{Tanpa Judul}

615 61 14
                                    

"Berjuang itu melelahkan, tapi menyerah bukan pilihan."

•••••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


•••••

"Sudah tenang? "

Raka mengangguk pelan, sesekali Hadi mengelap ingus anak itu dan mengusap air matanya yang masih saja keluar.

Hadi tidak tahu anaknya akan jadi seemosional ini setelah menemui putra Mahesa. Bahkan nafasnya sempat sesak karena kebanyakan menangis.

"Pulang yuk... " Ajak Raka dengan mata yang sangat sipit, membuat Hadi terkekeh.

"Mau pulang sekarang? Mau pamit dulu gak sama bunda nya Razka? "

Raka terdiam dulu. Sempat menimang nimang karena ada rasa bersalah juga yang membuat Ratih berhasil menangis karenanya.

"Temenin sama ayah, "

Hadi tersenyum. Ia lalu menuntun putranya untuk kembali ke ruangan dimana Razka di rawat.

Diluar ada Kaivan dan Yudas, entah kemana perginya Daniel dan Yohan. Ratih pun bahkan tidak terlihat. Raka sempat melihat Razka dari jendela besar yang langsung memperlihatkan keadaannya sekarang.

Garis di monitor itu... Membuatnya sangat takut.

Takut jika Raka menyerah pada tubuhnya.

"Bang, " Raka menghampiri Kaivan yang terlihat semakin pucat dan kurus.

Kaivan mendongak dengan mata sendunya. "Aku, Aku Mau pulang, sama ayah... " Pamitnya yang terdengar lemah.

Yudas memperhatikan gelagatnya. Malu malu nya itu mirip adiknya sekali.

Kaivan hanya tersenyum. "Makasih ya, waktu itu udah mau nolongin adeknya abang... "

Raka tersenyum canggung sambil mengangguk. "Iya, sama sama... "

"Telinga loe kenapa? " Yudas menyahut, membuat Raka refleks memegang telinganya.

"Jangan di pegang sembarangan! " Katanya sedikit membentak. Ia lantas mengeluarkan tisu dari saku celananya.

Hadi buru buru menghampiri, sedikit terkejut karena anak majikan nya itu mengelap darah di telinga putranya.

"Biar saya saja, " Kata Hadi yang hendak mengambil Raka dari Yudas.

"Diem diem, " Kata Yudas yang berusaha mengelap darah yang keluar dari telinga Raka pelan pelan.

I'm Raka Not RazkaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang