Chapter 37

2.7K 462 35
                                        

"Seperti apa pria itu membawa Rin pergi. Dan ke arah mana dia pergi?." Suara Nagato masih tenang saat menanyakan itu. Seperti tidak terpengaruh dengan nada panik Saku.

"Pria, agak tinggi. Aku tidak tahu perkiraan umur, yang pasti pria dewasa. Berambut hitam, menggunakan kaos hijau dengan jaket tipis berwarna abu-abu, celana hitam. Dan yang paling mencolok ada tahi lalat kecil di sudut kanan bawah bibirnya." Saku menjelaskan.

Nagato mengangguk. "Ke arah mana?."

"Kesana, aku tunjukan." Saku menggandeng tangan Nagato kemudian terdiam.

"... Saku?." Nagato bertanya dengan ragu karena Saku masih belum bergerak.

Tiba-tiba saja tubuh Saku runtuh. Nagato terkejut sejenak dan segera memegang Saku supaya tidak menghantam tanah. Kemudian secara perlahan Nagato membaringkan Saku di tanah.

Tobi yang sejak tadi diam karena takut mengganggu Saku menjelaskan jelas kaget dengan keadaan Saku. Dengan panik dia ikut berjongkok di samping Saku yang terbaring.

"S-saku!, apa yang terjadi padamu!. Jangan membuatku takut!." Tobi menggenggam kepalan tangannya erat-erat tidak tahu harus berbuat apa. Rin menghilang, dan sekarang keadaan Saku tiba-tiba seperti ini. Situasi seperti ini bukanlah yang biasanya bisa dihadapi anak-anak.

"Tobi,"

Tobi menoleh pada panggilan itu. Dia bisa melihat Nagato yang masih bersikap tenang.

"Jangan menangis, semua ini tidak akan berakhir hanya karena air mata."

Mata Tobi memang mulai berkaca-kaca. Meski begitu dia mendengar kata-kata Nagato dengan jelas. Sejak awal dia memang anak yang cengeng, karena itu tidak ada yang mau berteman dengannya. Tapi Rin dan Saku mau mendekatinya. Begitu pula dengan Nagato.

Tobi mengusap matanya dengan kasar. "Aku tidak menangis, aku hanya bingung." Nadanya agak sengau.

"Bagus, jangan menangis. Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak tahu mengapa Saku menjadi seperti ini. Kau yang lebih mengenalnya, karena itu aku mau kau membawa Saku kembali dan mencari Nii-san yang datang bersamaku. Dia memiliki rambut hijau berantakan. Temukan dia, dia pasti bisa membantu menemukan Rin. Sekarang pergi." Nagato membantu membuat Tobi bisa membawa Saku.

Sikap tenang Nagato secara tidak sengaja juga membuat Tobi tidak panik.

"B-bagaimana denganmu Nagato?." Tobi masih melihat Nagato yang tenang.

"Aku akan pergi mencari Rin lebih dulu. Kau cari bantuan." Nagato mengatakan itu saat matanya melihat arah yang akan dituju Saku tadi.

"A-apa itu tidak apa-apa?. Bagaimana jika lebih baik memanggil hero?." Tobi berpikir jika Nagato juga hanya anak kecil sepertinya. Maka dari itu dia sempat khawatir jika akan terjadi sesuatu pada teman barunya ini.

"Itu akan terlalu lama. Rin mungkin akan semakin jauh. Aku pergi dulu, kau segera temukan orang yang aku maksud. Minta dia untuk segera menemukanku." Nagato berlari setelah mengatakan itu.

"Hati-hati!, Nagato!." Tobi berteriak. Tidak sadar jika Saku yang dibopongnya sudah sadar. Saku telah membuka matanya. Manik merah darah mengikuti Nagato yang berlari menjauh.

Tapi di dalam tatapan merah itu terlihat agak kusam. "... Nagato, itu..., apa?." Saku bergumam kemudian matanya tertutup lagi.

....

Distrik perumahan kelas menengah. Jalan yang sempat ditunjuk Saku menuju tempat ini.

Gedung Apartment susun yang saling berdekatan. Karena itu ada banyak jalan kecil diantara bangunan-bangunan itu.

Kesasar (MHA)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang