Roda pesawat menyentuh landasan dengan lembut. Sementara Bulan ngerebahin kepala di bahu gue. Dalam suara lirih dia berkata, "Setahun ini, kamu cuma buat aku aja, kan?"
Ini pertanyaan sulit. "Aku ngga bisa janji."
Dia menegakkan kepala, matanya menatap dengan memelas. "Kenapa?"
"Kamu juga ngga bisa ngelepasin cewekmu."
Bibir Bulan tertekuk ke bawah. Dia ngga bisa bantah.
"Ayo turun." Gue sodorin tangan, ngasih kesempatan dia buat nempel lagi kaya lem Korea.
***
Sepanjang jalan ngga ada kata-kata dipertukarkan. Bulan senderan aja di pundak gue.
Mungkin bener, diam kadang adalah cara berkomunikasi. Lewat genggaman tangannya, melalui embusan napasnya, gue ngerasain kesedihan yang mendalam. Bisa jadi bener dia emang ga mau kehilangan.
Lalu apa? Itu cuma rasa kepemilikan yang egois, seperti perasaan kepemilikan pada boneka-boneka di kamarnya. Tapi gue bukan boneka.
Nyampe di apartemen, pintunya ga bisa dibuka. "Dikunci dari dalem," katanya natap gue dalam ekspresi yang sukar dilukiskan.
Harusnya gue bisa paham, Bulan pasti tinggal bareng banci kaleng di sini. Mereka sama-sama perempuan, ga akan ada yang curiga.
Suara kunci diputar mengaktifkan saraf kewaspadaan. Saat itulah Bulan mulai menjaga jarak. Lem Korea yang tumpah sejak dari Jakarta, sekarang udah kehilangan kekuatannya.
Wajah banci kaleng yang bonyok penuh memar jadi pemandangan pertama begitu pintu kebuka. "Beb!" Matanya membulat senang. "Kirain kamu ga jadi ke sini," sambutannya semringah pake banget. Bikin darah mendidih sampe ubun-ubun.
"Aku telponin dari tadi. WA-ku juga ga dibaca. Ke mana aja kamu?"
"Sorry, ga sempet buka hape." Trus Bulan masuk gitu aja, ngelewatin banci kaleng.
Gue mau ikut masuk, tapi badan si banci ngalangin. "Ngapain lo ke sini?"
"Ini apartemen istri gue. Harusnya gue yang nanya, ngapain lo di sini?" Tubruk aja badannya yang cuma tigaperempat bodi gue. Langsung rebahan di sofa setelah naro ransel di lantai. Cape to the max.
"Tiduran di kamar, yuk?" ajak Bulan santai.
Hoho, jelas gue ga bakal bantah.
Apartemen ini punya dua kamar. Satu di sayap kanan, satu lagi di sebelah kiri. Gue dikasih kamar yang sebelah kiri. Di dalamnya udah ada satu tempat tidur, dan satu lemari. Kalo ngitungin standar anak kos, berarti minus meja belajar.
Waktu pintu kamar dibuka tadi, aroma apek dari jamur langsung masuk ke hidung. Bulan ngebuka plastik penutup tempat tidur pelan-pelan. Trus ngeluarin seprei dari lemari dan memasangnya dengan cekatan.
"Sorry, meja belajarnya dipake sama Adrian, jadi ditaro di kamar sebelah. Nanti kita beli lagi satu buat kamu, kalo emang dibutuhin," Bulan berbasa-basi dikit sambil masang sarung bantal.
Gue ambil sarung guling supaya ga keliatan bengong doang nungguin dia ngeberesin tempat tidur.
"Yap! Beres!" Bulan berkacak pinggang, ngeliat hasil karyanya.
Gue duduk di tepi tempat tidur yang empuk. Kayanya sejak pertama kali ada, kasur ini belom pernah dipake. "Kamu biasanya tidur di mana?"
"Di kamar sebelah."
"Sama cewekmu?"
Dia ketawa kecil. Nyesel udah nanya. Ya, iyalah, di mana lagi banci kaleng tidur kalo bukan sama ceweknya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Istriku, Bulan
RomanceWARNING 18+ Cerita ini pertama kali diterbitkan November 2019 dan tamat tahun 2020. Pada tahun 2021, Istriku, Bulan diplagiat dan saya menarik penerbitannya di wattpad. Cerita ini memang tidak diniatkan untuk dikomersilkan. Saya ingin agar maki...