Ch.22 - Patah Hati

2K 152 18
                                        

"What's wrong, bro ?"

Yeonjun menepuk pundak Mingi, menyadarkan pria itu dari lamunannya. Dari awal detik pertama Yeonjun menginjakkan kaki dirumah Mingi hingga sekarang, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata. Diam mematung, tidak menyambut Yeonjung riang seperti biasanya. Mingi bahkan juga mengabaikan pesan darinya sepanjang hari dan Yeonjun terlalu khawatir kalau sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.

Akhir-akhir ini selain San, Mingi juga terlihat berubah. Mereka sering kumpul bersama, namun seiring berjalannya waktu, ketiganya menjadi begitu sibuk dengan kehidupan masing-masing. Yeonjun tidak masalah dengan itu, melihat San yang begitu tergila-gila dengan seorang pemuda manis bernama Jung Wooyoung membuatnya ikut berbahagia. Tapi Mingi, anak satu ini lain cerita.

Mingi seorang maniac wanita, ia selalu menghabis malam mencari gadis-gadis cantik untuk diajak bermalam bersama, tapi belakangan ini Yeonjun justru tidak mendengar desas desus itu lagi. Saat Mingi tidak membalas pesannya, Yeonjun kira pria itu sedang sibuk menanam benih dirumahnya, tapi ternyata tidak. Mingi hanya sedang menonton TV dengan di temani sekaleng beer. Benar-benar aneh.

"Aku tidak yakin kau tertarik dengan apa yang sedang kau tonton sekarang," sindir Yeonjun.

Bola mata Mingi masih tertuju pada layar TV, tapi sepertinya Yeonjun benar, ia tidak benar-benar tertarik dengan acara yang ia tonton. Raga Mingi memang berada disini, tapi tidak dengan isi dalam kepalanya. Lebih tepatnya Mingi sedang melamun.

Yeonjun melirik pria itu semakin penasaran. "Ada apa ? Aku tidak melihatmu di club beberapa malam ini. Apa kau sudah mulai kehilangan minat ? Atau karena kau sudah ingin bertobat seperti San ?"

Bagaimana bisa Mingi menginjakkan kaki ditempat itu disaat ia sendiri sedang menghindari seseorang yang bekerja disana ? Jung Yunho. Ya, dia, pemuda itu. Seseorang yang telah membuat Mingi berubah menjadi patung tidak bernyawa. Bagaimana kabar pemida itu ? Mingi ingin tahu, tapi ia bahkan tidak punya cukup keberanian untuk pergi menemuinya.

Satu minggu telah berlalu sejak kejadian malam itu, hari dimana Mingi melakukan sesuatu yang bodoh pada Yunho. Tidak, tidak, Mingi tidak menyesalinya, hanya saja, ia merasa bodoh. Dari sekian banyak waktu mengapa harus malam itu ?

Selama ini Mingi selalu menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak tertarik dengan seorang pria, bahkan ia mengakui itu dihadapan Yunho.

Lalu, malam itu, entah atas dasar apa Mingi seolah tidak sanggup mengontrol dirinya sendiri. Yunho memang menarik, maksudnya, pemuda itu selalu terlihat menawan dengan caranya sendiri. Hanya saja di waktu itu Mingi tiba-tiba saja merasakan gejolak aneh teramat besar untuk memilikinya.

Bukankah Mingi terlihat brengsek ? Ini terkesan seperti Mingi ingin memanfaat Yunho yang sedang dalam kondisi tidak berdaya. Mingi yakin Yunho pasti mengutuknya, terbukti disaat ia terbangun pemuda itu sudah tidak ada lagi disampingnya.

Yunho membencinya, begitu pikir Mingi.

Jujur, malam itu adalah yang terbaik dari seluruh pengalaman Mingi. Entah karena Mingi terlalu bernafsu malam itu atau memang karena alasan ia sedang melakukannya dengan seorang Yunho.

Sempat terlintas di pikiran Mingi untuk mencoba menvalidasi dirinya sendiri, ide gila muncul begitu saja di benaknya untuk melakukan hal yang sama dengan pria lain. Tapi tidak bisa. Mingi tidak bisa melakukannya dan tidak tertarik sama sekali untuk melakukannya. Hanya Yunho, hanya pemuda itu yang membuat Mingi gelisah karena terus-terusan membayangkan adegan panas mereka tempo hari.

Ya, Mingi tahu, ini bukan waktu yang tepat untuk berpikiran mesum, tapi itulah kenyataan yang terjadi saat ini. Dan Mingi tidak bisa berbohong.

Mingi terngiang desahan erotis Yunho ketika ia menggagahinya. Wajah Yunho yang memohon dan mendekap tubuhnya dengan erat. Sentuhan kulit dengan kulit tanpa sehelai benang pun diantara mereka. Ah, itu benar-benar membuatnya gila.

Desire | WOOSAN [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang