta pada orang yang baru ia kenal terdengar aneh. Jangan-jangan, ia sudah terobsesi.
Tapi, bagaimana dengan rumah itu ?
Mingi dan Yeonjun yang notabene sahabat San saja tidak pernah menginjakkan kaki di rumah itu. Lalu ini ? Seorang Jung Wooyoung yang San kenal lewat hubungan dosa dan hanya dalam hitungan minggu.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)