Bersama Kakek

686 68 10
                                        

Di hari kedua di rumah nenek, Razka sudah bersemangat dari subuh. Padahal tepat jam 11 malam anak itu sempat demam, tak tahu kenapa. Tapi kata nenek, Razka hanya kecapean, terlalu banyak menguras energi hingga tubuhnya lelah.

Dan lihat sekarang?
Anak itu sudah memakai topi koboy milik kakeknya. Sudah wangi bayi dan bersiap pergi ke ladang kakek. Kakek menjanjikan nya untuk melihat sapi dan memeras susu nya. Siapa yang tidak semangat, coba? Razka seneng gak kepalang, sampe lupa sama rasa pusingnya

"Hayu sarapan dulu... Jangan ninggalin sarapan, lho ya... " Nenek datang dengan panci sayurnya.

Razka menunjuk dengan semangat. "Buna! Itu sayur yang aku petik sama nenek kemaren! "

Ratih terkekeh dan mengelus kepalanya. "Iya, seger banget. Hijau hijau, "

"Gud mowning epriwan... " Suara yang sedikit serak itu membuat semua orang yang di meja makan menoleh, mendapati Kaivan yang sedang di papah Daniel menuju meja makan.

"Abang! Gud mowning tuuuu!!! " Jawab Razka dan membantu Daniel untuk membawa kakaknya duduk.

Ratih mengecek dahi putra ketiganya. "Emang udah gak papa, bang? " Tanya Ratih tetap khawatir.

Kaivan mengacungkan Dua jempol nya. "Kalo bisa aku acungin 4 jempol bun, "

Daniel ikut duduk. Ia melihat sekitaran tapi tidak menemukan keberadaan adik pertama dan ketiganya. "Yo sama Yu ke mana bun?"

Nenek yang menjawab. "Udah ikut kakek ke sawah, makan nya mau dibawain Razka, katanya. "

Daniel sedikit terkejut. Adik ketiga nya itu, yang benci lumpur itu mau ke sawah? Apa kata dunia?

Razka terkekeh melihat wajah Daniel. "Kakak mau ikut gak? " Tawarnya.

Daniel mengernyitkan dahi. "Kemana? "

"Aku, sama bang Ivan sama Kakek mau ke kandang sapi. Mau meras sapi. Mau gak? " Tanya nya lagi.

Daniel tersenyum tipis dan mengangguk. "Boleh, "

Razka terperanjat. Kakak sulungnya itu, yang hobi nya depan laptop dan pikirannya di penuhi dokumen itu mau ke sawah?!

Mahesa datang, dengan kaos hitamnya. "Sekali kali kakak ikut kesana, gak ada salahnya lepasin penat. " Sahut Mahesa sambil mengelus kepala si sulung.

Daniel terdiam. Merasa asing dengan sentuhan di kepalanya, tapi ia menyukainya.

"Jangan elus kepala Aku, " Ucap Daniel. Malu sebenarnya dia, tuh.

Ratih tertawa. "Kenapa, kak? Kakak juga masih bayi nya bunda kok. Mau udah dewasa pun, kakak masih bayi bunda yang hobi peluk bunda kalo marah. "

Kaivan dan Razka tertawa, wajah Daniel memerah. Sialan! Dia malu!

"Ndaa, "

Lah, kebiasaannya memanggil Ratih dengan sebutan 'Ndaa' itu semakin membuat kedua adiknya tertawa keras.

"Dahlah kak... Gak ada salahnya dianggap bayi ama bunda. Seneng kan padahal? Sok malu banget! " Razka, tukang julid number one.

"Malu tapi mau, kek kucing padahal Kak Daniel. " Julid number two. Kaivan yang terkikik geli.

Daniel hanya diam. Mau jawab pun bingung mau jawab apa dah. Dia hanya menyendokan sayurnya ke atas piring, lalu mulai makan. Pura pura tidak mendengar celotehan gak jelas dari kedua adiknya.

"Kalo makan, gak boleh... " Ratih meminta anak anaknya melanjutkan ucapannya.

"Tidur lah, " Jawab Razka.
"Gak boleh ngomong " Koreksi Kaivan yang mencubit pipi adiknya.

I'm Raka Not RazkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang