Sebelum idenya ilang, mending aku bikin sekarang aja. Oke?
Bagi yang belum tau siapa 'Evan or Jaevan', dia kembarannya Kaivan yak, sempet aku ceritain masa kecil mereka.
•••
Razka sedang mengunyah saladnya. Ia melirik Yudas yang tampak sedang melakukan gerakan aneh, seperti menyentuh belakang lehernya, lalu menggosok kedua telapak tangannya dan sesekali membuka ponselnya sekedar untuk melihat chat yang masuk.
Setelah itu ia melirik Kaivan. Abangnya itu juga tampak melakukan hal yang aneh. Kadang memasang dan melepas oksimeter, sudah beberapa kali dilakukan Kaivan dan ditegur dirinya. Kadang juga memainkan selang yang di sambungkan ke masker nya, kadang juga mengeluarkan suara aneh dari mulutnya, seperti 'brrr... Brrrr... Bwabwabwa'. Aneh!
"Bang, " Panggil Razka sambil menyuapkan apel ke dalam mulutnya.
Kaivan melirik.
"Saladnya... Enak, lho... Mau nyoba gakk? " Tanya Razka, sengaja menyodorkan sepotong apel kecil ke depan Kaivan.
Kaivan melirik sinis. "Abang, juga... Pengen... Gitu, amat dah... Julid nya... "
Razka tertawa. Renyah sekali sampai Yudas melirik nya. Sayangnya yang lain pada tidak ada. Daniel sibuk lagi di kantor, sedangkan Yohan harus mengurus beberapa hal perihal masalah kampusnya. Jadi Razka cuma di antar kesini.
"Kemaren, yah, aku nangis, kepikiran mulu ama abang tau. Sampe aku bilang rasanya aku takut mati. Tapi setelah liat abang sama Yu, jadi pengen julidin. " Kata Razka yang melirik keduanya. Kepada Kaivan dan Yudas secara bergantian.
"Kenapa? Ada apa? Emang aku gak tau kalian berantem? " Tanya Razka mulai serius.
Seketika ruangan menjadi hening. Kaivan menghela napas panjang, mencoba meredakan kekhawatiran Razka tanpa mengungkapkan kebenaran. Ia melirik Yudas, berharap adiknya yang dingin itu mau bekerja sama untuk menutup pembicaraan ini.
"Dek... kamu terlalu banyak nonton drama, deh," ujar Kaivan sambil memaksakan senyum. "Kita gak ada apa-apa. Paling cuma berdebat soal siapa yang lebih keren tadi sore..."
Yudas, yang sejak tadi sibuk menatap ponselnya, akhirnya angkat bicara, meski dengan nada datar. "Iya, cuma hal gak penting. Loe gak perlu mikirin."
Razka memicingkan matanya, jelas tidak puas dengan jawaban itu. "Debat soal siapa yang lebih keren? Yang bener aja, Bang. Kalau gitu, kenapa kalian berdua saling diem-dieman hari ini?"
Kaivan terbatuk kecil, berusaha mengalihkan perhatian adiknya. "Itu... cuma kebetulan. Abang lagi capek... Yu juga sibuk. Kalau keliatannya kayak kita lagi diem-dieman, ya mungkin cuma gara-gara itu..." Ucap Kaivan yang melirik Razka, mencoba tersenyum lagi.
Razka menatap Kaivan dengan raut penuh kecurigaan. Ia kemudian memandang Yudas, mencoba mencari tanda-tanda kejujuran di wajah kakaknya itu.
"Serius? Gak ada apa-apa?" tanyanya lagi.
Yudas mendesah pelan, lalu menatap Razka dengan tatapan datar khasnya. "Serius. Loe gak usah repot-repot mikirin hal yang gak penting. Lagian kita berdua udah gede, gak mungkin masalah kecil bikin kita musuhan." Ujar Yudas dingin, menatap Razka dengan tatapan datarnya itu.
Razka masih tampak ragu, tapi akhirnya ia menghela napas panjang. "Kalau kalian bilang gak ada apa-apa, ya sudah. Tapi kalau aku tahu kalian boong..." Ia melirik tajam ke arah keduanya, sebelum kembali menyuapkan salad ke mulutnya.
"Aku makan kalian! Am! " Razka menunjuk Yudas dan Kaivan bergantian dengan garpunya.
Kaivan terkekeh kecil, meski di dalam hatinya ia merasa bersalah. Ia tahu betul bahwa kebohongan ini hanyalah solusi sementara. Sementara itu, Yudas memilih kembali menatap layar ponselnya, menekan perasaan bersalah yang perlahan menguasai dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Raka Not Razka
Teen FictionRaka Sahasya, laki laki yang hidupnya tidak pernah bahagia bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus itu meninggal dunia usai menyelamatkan seorang siswa yang terjatuh di jalan raya. Namun bukannya di berangkatkan ke surga, ia malah di...
