Gigi taring Kaivan(2)

1.1K 91 2
                                        

"Abang kenapa pulang nya maghrib maghrib gini...? Kalau mau jemput Ivan malem, harusnya bawa mobil. Gimana kalau Ivan masuk angin??? "

Baru saja sampai di rumah, bunda nya itu langsung menegur Yohan yang menjemput Kaivan tanpa mobil.
Sudah Yohan duga sih sebenarnya, ia tahu bahkan sangat tahu apa yang di khawatirkan ibundanya.

'Masuk angin' nya Kaivan itu tidak bisa di sebut biasa. Bahkan jika menurut orang orang normal hanyalah demam ringan, tapi itu tidak berlaku untuk Kaivan. Masuk angin yang dirasakan Kaivan itu akan sangat menyiksa nya sampai ia sulit bangkit dari kasur. Dan itu pun berlaku untuk si bungsu Ganendra.

"Maaf ya bun, tadi Ivan ada urusan dulu di sekolah. Makannya pulang nya telat, " Yang menjawab itu Kaivan. Ia memang bersalah karena tidak mengabari kedua orang tuanya dulu.

"Kok bisa gak bilang bunda...? Bunda kan khawatir sama Ivan. Gimana kalau Ivan kenapa napa pas bunda nggak ada? " Ratih meraih kepala Kaivan dan mengusapnya. Usapan nya beralih ke pipi lembut anak itu.

Takut sekali. Ratih benar benar takut akan terjadi sesuatu yang buruk jika ia tidak ada.

"Jangan lagi ya Van? Bisa izin kok sama guru nya. Sekarang Ivan lagi gak boleh kecapean, kemarin denger kan nasihat dokter? " Tanya Ratih meminta jawaban putra tengah nya. Kaivan mengangguk lalu tersenyum.

"Janji bun, " Kaivan mengangkat jari kelingking nya, meminta bunda nya untuk mengaitkan kelingkingnya juga.

"Sekarang Ivan shalat dulu, bersih bersih badan dulu, abis itu makan, sama abang gak papa kan? Bunda mau nyuapin Razka dulu. Katanya gak enak badan, " Ungkap Ratih yang membuat Kaivan terkejut.

"Gak enak badan lagi? Bukannya baru sembuh? " Tanya nya tidak percaya.

Ratih terkekeh melihat ekspresi terkejut anaknya. "Gak enak badan biasa kok... Pusing katanya. Efek sakit yang kemaren belom ilang, "

Kaivan mengangguk lagi. "Yaudah, nanti aku jenguk Razka ke kamarnya. Aku ke kamar dulu ya bun, mau mandi. " Pamitnya lalu pergi menuju kamarnya.

Ratih lalu menatap Yohan yang terlihat kikuk di depannya. Ia lalu mengembangkan senyuman nya dan mengacak rambut Yohan.

"Gak papa bang, nanti jangan di ulangin lagi ya? Bunda mau titip anak anak, soalnya bunda harus nginep di rumah sakit. Tau sendiri lah, adek kamu yang satu itu gak bisa di tinggalin kalau lagi sakit. Sama Kak Daniel aja minta nya bunda yang nemenin. " Ucap Ratih sekalian curhat sama anak keduanya. Yohan itu enak di ajak curhat.

"Alah biasa dia mah bun. Badan gede, berotot, takut ama jarum suntik. " Yohan meledek adik kedua nya yang jelas jelas gak ada di sana. Ratih tertawa.

"Tau sendiri lah. Adek kamu yang itu kan trauma sama jarum suntik. Tangan nya pernah bengkak gara gara nadi nya gak ketemu. Ternyata nadi nya ketemu di kaki, " Ratih terkekeh sendiri mengingat Yudas yang menggaung kesakitan karena di infus.

"Untung... Aja, yang sekarang normal. Di punggung tangan, " Sambung Ratih melanjutkan ceritanya.

Yohan tersenyum. "Besok aku jenguk deh," Final Yohan yang membuat Ratih tersenyum.

"Iyaaa... Nanti—

" bundaaaa... "

Terdengar rengekan si bungsu dari tangga. Terlihat kepala nya mengintip, dengan muka bantalnya yang pastinya membuat Yohan dan Ratih sangat gemas.

I'm Raka Not RazkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang