Janji Mahesa

605 65 13
                                        

"WAHAHAHAHAHA! YUDAS JELEK BANGET MUKANYA, HAHAHAHAHA!"

Yudas yang mendengar hal itu menggertakan giginya. Ia menunjuk Razka dengan tangan kotornya.

"SINI LU, SIALAN! RASAIN PERJUANGAN GUE BIKIN BERAS! "

Razka memeletkan lidahnya. "Ndak mauuu!!! Lu cuma bantu nanem padi doang ya! Gak ada lu sampe bikin beras! " Balas Razka yang membuat Kaivan ikut tertawa.

Yohan menyeka keringatnya, lalu melihat pada adiknya sambil tersenyum. "Ceria banget muka nya! Dari mana?! " Teriak Yohan, karena takut adiknya tidak mendengar.

"Abis mandiin Bujang dong! " Ujar Razka. Ia lalu menghampiri Yudas dan Yohan untuk memberikan bekal.

Anak itu duduk sambil membuka kotak bekal yang ia bawa. "Nih, buat kalian. Ada nasi bungkus sama sambel terasi spesial dari bunda," ujar Razka, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan.

Yudas yang masih kesal tadi mendengus, tapi tetap mengambil bungkusannya. "Dasar anak nakal. Kalau bukan karena buatan bunda, gue nggak mau makan," gerutunya, meskipun akhirnya ia menyantap makanannya dengan lahap.

"Eh, kalau makan jangan ngomong, Yu. Ntar keselek," ledek Kaivan sambil mengambilkan potongan tempe untuk Yohan.

Ia menikmati suasana di bawah pohon rindang bersama adik-adiknya.

Razka menghabiskan makanannya dengan cepat lalu bangkit, menepuk-nepuk tangannya yang berdebu. "Abang, abis ini kita cari kelapa, yuk? Aku tahu tempatnya!"

Yohan mengangguk sambil meneguk air dari botolnya. "Boleh. Tapi awas kalau kamu sampe jatuh atau malah bikin ulah lagi."

"Nggak bakal!" Razka tersenyum lebar, lalu menoleh ke Yudas.

"Eh, Yudas, mau ikut nggak? Lumayan, sekalian olahraga biar perut lo nggak makin buncit!"

Yudas melempar sekepal jerami ke arah Razka, tapi anak itu sudah kabur sambil tertawa terbahak-bahak. Kaivan yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala, berusaha menahan tawanya agar tidak semakin memancing amarah Yudas.

"Dasar bocah satu itu, energinya nggak ada habisnya," gumam Yohan sambil tersenyum tipis, lalu berdiri dan mengajak Yudas menyusul Razka.

Di sepanjang jalan menuju kebun kelapa, Razka terus bercerita tentang bagaimana ia memandikan Bujang, sapi peliharaan kakek.

"Tadi Bujang sempat ngambek lho! Nggak mau mandi karena airnya dingin. Tapi aku bisikin dia, kalau nggak mandi nanti dicium lalat-lalat! Langsung deh dia diem!"

"Razka... sapi nggak akan ngerti kalau dibisikin. Itu cuma kebetulan aja," ujar Yudas dengan nada datar.

"Eh, bisa aja! Gue yakin Bujang ngerti. Lagian gue kan pinter ngobrol sama hewan," jawab Razka dengan nada serius yang malah membuat Yohan tertawa keras.

"Kalau kamu ngobrol sama Bujang, jangan-jangan nanti kamu juga bakal ngajarin dia main catur, ya?" balas Yohan sambil mencubit pipi Razka pelan.

Razka mengerucutkan bibirnya. "Eh, jangan salah! Kalau Bujang diajarin sama aku, dia pasti jadi sapi paling pintar se-desa ini!"

Yudas memutar matanya, tapi tak bisa menyembunyikan senyum kecil di wajahnya. Di balik semua keributan mereka, Yudas sangat menikmati momen ini. Ia sangat merindukan Razka yang bawel, entah kenapa.

-------------

Setelah berjalan cukup jauh, mereka sampai di kebun kelapa milik kakek. Pohon-pohon kelapa menjulang tinggi, daunnya bergoyang lembut ditiup angin. Razka langsung berlari ke salah satu pohon sambil menunjuk ke atas.

I'm Raka Not RazkaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang