Dunia Alas XXXVIII

1K 91 29
                                        

[Ayank,sudah tenang?]

‘Sebentar lagi…aku takut tidak bisa mengendalikan emosiku dan malah menyakiti xavier nanti.’

Rai langsung keluar begitu saja,ia mengusap punggung tegap exa dengan lembut,exa saat ini sedang berdiri diatas sebuah batu besar dan didepan sana ada pemandangan indah sebuah aliran air di pinggirnya banyak bunga.

Exa sedang menenangkan dirinya,mencoba mencari banyak kata baik agar nanti bisa berbicara dengan xavier dengan baik-baik, garry sudah masuk lebih dulu ke dalam dunia cincinnya dan exa masih belum masuk juga,exa takut tidak bisa bersikap baik. Apalagi saat melihat perut xavier nanti,exa takut emosinya akan terganggu, exa tau seorang manusia mau sehebat apapun ilmu dan ketahanan dirinya,pasti akan selalu terjadi hal buruk jika dalam keadaan terhimpit situasi.

“Ayank,aku yakin kamu bisa,selama ini kamu tidak pernah kasar padaku dan white. Xavier dan calon anak kalian,sama ayank, aku pasangan mu sama seperti xavier,white putra mu sama seperti calon bayi itu. Kamu bisa,ada aku jika kamu ragu”

Exa berbalik menatap kekasihnya,mata rai memancarkan keyakinannya pada dirinya, exa menarik rai kedalam pelukannya.

“Ingatkan aku jika aku bertindak tidak baik”

“Tentu ayank…mau sekarang?”

Exa menjauhkan kepalanya,ia harus menunduk untuk menempelkan dahinya dengan rai,ia mengecup bibir rai sebentar sebelum keduanya masuk kedalam dunia cincin,tepat di depan pintu kastil.

“Kayanya kaka udah dateng”

Exa dan rai bisa mendengar suara garry yang sedang menenangkan xavier,exa masuk kedalam kastil setelah pintu terbuka dari dalam yang dibuka oleh dua bawahannya.

“...b-bar..”

Xavier menatap exa sebentar sebelum menundukkan kepalanya,tangannya bergerak menutup perutnya yang sedikit membuncit dengan bantal sofa,exa tadi melihat air mata yang masih mengalir keluar dari mata xavier.

“Ka!”

Exa melirik garry sekilas,anak itu diam,rai berdiri disamping exa sejak tadi hanya diam. Dengan langkah tegasnya exa melangkah dengan perlahan ke arah xavier yang masih menundukkan kepalanya, bahunya bergetar,kedua tangannya mengepal mencengkram bantal sofa di pahanya.

Tangan exa terangkat,dengan sedikit ragu exa menyentuh kepala xavier,begitu tangannya menyentuh kepala xavier exa bisa merasakan xavier yang menegang. Ia dengan lembut mengelus kepala xavier sampai xavier lebih tenang,lalu exa jongkok di hadapan xavier,kedua tangannya ia letakkan di dua kepalan tangan xavier, mengelus punggung tangan xavier dengan lembut.

“Tarik nafasnya…buang…tarik…buang…”

Xavier mengikuti ucapan exa,berulang sampai akhirnya ia bisa lebih tenang, punggung tangannya tidak berhenti exa elus dan itu membuat xavier merasa lebih baik lagi.

“B-bar..”

“Hm?”

Intonasi suara exa begitu lembut,biasanya hanya datar atau dingin,untuk sekarang sepertinya exa sudah mengatur intonasinya agar lebih lembut lagi.

“Gua…lo..”

Xavier bingung ingin memulai dari mana, bahkan nafasnya tercekat setiap mengeluarkan kata,exa dengan lembut menggenggam tangan xavier yang sudah tidak mengepal lagi,ibu jarinya terus mengelus punggung tangan yang dingin itu.

“It’s oke,pelan-pelan aja. Tenangin diri lo dulu”

Xavier menganggukkan kepalanya,mengatur nafasnya kembali,mencengkram tangan exa lebih erat lagi untuk merasakan kehadirannya nyata,beberapa saat ruangan itu jatuh dalam kesunyian yang tenang.

PERJALANAN ARIEXA MENJELAJAHI BERBAGAI DUNIA.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang