kembali pada tempatnya

1.2K 79 21
                                        

Cek cek!
Besok taun baru, harus dengan prat baru juga!

Ngomong ngomong kalian liburan gak nih?

Aku disini lagi nobar ama temen temenku, dah. Lebih tepatnya nobar sepondok.

Tapi sayang seribu sayang. Aku duduk paling belakang, mataku minus, kacamata ku patah... Dan berakhir burem.

Lagian mereka treak treak pas ada hantu aku malah celingak celinguk karna wujud hantunya aja kagak keliatan, beuh.

°°°

"Tau darimana...? "

Kaivan memulai percakapan saat Razka sudah meninggalkan mereka berdua. Karena Yudas belum mau buka suara, akhirnya ia sendiri yang mengajaknya berbicara.

Yudas terlihat melirik nya. "Aku tau, dan abang gak usah boongin aku lagi."

Kaivan terlihat menghela nafasnya, terdengar kok sama Yudas juga.
Kaivan lalu memutuskan untuk membuka masker oksigen yang menghalanginya berbicara itu. Lagian cuma sebentar, biar Yudas gak budek.

"Abang cuma gak mau... Kalo kamu, tau lebih dari itu... " Ucap Kaivan meski terengah-engah. "Sejauh mana kamu, tau...? "

Tanpa ragu Yudas menjawab. "Semua. Aku tau semuanya. Jadi... Plis bang, jangan lagi abang kayak gini. Abang harus transplantasi. " Yudas memohon, ia mendekati Kaivan dan memegang tangannya. Kaivan tidak menolak, untuk apa ia menolak sentuhan adiknya?

"Abang... Nggak, nunggu jantung buat, abang...? Abang keburu mati... Yu... "

"Bukan abang bakal keburu mati, abang cuma gak mau nerima jantung baru, kan? "

"Setelah nerima... Apa yang bakal, terjadi...? Apa abang, bakal sembuh total...? Nggak, abang justru bakal, ketergantungan obat... Seumur, hidup... " Jelas Kaivan. Ia memejamkan matanya. Kesal sekali, ia sudah merasa sesak lagi.

Mau tak mau Kaivan menaikkan kembali masker oksigen yang sempat ia turunkan.

"Setidaknya keadaan gak akan separah sekarang, abang gak bakal ketergantungan kayak ginian, abang cuma harus jaga pola hidup abang... Abang gak akan sakit sakitan lagi kayak gini. " Yudas masih mencoba membujuk Kaivan.

Kaivan terkekeh. "Dulu, abang juga dikasih tau, begitu... Yu... Jaga pola hidup... Gak akan sakit lagi... Tapi apa...? Jantung yang abang, Terima... Tetep bermasalah... "

"Abang kangen Evan, Yu... Rasanya gak adil, aja... Dia harus pergi demi orang yang nyusahin kayak abang, gini... " Kaivan mulai berkaca kaca, membayangkan senyum kembaran nya yang sangat hangat dan tulus.

"Nggak, bang Ivan gak nyusahin. Abang juga jangan nyalahin kepergian Bang Evan gara gara abang. " Yudas tersenyum, matanya ikut berkaca kaca.

Yudas menunjuk dada kiri Kaivan, dimana letak jantung itu berdetak lemah. "Bang Evan tetep disini, kan? Abang sengaja gak mau operasi karena yang berdetak disana itu punya nya bang Evan, gitu kan? "

Mau tak mau Kaivan mengangguk. Tangannya mengepal, menahan emosi yang berkecamuk.

"Abang transplantasi, bukan berarti bang Evan ikut pergi. Bang Evan tetep di hati abang, di hati kita semua, dan itu gak akan pernah kita lupain. " Yudas tersenyum, menyeka air matanya sendiri lalu memperbaiki masker oksigen abangnya yang sedikit longgar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 31, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

I'm Raka Not RazkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang