"Ayah, bunda mau pulang dulu ya? Razka katanya demam tinggi, "
Ratih yang baru saja keluar dari ruangan Kaivan dan mengajaknya mengobrol tiba tiba khawatir ketika tahu bahwa si bungsu nya demam tinggi.
"Mau bunda yang pulang apa ayah? " Tanya Mahesa padanya. Ratih menggeleng.
"Biar bunda aja. Ayah jagain ivan disini ya? " Pint Ratih yang langsung di angguki Mahesa.
"Hati hati di jalan, " Kata Mahesa yang menyempatkan untuk memeluk Ratih dan mengecup keningnya.
Ratih mengangguk dan bergegas pergi karena Nathan menunggunya di parkiran.
Mahesa baru saja datang. Ia bahkan belum sempat masuk ke ruangan Kaivan. Mahesa belum siap melihat keadaan Kaivan. Mengingat penyakit jantung yang di derita Kaivan berasal dari ayah Mahesa dan turun langsung kepada putranya, sedangkan Mahesa hanya membawa genetik saja tanpa merasakan sakitnya juga, membuat Mahesa di hantui perasaan bersalah.
Sebelum masuk ke ruangan Kaivan, ia sempat menenangkan diri terlebih dahulu. Menyiapkan ekspresi yang harus ia tunjukkan kepada putra ketiganya yang bahkan hingga saat ini masih belum menunjukkan tanda tanda membaik meski sudah melewati masa kritis.
Perlahan tungkainya mulai melangkah masuk. Aroma obat obatan langsung menyapa indra penciumannya, dan sosok yang sedang terbaring lemah itu bagaikan menyapa kedatangannya--Kaivan menatap Mahesa. Membuatnya terenyuh ketika melihat tatapan yang biasanya ceria itu kini redup.
Mahesa langsung mengambil posisi duduk di dekat ranjang Kaivan. Sementara Daniel sedang mengerjakan beberapa tugas dari kantornya, menggantikan sang ayah.
"Gimana kabar Ivan? " Tanya Mahesa yang langsung meraih tangan Kaivan untuk ia genggam. Rasanya dingin, seperti...
Anak itu tampak memaksakan senyumnya dan mengangguk lemah. Mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu.
Mahesa tersenyum, sedikit tidak paham karena suara anak itu bahkan tidak terdengar olehnya. Mahesa sedikit mendekatkan wajahnya, agar bisa mendengar suara Kaivan.
"B, b, baiikk... Hhhhhh, "
Hembusan napasnya menyisakan uap di masker oksigennya. Menandakan bahwa bicara saja ia harus membutuhkan tenaga.
"Aaaahhh... Jangan memaksakan seperti itu. " Mahesa meraih puncak kepala Kaivan, mengusapnya dengan lembut, menahan air mata yang mungkin akan tumpah sebentar lagi.
Kaivan memejamkan matanya, merasakan elusan yang lembut dari Mahesa. Yang bahkan jarang ia rasakan karena Mahesa selalu sibuk.
"Ivan hobi banget ya masuk rumah sakit? Ivan hobi banget bikin ayah sama bunda khawatir? Ivan hobi banget bikin bunda nangis ya? " Pertanyaan itu langsung di tepis kaivan dengan sebuah gelengan kecil.
Tentu ia tidak ingin ini semua terjadi, ia hanya ingin sembuh dan tidak merepotkan orang lain. Ia tidak mau bunda nya menangis, kedua orang tuanya khawatir, bahkan meninggalkan adik kecilnya yang selalu menempel padanya dan membuatnya bahagia. Ivan tidak mau.
Namun bagaimana caranya ia melawan? Seberapa besar usaha kaivan untuk menahan rasa sakit pada jantungnya, ia tetap kalah dan akan berakhir di rumah sakit.
Andai mereka tahu kejadian yang sebenarnya...
"Maafin ayah, van... Maafin ayah... " Mahesa tertunduk. Pecah juga tangisnya.
Dan diam diam Daniel melihat itu semua.
"Kamu jadi begini gara gara ayah... " Ucap Mahesa sangat lirih.
Kaivan mengernyit. Ia sedikit khawatir melihat ayahnya menangis. Karena yang kaivan tahu, Mahesa itu orang hebat yang tidak akan pernah menangis. Mahesa adalah pahlawan Kaivan yang selalu kaivan banggakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Raka Not Razka
Novela JuvenilRaka Sahasya, laki laki yang hidupnya tidak pernah bahagia bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus itu meninggal dunia usai menyelamatkan seorang siswa yang terjatuh di jalan raya. Namun bukannya di berangkatkan ke surga, ia malah di...
