#typo bertebaran
**
Tidak ada yang lebih dia benci selain langit-langit putih terang seakan cahaya tidak pernah padam di dalam sana. Begitu terang dan menyilaukan, sama sekali tidak memberi matanya waktu untuk beristirahat.
Tapi yang lebih mengerikan dari fakta langit putih itu adalah orang-orang yang berlalu lalang di dalam sana. Terkadang, dia akan mendengar isakan kecil dari balik pintu yang berbeda. Entah itu siang atau malam Nagato tidak bisa membedakannya lagi.
Bahkan sampai pada titik dia akan menganggap isakan pelan seseorang di sebelah sebagai tanda malam hari dan tangisan keras yang membangunnya tiba-tiba sebagai pagi hari.
Nagato tidak pernah tahu siapa yang tinggal di ruangan sebelah nya dan mengapa orang itu bereaksi begitu keras. Apa para peneliti itu melakukan sesuatu yang berbeda kepadanya?.
Dia melihat ke pinggir ruangan dimana dia peneliti tengah berbisik-bisik. Tak lama kemudian salah satunya mendekati Nagato dan menyuntikkan sesuatu padanya.
Di tempat itu, Nagato sudah biasa di perlakukan seperti itu. Tanpa kata mereka akan memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya. Perlawanan tidak ada gunanya disini.
Pria itu merendahkan matanya menatap Nagato dengan seksama. Mereka sering melakukan pengamatan semacam ini. Awalnya tatapan mereka akan membuat Nagato gemetar tapi sekarang, selama mereka tidak memegang pisau di tangan mereka dengan tatapan itu Nagato akan mengabaikan mereka.
Tiga puluh detik berikutnya, Nagato merasa agak gelisah.
Bukan karena pria itu dan rekannya yang terus menatap nya. Tapi tanpa sebab jantungnya berdetak sangat cepat, semakin lama semakin cepat hingga mungkin mencapai tiga kali lipat dari biasanya. Nafasnya memburu, tapi pendek dan cepat. Seluruh tubuhnya terasa panas menyakitkan. Seakan dia tengah berlari dengan anjing lapar di belakangnya.
Dia menatap dua orang yang berdiri diam sejak tadi bergantian dengan gelisah. Jantung yang memompa terlalu cepat membuat dadanya sakit secara signifikan. Nagato merasa jantungnya akan meledak tak lama kemudian.
Apa kedua orang itu telah memberikan suntik mati padanya kali ini?. Atau hal ini di sebabkan oleh sesuatu yang di berikan padanya dua hari yang lalu?.
Nagato ingin meringkuk karena kesakitan. Tapi bangsal tempat tidur itu mengekangnya hingga tak bisa bergerak tanpa rasa kasihan. Semua gerakan perlawanannya yang putus asa terlihat sia-sia di atas bangsal itu.
Kedua peneliti masih menatap tak bergerak meskipun Nagato menunjukkan perlawanan besar. Sepertinya mereka telah mengharapkan reaksi ini.
Tubuhnya sakit dan dadanya terasa lebih menyakitkan. Pikirannya mulai terasa lamban di tengah semua itu. Kemudian puncak dari semuanya tiba. Bagian dalam dirinya, mulai dari di dalam otak hingga ujung kaki terasa panas terbakar yang menyakitkan.
Nagato tak kuasa merintih kesakitan. Di bawah tatapan dingin dua peneliti itu yang tiba-tiba berubah, salah satu pupilnya bermutasi dengan aneh.
"Berhasil! Subjek 462 membangkitkan mutasi!."
Kedua pria itu kegirangan di tengah penderitaan nya. Mereka mencatat banyak hal dengan tergesa-gesa. Beberapa detik kemudian Nagato kejang.
Jantungnya bekerja melebihi kapasitasnya hingga hampir lima kali lipat yang akan mengakibatkan gagal jantung tak lama lagi.
Di tengah pikirannya yang lamban Nagato berpikir, jadi inilah akhirnya?. Segaris air mata mengalir turun diam-diam. Kemudian dia kehilangan kesadaran di tengah keributan yang di buat oleh dua
peneliti itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesasar (MHA)
FanfictionSeorang dari dunia nyata masuk ke dalam serial anime boku no hero academia. Wat de hel?! terdengar klise tapi begitulah kejadiannya. Terbangun dalam tubuh seorang anak kecil di dunia yang penuh dengan hero membuatnya terdiam. Hanya satu kata yang...
