3. An Unfaithful Heart -End.

133 39 2
                                        

"Ada apa?" tanya Jennie. "Kau membuatku takut."

Jisoo segera mengalihkan pandangan ke lampu lalu lintas yang masih menyala hijau. Beberapa kendaraan di belakang mulai membunyikan klakson, memaksanya kembali menginjak pedal gas dan membawa mobil menepi dibeberapa meter kemudian.

Ia mematikan mesin.

"Jisoo?"

"Aku harus memastikan sesuatu."

"Apa?"

Jisoo menatap layar ponselnya lagi. Pesan di grup kantor itu masih terbuka, tidak bertambah apa pun sejak kabar pertama dikirim. Ia mengetik pesan pribadi kepada salah seorang rekan yang berada dalam grup.

"Ada rekan kerja yang mengalami kecelakaan," beritahunya.

Wajah Jennie berubah. "Siapa?"

"Beberapa rekan." Jisoo menelan ludah, kemudian menambahkan, "termasuk Irene."

Jennie terdiam, tetapi reaksinya bukan seperti seseorang yang sedang mencurigai sesuatu ketika nama terakhir yang sudah tidak asing baginya disebut. Ia hanya terlihat terkejut.

"Dia?"

"Ya, katanya begitu."

"Keadaannya bagaimana?"

"Mereka belum memberi tahu."

Jennie mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Jisoo. "Kalau begitu, tunggu kabar dulu. Jangan langsung berpikir yang macam-macam."

Jisoo hanya mampu menganggukkan kepala.

"Kau ingin menelepon seseorang?"

"Sudah. Tapi belum ada yang mengangkat."

Jennie memandangnya beberapa saat. "Kalau begitu, kita tunggu sebentar. Setelah itu kita lanjut saja jika sudah ada kabar."

Jisoo mengangguk, meski pikirannya sudah tidak benar-benar berada di dalam mobil itu.

Ia mencoba menghubungi Irene.

Panggilan pertama tidak tersambung.

Panggilan kedua berakhir tanpa jawaban.

Panggilan ketiga bahkan tidak sempat berdering lama sebelum terputus.

Jisoo menatap layar dengan rahang mengeras.

"Belum ada jawaban?" tanya Jennie.

Jisoo menggeleng.

"Sudahlah." Jennie meremas lengannya sebentar sebelum menarik tangan kembali. "Kita tidak bisa melakukan apa-apa dari sini. Kita sudah sampai sejauh ini. Kalau kau terus memikirkan itu, perjalanan kita malah tidak akan jadi apa-apa."

Jisoo tahu Jennie benar.

Karena itulah ia merasa semakin bersalah.

"Maaf."

Jennie mengerutkan kening. "Untuk apa?"

"Seharusnya aku tidak membawa urusan kantor ke sini."

"Kau tidak membawa apa-apa. Berita itu datang sendiri."

Jennie tersenyum kecil, berusaha membuat keadaan terasa lebih ringan. "Ayo. Kau tadi bilang aku yang harus menyetir kalau kau mengantuk, ingat?"

"Aku tidak mengantuk."

"Yasudah. Berarti kita bisa lanjut."

Jisoo mengangguk, lalu kembali menyalakan mesin.

Tetapi setelah itu, perjalanan mereka tidak pernah benar-benar kembali seperti sebelumnya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 19 hours ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

♡𝐉𝐞𝐧𝐒𝐨𝐨 𝐬𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐬𝐭𝐨𝐫𝐲 𝐜𝐨𝐥𝐥𝐞𝐜𝐭𝐢𝐨𝐧♡Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang