Murid-murid UA memulai pelatihannya dalam rangka untuk mempersiapkan festival olahraga. Aula pelatihan, replika kota-kota kecil, tempat pelatihan hutan, semuanya terbuka dari pagi sampai malam.
Pada periode dua minggu sebelum festival dilaksanakan. Murid-murid tidak diwajibkan untuk mengikuti pelajaran. Aizawa-sensei menyatakan periode itu sebagai waktu pelajaran mandiri. Jadi banyak murid yang lebih memilih berlatih dengan quirknya dari pada menghadiri kelas.
Karena itu dua hari ini Nagato merasa bosan. Dia hanya menemani Aizawa-sensei duduk di kantor mengurusi pekerjaannya.
Sepertinya para guru yang lain juga memanfaatkan waktu ini sebagai waktu untuk santai dan istirahat. Sering kali akan ada guru yang pergi menonton para murid berlatih dan kadang memberikan beberapa nasihat. Tapi hal itu hanya menghabiskan waktu yang singkat, selebihnya waktu mereka dihabiskan bersantai di kantor.
Nagato melirik para guru UA yang sedang santai dan terlihat kurang kerjaan. Diantara mereka satu-satunya yang terlihat masih sibuk hanyalah Aizawa-sensei. Bahkan Nagato melihat sekilas Present Mic bermain pena dengan mulutnya.
Seolah menyadari tatapan Nagato, pria nyentrik itu melihat Nagato.
"Hei nak, namamu Nagato bukan?. Aku dengar kau pernah jadi pengamen sebelumnya, berarti kau juga bisa bermain alat musik?." Present Mic bertanya dengan nada khasnya.
"Ya, aku suka gitar." Beberapa guru melirik Nagato sekilas setelah mendengar jawabannya. Mungkin mereka terkejut mendengar Nagato mau menjawab pertanyaan Present Mic, itu karena biasanya Nagato mengabaikan guru lain yang mencoba bertanya padanya.
Yah, Nagato tidak berbicara pada orang asing ingat?. Jadi pada dasarnya Nagato mengabaikan orang yang bertanya padanya jika Nagato belum merasa kenal pada orang itu.
Nagato mau menjawab pertanyaan Present Mic karena merasa jika dia sudah cukup mengenal pria itu dengan baik.
Merasakan persetujuan, Present Mic meneruskan pembicaraannya. "Begitu?, Apa tanganmu cukup panjang untuk bermain gitar?."
Terdengar beberapa guru menahan nafas. Bahkan All Might menatap dua orang itu dengan gugup. Itu bukan pertanyaan yang tepat untuk meneruskan percakapan, itu terdengar lebih seperti sindiran. Hah, memang kadang mulut Present Mic sulit untuk diandalkan.
Aizawa-sensei bahkan melotot pada pria di sebelahnya. Tapi Present balik menatap Aizawa-sensei dengan tatapan tanya.
"Tidak, aku punya tangan dan jari yang cukup panjang." Tidak merasakan suasana stagnan Nagato menjawab dengan alami.
Beberapa guru bernafas normal kembali setelah mendengar jawabannya.
"Benarkah?, bisa kau tunjukkan padaku sebuah lagu barang kali?. Hitung-hitung juga untuk menghibur guru lainnya, mereka terlihat bosan." Present Mic tersenyum.
"Mn, itu jika kau mau nak. Aku dulu juga pernah melihat penampilanmu, kau pemain gitar yang hebat." All Might menambah dari kursinya.
"Ya itu boleh jika kau tak menolak Nagato."
"Ya tentu jika tidak keberatan."
Guru-guru lain juga setuju. Sepertinya mereka menyimak percakapan Nagato dari tadi. Bahkan Aizawa-sensei juga tak terlihat menolak.
"Tentu, tapi aku perlu gitar."
"Ya tunggu sebentar, aku menyimpan gitar di ruang istirahat. Biasanya aku tidak memainkan lagu karena tidak ada yang kuat dengan suara emasku." Present Mic pergi dengan semangat.
"Ini dia. Bisa kau berikan lagu yang bersemangat?, aku rasa banyak yang mengantuk siang ini." Present Mic kembali dengan gitar akustik dan memberikannya pada Nagato.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesasar (MHA)
FanficSeorang dari dunia nyata masuk ke dalam serial anime boku no hero academia. Wat de hel?! terdengar klise tapi begitulah kejadiannya. Terbangun dalam tubuh seorang anak kecil di dunia yang penuh dengan hero membuatnya terdiam. Hanya satu kata yang...
