Razka senang sekali malam ini. Mahesa benar benar mengabulkan keinginannya untuk bermain bersama. Bahkan jika biasanya ia makan bersama yang lain, Razka memilih untuk makan bersama Mahesa berdua di teras rumah nenek.
Mahesa dan Razka juga tidak hanya makan nasi, mereka membeli bakso cuangki yang melewat di depan rumah nenek.
"Dek gak mau di dalem aja? Dingin lho, " Kata Mahesa menyarankan. Ia sampai memakaikan anaknya jaket, ketika tangan Razka dingin.
"Kan makan bakso, yah. Jadinya gak dingin. Anget banget malah, badan aku nya. " Balas Razka sambil mengunyah bakso kecil.
Mahesa terkekeh. "Kalau di inget inget lagi, perasaan kemarin masih 5 bulan deh, masih suka nangis kenceng dan gak mau lepas dari ayah. Sekarang dah mau 18 taun... Gak kerasa, ayah makin tua aja. " Ucap Mahesa tiba tiba. Razka hampir tersedak mendengar ucapannya.
"Ayah apaan? Kemarin aku udah gede, kemarin kemarin nya lagi juga udah gede, terus kemarin kemarin kemarin nya lagi juga udah gede. Ayah kenapa siii? Dramatis amat, " Celetuk nya yang membuat Mahesa tersenyum kecut.
"Kamu gak tau ya, itu tuh kayak sebuah frasa, yang menggambarkan kalau pertumbuhan kamu itu cepet banget sampe ayah gak sadar kamu sudah sebesar ini. " Mahesa mencubit pipi tirus anaknya. Sedih sekali melihat berat badannya yang menurun drastis karena sakit.
"Gak peduli frasa frasa itu apa, yang penting aku sayang ayah. " Tanpa malu ia memeluk Mahesa, membuat Mahesa ikut senang dan merasa hangat dengan sikap putranya yang jarang sekali ia perlihatkan lagi setelah sekian lama.
"Ayah juga, dongg... Sayang adek selamanya. " Mahesa mengecup puncak kepala anaknya, yang membuat Razka terkekeh geli. Geli lah, Mahesa kan bukan Ratih. Agak aneh aja kalo bapaknya tiba tiba kayak gini.
"Yah, kalo aku pergi, ayah nangis gak?"
Pertanyaan itu mampu membuat Mahesa tertegun. Tidak bisa berkata kata, apalagi menyangkal.
"Maksudnya? " Mahesa mencoba memahami maksud ucapan anaknya.
"Ish, maksudnya, kalo aku gak ada nih, ya. Gak ada disini, mau ke luar negeri lah, ataupun meninggal lah, ayah bakal nangis gak? Secara kan, ayah itu orangnya kuat, tegas, selalu jaga image... Jadi gak mungkin nangis, ya? "
Mahesa menatap Razka sejenak, sorot matanya terlihat sedikit melembut meskipun wajahnya tetap tegas seperti biasa. Ia menarik napas dalam sebelum menjawab dengan suara rendah namun penuh makna.
"Razka, seorang ayah yang kuat bukan berarti gak punya hati. Kalau kamu gak ada... entah pergi jauh atau yang lebih buruk dari itu... Ayah gak cuma nangisayah mungkin gak akan pernah sama lagi. Jadi jangan pernah berpikir ayah gak peduli, hanya karena ayah kelihatan tegas. Kamu itu bagian dari hidup ayah, ka. "
Mahesa kemudian menepuk pelan kepala Razka, menyembunyikan emosi yang sedikit bergetar dalam suaranya.
Razka terdiam sejenak, menatap Mahesa dengan mata yang mulai berkaca-kaca, meskipun ia berusaha menutupi itu dengan tawa kecil.
"Ih, kok jadi mellow begini sih, Yah? Mana aku tahan dengernya. Ya udah, gak usah nangis kalo aku pergi nanti, cukup doain aja yang banyak biar aku bahagia di mana pun aku berada."
Dia mencoba tersenyum, tapi nada suaranya terdengar getir. "Tapi, Ayah tau kan, aku gak pernah bener-bener mau ninggalin Ayah? Cuma... ya... kadang aku takut, kalau waktu kita gak banyak lagi."
Razka menunduk sedikit, lalu dengan cepat mengganti suasana. "Eh, tapi tenang aja! Aku masih belum mau ke mana-mana kok! Ayah masih harus traktir aku bakso minggu depan, ya?" katanya sambil tersenyum lebar, berusaha mencairkan suasana.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Raka Not Razka
Teen FictionRaka Sahasya, laki laki yang hidupnya tidak pernah bahagia bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus itu meninggal dunia usai menyelamatkan seorang siswa yang terjatuh di jalan raya. Namun bukannya di berangkatkan ke surga, ia malah di...
