Wooyoung tahu ini sangat bodoh, ia pun mengutuk dirinya sendiri sejak tadi. Selepas kepergian Yunho beberapa saat lalu, Wooyoung memutuskan untuk berjalan sejenak diluar rumah untuk mengusir rasa bosan. Seperti yang sudah Yunho tebak, Wooyoung melewatkan obatnya dirumah. Wooyoung kira ia sudah cukup sehat untuk sekedar mencari udara segar diluar, tapi nyatanya—tidak, ia masih lemah.
Wooyoung sedang menggigil kedinginan, ia hanya memakai sweater putih dan sandal rumahan biasa. Kepala Wooyoung yang terus berputar hampir saja meledak sebentar lagi. Padahal Wooyoung hanya berjalan sedikit kearah minimarket depan jalan raya untuk membeli sekaleng beer dan ramyeon tapi rasanya begitu melelahkan seperti berjalan kaki puluhan kilometer dari kota Busan ke Seoul.
Mengapa udara malam ini dingin sekali ?
Wooyoung mengumpat disepanjang jalan, ia benci terlihat lemah, tapi harus diakui ia benar-benar tersiksa sekarang. Seandainya Wooyoung bisa meminta Yunho untuk kembali menemaninya.
Nafas Wooyoung terasa berat, ia berhenti sejenak untuk mengambil udara. Tepat sekali tungkainya sedang terpaku didepan jalan yang biasa ia lalui. Wooyoung mendongakkan kepala keatas untuk memperhatikan langit malam yang gelap, biasanya ia akan bergidik ketakutan. Berkat cahaya lampu jalanan yang terpasang diatas dinding, Wooyoung seketika mulai melupakan segala mimpi buruknya.
Bayang-bayang wajah seseorang terngiang dibenak Wooyoung, ia tidak ingin mengakui ini tapi jujur, hampir disetiap detik kehidupannya ia selalu saja memikirkan satu nama—Choi San, Choi San, dan Choi San. Wooyoung tidak mengerti dengan itu,, banyak hal disekitar yang selalu mengingatkannya pada San. Dan ya, Wooyoung merindukannya.
Sudah begitu lama Wooyoung menutup diri untuk mengenal orang baru tapi San baru saja berhasil mendobrak pintu hatinya yang selama ini terkunci rapat. Perlakuan manis yang San berikan padanya seolah menunjukkan ketulusan pria itu. Wooyoung pun bisa merasakannya, di awal, tapi sekarang entahlah. Wooyoung tidak tahu jawaban pastinya.
Minggu demi minggu berlalu sejak kepergian San dari hidupnya. Pria itu benar-benar tidak kunjung memberikan kabar apapun pada Wooyoung. Jujur, awalnya Wooyoung tidak berharap banyak, namun semakin hari ia memang semakin merindukan San.
Dalam setiap perjalanan pulangnya, Wooyoung selalu berharap San muncul dihadapannya atau menunggu ia pulang didepan jalan seperti biasa. Wooyoung berharap San kembali datang dengan membawa plastik berisi makanan untuk disantap bersama setiap malam. Wooyoung berharap San akan kembali menganggu minggu paginya dengan segala kekonyolan yang pasti membuatnya kesal.
Wooyoung berharap San ada disampingnya. Detik ini, disaat ia sedang tidak ingin sendirian. Hanya untuk hari ini saja, hanya untuk malam ini saja Wooyoung benar-benar butuh seseorang untuk tempat bersandar. Dan ia berharap orang itu San.
Bukankah Wooyoung sangat menyedihkan ? Sakit tanpa ada siapapun yang menemaninya. Kalau Yunho tidak merawatnya mungkin sampai detik ini Wooyoung masih meringkuk lemah di atas kasur.
Helaan nafas berat keluar dari bibir Wooyoung. Ia meremas sweater ketika udara dingin menerjang tubuhnya. Langkah Wooyoung sedikit gontai akibat dari pandangan yang berputar sejenak. Ia memijat pelan puncak kepalanya sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah dengan hati-hati. Pandangan Wooyoung tertunduk ke bawa, fokus mengamati jalanan kering dengan rasa putus asa.
Tinggal beberapa langkah lagi, tinggal beberapa meter lagi sampai gerbang rumah Wooyoung terlihat namun kaki kurusnya justru mematung ditempat. Tanpa Wooyoung sadari, begitu ia mengangkat kepala, netra bulatnya tidak sengaja bersitatap dengan seseorang didepan sana. Kedua tangan Wooyoung jatuh ke sisi tubuh, bibirnya sedikit terbuka antara terkejut dan tidak percaya.
![Desire | WOOSAN [END]](https://img.wattpad.com/cover/356043060-64-k87004.jpg)