Gigi taring Ivan (1)

1.2K 91 11
                                        

Okey, tadi belom sempet kita bahas si anak tengah. Sekarang kita bahas aja ya ges ya.

Ini aku sedikit merubah cast nya Kaivan karna susah banget buat nyari cast nya dia. Harap harap klean gak kecewa ya. (Udah ku ganti di bonus cast)

Okkeh, kalian yang hadir dan baca, jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak ya!
Entah itu like, comment maupun kesalahan typo akyu.

Ekhem, sekian dan terimakasih.

°°°

Yohan berhasil mengancam kakak nya walaupun jantung nya berdebar sangat kencang tadi. Niat hati sih gak mau kayak gitu sebenernya, cuma Yohan terlalu kesal hingga... Hingga berani berkata kasar pada kakaknya.

'Tadi itu gak boong kok bang... Aku beneran marah sama abang. ' Batinnya menjerit ingin mengulang waktu. Rasanya sedikit menyesal, tapi ingat lagi!

Demi Kaivan!

Akhirnya Yohan sampai juga di sekolah adik adiknya. Ia di tugaskan bunda untuk menjaga adik adiknya karena bunda harus menginap di rumah sakit bersama Yudas.

Ia pun merapikan sedikit rambutnya yang berantakan karena sempat di terpa angin.

Iya tau kok... Yohan gak pake helm. Yohan  ngelanggar peraturan yang di buat polisi. Tapi Yohan terlalu gengsi buat nanyain dimana letak helm kepada Daniel.

Ia pun mencoba menetralkan  senyuman nya lagi, berharap tidak ada gurat gurat amarah yang tersisa disana.

"Bang Yohan! " Sapa Adrian ketika melihat Yohan sedang berjalan di lorong. Ia segera mengalaminya.

"Drian... Omong omong, tumben sekolah masih pada rame. Abang jemput Ivan nih, abang agak khawatir. Gak bisa di telpon daritadi,"

"Iya bang, sekarang jadwal eskul lagi padet. Udah gitu OSIS mau ngadain acara, makannya Ivan juga sempet turun tangan sebagai mantan ketua OSIS. " Terangnya yang membuat Yohan mengangguk angguk lucu.

"Mmm... Bang, ngomong ngomong, Ivan kenapa ya? Kayaknya lagi sensi banget, soalnya marah marah terus. " Bisiknya di telinga Yohan. Yohan menganga.

"Marah marah terus? Terus kenapa gak di suruh nenangin diri...? Gimana kalau jantungnya tiba tiba kumat? " Yohan sedikit menaikan nadanya saking khawatirnya.

"Marah marah nya nggak kasar kok bang. Nggak 'weh bangsat anjing! Sini loe goblok, ' gak gitu bang. Kayak... Ketus ketus gitu, "

Yohan menarik senyumnya. Adiknya pasti sedang sensitif. "Coba tunjukin ruang OSIS nya dimana. Biar abang ruqyah Ivan nya. " Canda nya yang membuat Adrian tertawa.

Dengan senang hati Adrian mengantar Yohan sampai ke ruang OSIS. Sempat terpana karena sekolahnya memiliki perubahan yang besar. Ia juga sedikit malu saat melihat fotonya di pajang disana sebagai siswa terbaik selama 3 tahun berturut turut. Ia tertawa sendiri.

Ternyata gue gak bodoh bodoh amat ya?

"Nah... Nyampe bang, " Kata Adrian ketika mereka sampai di ruang OSIS.

Terdengar beberapa kali benda yang sengaja di taruh kasar, membuat beberapa orang disana menunduk takut.

"Ck, bikin  proposal aja gak bisa. Gimana mau sukses acaranya? "

I'm Raka Not RazkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang