Andi tidak mengetahui jika dia telah menjadi objek pembicaraan banyak orang yang dia kenal. Karena dia memiliki masalahnya sendiri disini.
Yah, bagaimana mengatakannya....
Begini, jika ada seorang anak kecil yang menyukai sesuatu mereka akan terus mengikutinya bukan?. Semakin mereka tertarik semakin mereka lengket ingin menempel setiap saat. Nah, Andi sendiri tidak masalah jika ada anak kecil yang menyukainya dan mengikutinya kemanapun dia pergi seperti ekor kecil.
Tapi bagaimana jika yang terus melekat di dekatnya itu orang dewasa yang besarnya bahkan dua kali tubuh yang dia gunakan saat ini?. Logikanya adalah sebagai anak kecil seharusnya Andi akan merasa risih dan takut pada orang itu.
Dan yang aneh adalah dia sama sekali tidak keberatan terhadap orang ini. Seharusnya ada sesuatu yang salah disini bukan?.
"Kenapa kau berhenti?. Apa yang kau pikirkan hingga melamun?. Sini, aku bantu mewarnai gambarmu." Yama meluncur tengkurap di atas rumput sambil mengambil buku gambar dan krayon.
Andi kembali mengerutkan kening. Dengan cepat dia merebut krayon di tangan Yama dan mematahkannya menjadi dua. "Jangan menyentuh barang-barang ku. Itu semua milikku."
Yama hanya berkedip polos saat Andi menggeser semua peralatan gambar itu menjauh seolah takut dia akan mengambilnya lagi. Tapi bukannya marah pria itu malah tersenyum. Sambil menikmati sinar matahari yang hangat pria itu tetap mempertahankan posisinya dan mengamati Andi yang terlihat serius dengan kesibukannya.
"Kau suka dengan buku gambar yang aku berikan?." Beberapa helai rambut jatuh ke wajahnya yang tidak memakai kacamata. Yama menatap Andi dengan tangan terlipat.
"Diamlah."
Jawaban dingin itu sama sekali tidak memengaruhi ekspresi pria itu. Yama berbalik menghadap ke langit yang terhalang oleh dedaunan pohon dan menutup matanya seakan berencana untuk tidur.
Andi melihat perilaku santainya itu dan semakin merasa jika orang ini tiba-tiba terasa merusak pemandangan. Tanpa sebab apapun mulutnya tiba-tiba berucap, "Kenapa kau bisa begitu santai disini?. Kau tidak pergi mengamen seperti biasa?, kupikir sebelumnya kau mata duitan yang selalu berpikir jika waktu adalah uang."
Yama diam-diam membuka matanya. Cahaya matahari dengan menyilaukan langsung menusuk ke matanya saat daun-daun bergoyang karena angin.
"Haha yah, kau tidak salah. Tapi aku telah kehilangan gitarku apa kau lupa, Yuu?. Dan kita juga meninggalkan gitar tua yang aku temukan di gudang waktu itu."
"Kau sendiri yang meninggalkannya, bukan aku. Jangan mengatakan seolah itu juga kesalahanku." Andi menggerutu, tangannya tanpa sadar menekan krayon dengan goresan yang keras hingga ujungnya patah. ".... Ah"
Yama tiba-tiba mendekapnya dari belakang dengan senyum lebar. "Tidak masalah, aku akan mendapatkan krayon yang baru lagi. Tolong jangan marah padaku, bukan salahku jika kita tidak bisa pergi dari sini. Ini karena penjagaan mereka terlalu ketat."
"Tapi ini salahmu karena membawaku ke pulau ini. Sekarang Kita akan terjebak disini." Andi tanpa rasa bersalah menampar wajah Yama menjauh. Tapi tubuh anak kecil tidak pernah memiliki kekuatan yang besar. Tidak peduli seberapa kuatnya dia mendorong pria itu menjauh, Yama tetap menempel padanya seperti gurita.
Yama tertawa terbahak-bahak pada kesusahan anak kecil dalam tangannya. Pada akhirnya mereka berdua bergulat dan berguling-guling di atas rumput.
"Ssss kenapa aku merasa gigiku sakit melihat tingkah laku mereka?." Dari balik tembok lorong Twice mengusap pipinya dengan ragu.
"Hmm, aku pikir mereka cocok. Tidakkah mereka terlihat harmonis?." Toga yang berada di bawahnya tersenyum manis saat menopang wajahnya dengan kedua tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesasar (MHA)
FanfictionSeorang dari dunia nyata masuk ke dalam serial anime boku no hero academia. Wat de hel?! terdengar klise tapi begitulah kejadiannya. Terbangun dalam tubuh seorang anak kecil di dunia yang penuh dengan hero membuatnya terdiam. Hanya satu kata yang...
