Setelah sempat berpamitan, mereka akhirnya memutuskan untuk langsung ke Jakarta. Anaknya jadi diam seribu bahasa, tidak ada obrolan kecuali suara Yudas yang mencoba mengajak Razka berbicara.
Razka sekarang tengah bersandar di bahu Yudas. Hanya bisa menatap jauh ke depan. Pikirannya buyar kemana mana, membayangkan Kaivan yang sudah keseringan kambuh berkali kali.
"Yu, " Panggil Razka pelan. Yudas cepat merespon. "Kenapa? Mau minum? " Tanya nya pelan.
Razka mengangguk. Yudas membukakan botol air mineral untuk adiknya. Razka menerimanya dan meminumnya sedikit.
"Loe bisa bayangin, gak? Sesakit apa perjuangan bang Ivan mertahanin jantungnya? " Tanya Razka yang membuat Yudas maupun Mahesa terdiam.
Yudas menatap Razka sebentar. Anak itu meremas botol minum nya, seperti menahan sesuatu.
"Yu gak tau gimana rasa sakit bang Ivan. Tapi Yu tau perjuangan Bang Ivan buat bertahan sampe sekarang. "
Razka terlihat mengangguk. Ia menarik nafas panjang dan akhirnya berkata.
"Rasanya sakit banget, Yu. " Ucapnya pelan.
"Kadang, kalau drop itu… rasanya seperti tubuh gue lupa caranya bernapas," Sambungnya.
"Bayangin lo tenggelam di laut dalam. Paru-paru lo ngemis buat udara, tapi nggak ada yang bisa masuk. Semakin lo berusaha, semakin sakit rasanya. Di saat itu, lo nggak cuma ngerasa sekarat... lo tahu, lo lagi berdiri di ambang kematian, cuma menunggu waktu sebelum semuanya gelap."
Yudas terdiam, menatap Razka dengan mata penuh kecemasan. Ia tahu adiknya sering drop, tapi mendengar Razka menjelaskannya seperti itu membuat dadanya terasa berat.
"Raz... lo nggak usah mikirin yang kayak gitu sekarang," ucap Yudas akhirnya, mencoba mengalihkan pikiran Razka.
Tapi Razka menggeleng lemah. Matanya menerawang ke luar jendela, menatap jalanan yang terus melaju.
"Gue nggak bisa nggak mikir, Yu. Itu terlalu nyata. Setiap kali gue ngerasa kayak gitu, gue cuma bisa mikir... apa ini akhirnya? Apa kali ini gue nggak bakal bisa balik lagi? Apa Bang Ivan juga kayak gitu? "
Suasana di dalam mobil terasa semakin sunyi. Mahesa yang duduk di kursi depan mengeratkan genggamannya di setir. Meski ia tidak ikut menoleh, ketegangan terpancar jelas dari raut wajahnya.
"Lo akan balik, ka. Mau loe ataupun bang Ivan, kalian bakal balik. " Yudas berkata, suaranya tegas tapi penuh kelembutan. "Gue tau lo kuat. Bang Ivan juga kuat. Kalau nggak, bang Ivan udah nyerah dari lama. "
Razka mendesah berat, air matanya hampir jatuh tapi ia menahannya sekuat tenaga. "Tapi gue capek, Yu. Gue capek selalu merasa gue harus membuktikan kalau gue pantas hidup. Setiap tarikan napas gue, rasanya kayak hutang yang nggak akan pernah bisa gue lunasin."
Yudas mengusap kepala Razka, membiarkan adiknya meluapkan apa yang dirasakannya. "Lo nggak perlu buktiin apa-apa, ka. Hidup lo sendiri udah jadi bukti. Selama lo masih di sini, selama lo masih berjuang, itu udah cukup."
Razka menatap Yudas, matanya penuh keraguan. Tapi di balik itu, ada sedikit cahaya harapan yang mulai tumbuh. "Lo bener, Yu?"
Yudas mengangguk, senyumnya tipis tapi tulus. "Bang Ivan nggak mau lo ngerasa kayak gini. Dia cuma mau lo bahagia. Kalau lo terus nyalahin diri lo, itu nggak akan bikin dia senang. Jadi tolong, ka... jangan menyerah."
Razka lagi lagi dibuat bungkam. Ia suka sikap Yudas ketika menjadi seorang kakak. Razka memeluk Yudas lebih erat.
"Yu... Gue gak mau pergi... Gue masih mau sama loe, sama bang Ivan, sama yang lain... " Bisiknya pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Raka Not Razka
أدب المراهقينRaka Sahasya, laki laki yang hidupnya tidak pernah bahagia bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang yang tulus itu meninggal dunia usai menyelamatkan seorang siswa yang terjatuh di jalan raya. Namun bukannya di berangkatkan ke surga, ia malah di...
