A day with Mahesa

2.6K 150 2
                                        

Setelah mendengar semua cerita Razel, Razka jadi terdiam. Tidak ia sangka kalau nasibnya akan berakhir mengenaskan.

Razka tertawa miris ketika mendengar kalau sang ayah tetap tak peduli setelah mengetahui kalau anaknya meninggal dunia. Malah yang mengurus semuanya adalah Razel dan ibu nya. Apa apaan hal itu?

Sebenarnya dia anak siapa sih?

Ia mengusap air matanya kasar ketika tak sengaja jatuh membasahi pipinya. Dan hal itu tak lepas dari pengawasan Yudas dan Mahesa yang kini menjaga Razka. Sementara Ratih, Daniel dan Yohan berada di ruangan Kaivan.

"Kenapa? " Pertanyaan dari yang lebih tua satu tahun darinya itu membuatnya menoleh.

"Pengen balik. Bosen, hiks. " Jawabnya yang malah kembali terisak.

Mahesa menggelengkan kepala nya. Anak bungsu nya menangis hanya karena bosan berada di rumah sakit?

Yang lebih tua dari Yudas bangkit dan menghampiri Razka, berjongkok di depan nya sambil berusaha menunjukan senyuman yang terbaik.
Razka hanya mengernyit heran.

Ngapain ni bapak bapak sujud depan gue?

"Kamu mau pulang nak? " Tanya Mahesa sambil berusaha meraih tangan sang anak.

"Tadi dah bilang, mau. " Jawabnya masih ketus. Mahesa terkekeh, biarin aja. Masih proses PDKT lagi sama anaknya.

Dulu Yudas bahkan gak mau jawab pertanyaan dia kayak gini. Sekarang pas punya anak, gini lagi.

"Ayah ajak kamu jalan jalan keluar. Mau? " Tawar Mahesa yang membuat secercah netra itu berbinar.

"Kemana?! " Seru Razka bersemangat. Seketika dia lupa kalau dia lagi marahan sama Mahesa.

"Ke tempat yang kamu mau, " Jawab Mahesa ikut senang melihat perubahan ekspresi Razka.

Razka mengangguk anggukan kepalanya semangat. Wah dia seneng banget bisa keluar dari rumah sakit nih. Ia lalu menoleh pada Yudas.

"Ajak Yudas juga ya??? "

"Boleh, "

"Yessss!!! " Entah kenapa tapi Yudas tidak pernah melihatnya sesenang ini. Hanya di tawari hal sekecil itu tapi bisa membuatnya meledak kesenangan?

"Kak, bantu adikmu berganti baju. " Kata Mahesa yang langsung di angguki Yudas.

Ia memilihkan baju yang tepat untuk si adik. Razka bilang tidak usah membantunya untuk berganti pakaian. Malu juga lah, sesama laki laki saling liat. Nggak banget.

Ia hanya membantu Razka berjalan ke kamar mandi untuk berganti pakaian disana. Sementara itu Yudas dan Mahesa kembali saling diam.

"Keputusan yang tepat? "

"Ayah rasa begitu. Ayah harap Razka mau maafin ayah. " Jawab Mahesa yang merapikan sendiri tempat tidur Razka.

"Bunda marah, "

Walaupun singkat, padat dan jelas, Mahesa tetap mengerti ucapan Yudas kok. Anak itu emang suka sok misterius gitu. Untung bapak nye, jadi paham.

"Ayah yang urus. Tenang aja, "

Yudas rasa ayahnya jadi lebih santai sekarang. Ia sedikit tersenyum usil. Efek di musuhin sama Razka ini mah.

"Aku dah siap. " Sang empu yang bagaikan superstar itu muncul dari balik kamar mandi dengan baju pilihan Yudas. Ia tersenyum bangga. Adeknya makin ganteng pake setelan sederhana itu.

Hanya bermodalan kaos hitam pendek, dengan celana cargo berwarna senada dan ditutupi dengan jaket kasual berwarna biru putih. Tampan, walaupun wajahnya masih sedikit pucat.

I'm Raka Not RazkaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang