Jisoo mengalihkan tatapannya kepada Jennie. Lalu ia hanya membalas pertanyaan kekasihnya tadi dengan seulas senyum, disusul anggukan kecil. Namun, tanpa kentara, pandangannya kembali menyusuri pesan itu sekali lagi.
Ibu jarinya terhenti di atas layar. Sementara itu, suara Jennie masih berlanjut, menuturkan rencana mereka untuk akhir pekan nanti, yang mulai terdengar samar dari seberang meja. Ia bahkan tidak benar-benar mendengarkan. Perhatiannya kini tertambat pada dua kalimat pendek dari Irene.
Aku menunggumu malam ini. Jangan lupa.
Kali ini jangan datang hanya sebagai teman.
Jisoo buru-buru mematikan layar dan meletakkan ponselnya dalam posisi telungkup.
"Ada apa lagi?" Jennie yang tak sengaja memperhatikan raut wajah Jisoo akhirnya bertanya kembali. "Kau terlihat seperti baru membaca sesuatu yang tidak menyenangkan."
Jisoo mengangkat wajah, lalu tersenyum tipis seolah tidak terjadi apa-apa. "Bukan apa-apa. Itu hanya pesan dari kantor. Sepertinya ada perubahan jadwal."
Jennie mengangguk pelan, meski sorot matanya belum beranjak dari wajah Jisoo. "Kau memang sedang sibuk, ya?"
"Sedikit."
"Kalau begitu, kita tidak perlu pergi akhir pekan ini."
Jisoo langsung menggeleng. "Tidak. Aku sudah berjanji."
"Aku tidak akan marah jika kau membatalkannya karena pekerjaan."
"Aku tahu kau akan mengatakan itu."
"Jadi?"
Jisoo meraih gelasnya, meneguk air minumnya sebelum menjawab, "Aku tetap akan pergi bersamamu. Pekerjaan bisa diatur."
Jennie tersenyum kecil. "Kau yakin?"
"Yakin."
"Jangan bilang begitu hanya karena tidak ingin membuatku kecewa."
Jisoo meletakkan gelasnya kembali. "Jennie, jika aku memang tidak ingin pergi, aku akan mengatakannya. Aku tidak sedang melakukan sesuatu yang terpaksa."
Ada jeda singkat.
Jennie mengamatinya beberapa detik, kemudian mengangguk. "Baik. Aku percaya."
Lagi-lagi kalimat itu.
Aku percaya.
Jisoo mengalihkan pandangan.
Ia tidak tahu sejak kapan dua kata tersebut mulai terdengar seperti tuduhan.
"Oh ya, aku ingin menunjukkan sesuatu," kata Jennie kemudian, tiba-tiba bangkit dari kursinya. Ia berjalan menuju sofa di ruang tengah dan mengambil sebuah amplop putih yang sejak tadi tergeletak di sana, lalu kembali sambil menyembunyikannya di belakang punggung. "Tapi kau tidak boleh menertawakanku."
Jisoo mengikutinya dengan pandangan. "Kalau kau sudah mengatakan begitu, kemungkinan besar aku memang akan tertawa."
"Jisoo."
"Baik, baik." Ia mengangkat kedua tangan, menahan senyum. "Aku tidak akan tertawa."
Jennie menarik kursinya kembali dan duduk, lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang telah dilipat rapi dari dalam amplop.
"Aku sudah menyiapkannya."
Jisoo mengernyit. "Apa ini?"
"Rencana perjalanan."
"Untuk?"
"Perjalanan kita akhir pekan nanti."
Jisoo mengambil lembar paling atas. Beberapa nama tempat, waktu keberangkatan, hingga reservasi penginapan tercatat di sana. Alisnya terangkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡
Fanfiction[Jensoo's collection of short story lines] Indonesian language. Title List :
