"Kamu bisa tenang sekarang, Davka. Teman mu itu sudah tidak kenapa napa. Nafasnya juga sudah mulai membaik, sepertinya penyakitnya kambuh. Sebaiknya berikan dia obat," Ucap Dokter Tia sambil menepuk puncak kepala Davka beberapa kali.
Davka merasa lega setelah mendengar ucapan dokter Tia. Ia lalu melirik Razka yang ternyata sudah membuka kedua matanya yang tengah menatap langit langit UKS. Ia cepat cepat berterimakasih dan menghampiri Razka.
"Ka, udah gak papa?" Tanya Davka mengkhawatirkan kondisi teman nya.
Razka meliriknya sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk, minta bantuan Davka soalnya lemes.
Ia menyentuh permukaan pipinya yang dibaluti kapas, pantas saja terasa sedikit perih.
"Dah puas seneng seneng nya? Dah dapet luka kayak gini mau gimana? Dah siap dapet Omelan bang Yohan? Dah siap beralasan sama bunda loe?" Berbagai pertanyaan bertubi tubi dari Davka itu membuat nya kembali pusing. Ia menutup kedua telinga nya dengan jari telunjuknya, berharap tidak mendengar Omelan si Davka.
"Orang ngomong tuh di dengerin napa..." Davka kembali bersuara. Nyatanya suara Davka tetap terdengar walaupun sudah menutup kedua telinga nya. Maklum, Davka ini juga mantan danton nasional yang mimpin paskibra waktu SMP.
"Iya mama Davka..." Jawabnya yang kembali menurunkan kedua tangannya. Davka mendengus. "Anak setan, Untung gue sayang."
Tak mendengar apa kata Davka, justru ia melihat ada susu kotak cokelat yang di pegang Davka, lalu merekah senyuman nya.
"Ka, mau itu." Tunjuk nya yang langsung mendapat tatapan bak laser dari Davka.
"Ini mah punya gue, itu punya loe." Timpal Davka yang menunjuk susu kotak putih di meja sebelah Razka.
"Anjir! Hambar! Gue bukan anak sapi ya, mana mau minum susu yang gak ada rasanya!" Pekik nya merasa jijik dengan susu kotak yang tidak memiliki rasa itu.
"Heh, ngeyel di kasih tau tuh! Biar gak kerasa, gue lengkapi pake roti cokelat kesukaan loe juga." Ujar Davka yang masih tak mau memberikan nya susu favoritnya.
"Mau yang cokelat, yang cokelat, yang cokelat!"
Dokter Tia tak bisa melerai keduanya. Razka yang keras kepala dan Davka yang bawel, lengkap sudah pertengkaran mereka.
"Davka, gue mau yang cokelat..." Rengek nya yang mengerjakan matanya lucu. Bibirnya mengerucut menandakan kalau ia tengah merajuk.
"Dih, ngapain loe kayak gitu? Emang nya gue bakal lunak? HH, kagak kali."
"Abis itu gue langsung pukulin aja tu si Gavin babi. Soalnya kalau di biarin gue bisa mati Dav," Ucap Razka yang tengah memakan roti cokelat nya lengkap dengan susu kotak cokelat yang di tukar dengan milik Davka tadi.
Mana yang katanya tadi gak akan lunak? Nyatanya dia gak tega ngebiarin si Razka sedih hanya karena ingin susu cokelat miliknya.
"Gue bawain juga jus tomat buat lu ya? Ntar gue kesini lagi. Awas aja kalau berani kabur, gue gak akan izinin loe pergi sendirian lagi. Gue juga bakal bilangin ke Abang loe itu kalau misalnya loe di keroyok dan gelud, gue juga bakal bilang kalau penyakit loe kambuh lagi—
"Banyak bacot banget njir, gue juga mau bobo aja disini. Selain itu, jangan jus tomat, gue mau nya es jeruk yang asem, "
Davka memutar bola matanya malas. Ia lalu menoyorkan dahi nya. "Gak baik buat paru paru loe," Peringat Davka dengan nada datar.
"Kemaren gue minum gak kenapa napa—
"Langsung kambuh beres berantem sama si Gavin. Masih mau ngelak loe? Demi kesehatan loe juga Ka,"
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Raka Not Razka
Teen FictionRaka Sahasya, laki laki yang hidupnya tidak pernah bahagia bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus itu meninggal dunia usai menyelamatkan seorang siswa yang terjatuh di jalan raya. Namun bukannya di berangkatkan ke surga, ia malah di...
