Akhirnya terungkap

857 81 22
                                        

Assalamu'alaikum ges!
Ini aku sudah bikin Pratt baruu...
Takutnya ada yang belom mengecek dan membaca prat sebelumnya, klean bolee langsung cek yak!
Pantesan agak sepi, ternyata notip nya kagak muncul 😭😑

Hmmm... Udah prat yang ke-89 nih, menentukan akhir itu ternyata sulit ya gess...

Bagi yang belum memfollow akunku, bole langsung di polow ya, kekekekekek...

-------

"Pada intinya, jantungnya Kaivan itu udah harus di ganti. Sebenernya keadaan ini udah darurat banget. Kambuhnya kali ini udah jadi peringatan buat kita, kalau jantungnya gak cepet cepet di ganti... Kemungkinan besar Kaivan bakal mengalami gagal jantung total. "

Ucapan Yohan membuat Yudas semakin diam. Apalagi ini...? Tidakkah cukup dengan adiknya yang sakit? Sekarang Kaivan juga sedang berada di ambang batas kesadarannya. Yudas semakin tidak mau bertemu Kaivan kalau seperti ini. Yudas malah takut sekali.

Yohan melihat adiknya gelisah. Sesuatu yang jarang Yudas perlihatkan, tapi akhir akhir ini ia selalu menunjukkan emosinya.

Ia tersenyum. "Tenang aja, Yu. Gak papa... Ivan gak bakal kenapa napa. "

Yudas mengangkat pandangannya. "Gak bakal kenapa napa gimana? Aku gak mau lagi kehilangan saudara. Cukup bang Evan aja, jangan lagi... "

Yohan menaruh garpu nya dan mencubit pipi Yudas lumayan kencang sampai ia kesakitan.

"Apaan sih bang??? "

Yohan terkekeh lagi. Ia menyesap kopinya lagi sebelum masuk ke pembicaraan serius. Ia rasa adiknya yang satu ini harus tahu mengenai kondisi Kaivan.

"Mau tau gak, beberapa alasan kenapa abang kamu yang keras kepala itu gak mau transplantasi? "

Pertanyaan itu membuat Yudas tertegun. Ia mengangkat kepalanya, tidak berbicara, tapi tatapan matanya mengatakan kalau ia sedikit penasaran.

"Abang harap kamu bisa jaga rahasia ini, ya. Abang gak pernah ceritain hal ini ke bunda, ayah, ataupun kak Daniel. Abang menghormati keputusan Kaivan. Cuma... Abang rasa kamu bisa juga jaga rahasia ini. "

Ucapan itu membuat hati Yudas berdebar. Dadanya merasa berat, entah kenapa. Ia mencoba menelan salivanya dan akhirnya mengangguk.

"Jantung yang berdetak buat Ivan itu... Jantungnya Evan. "

Deg!

Bagai sebuah tamparan keras, Yudas benar benar tak bisa lagi berkata kata. Apa katanya tadi? Jadi jantung yang berdetak di tubuh abang nya itu ternyata jantungnya Kak Evan?!

"K, ken—

Yohan mengangguk dan menarik nafas panjang. "Kamu ingat, kan kecelakaan waktu abang kembar kamu masih tujuh tahun? "

Yudas mengangguk. Yohan melanjutkan. "Waktu itu, keadaan Kaivan itu sudah bisa di pastikan gak akan selamat. Karena banyaknya luka dalam, salah satunya, jantung. Jantung Ivan waktu itu hampir aja gak berdetak, sedangkan kakak kamu, dia sudah tentu bisa selamat. Karena cuma mengalami kerusakan tulang, meskipun kalau ada, dia bisa lumpuh total. " Yohan menjeda ceritanya dulu. Rasanya berat jika harus membuka memori lama yang begitu menyakitkan ini.

I'm Raka Not RazkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang